Prof. Sarlito; Minta Psikolog Klinis Harus Ke Lapangan

Prof. Sarlito; Minta Psikolog Klinis Harus Ke Lapangan

Beranda Ahmad Dahlan, Jakarta, Kabarindo- Banyak hal yang menarik dan hari pertama dari Clinical Intervention Workshop XVI.

Diawali dengan Prof. Sarlito Wirawan menegaskan pola pendekatan peer atau menjadi temannya dari sang korban apalagi anak-anak adalah cara jitu pendampingan kasus kekerasan dan kejahatan seksual.

"Mereka rata-rata takut dengan orang dewasa karena takut dihakimi. Psikologi Klinis sudah melangkah menjadi Psikologi Communcity jadi Psikiaternya atau psikolog sudah harus bisa ke lapangan membantu penanganan korban dengan trauma healing atau lainnya," papar Prof Sarlito Guru Besar UI yang dalam keseharian menjabat sebagai Dekat Fakultas Psikologi YAI kerap disapa mas Ito.

Ditambahkan dalam kasus Emon dalam konsep psikologi klinis yaitu Substitution dan affection bahwa anak menjadikan Emon sebagai pengganti ayah dan ibunya dan ia mendapat kasih sayang dari Emon alias Ahmad Sobari.

"Kasih sayang keluarga itu menjadi hal yang penting dan utama bagi pengasuhan tumbuh kembang anak. Di banyak kasus anak pilar keluarga mereka runtuh. Anak-anak harus mendapatkan belaian kasih sayang kedua orang tuanya. Pada kasus bocah RD (12 thn) di Jakarta Utara yang terpapar pornografi dari gadget orang tuanya harus dicermati sebagai hal yang serius apalagi adegan intercourse (ML) orang tua yang disaksikan oleh anak berdampak tidak baik sehingga harus di dalam kamar. Di luar negeri dan film-film kita lihat semua pintu diketok dulu baru pintu dibukakan jadi ada private dan harus terpisah dari anak-anak," papar mas Ito lugas.

Sementara itu workshop dihadiri oleh banyak psikolog dan psikiater dari beragam Universitas top ibukota seperti UI, Atmajaya, YAI, Uhamkan, Mercubuana dan lainya juga berasal dari kota Makassar, Mataram dan Bandung. Mereka semua siap menjadi relawan dan pasukan untuk membantu korban kekerasan seksual anak.

berlanjut pada kasus berikutnya di sesi ke -II, Kasandra Putranto melihat faktor yang dominan masih berkutat pada minimnya ancaman hukuman relatif ringan minimal tiga tahun maksimal 15 tahun, proses penegakan hukum rumit dan berbelit serta penanganan yang tidak manusiawi, biaya dan pengorbanan mental tinggi sampai tidak tersedianya intervensi bagi pelaku dan korban.

Tugas Psikolog atau psikiater adalah memeriksa korban dan pelaku."Untuk kasus pondok pinang yang diperkosa oleh tukang siomay sangat miris dari pihak kepolisian tidak memberikan informasi untuk pendampingan bagi para psikolog atau psikiater sehingga hal ini terus diperjuangkan, termasuk etika peliputan pada kasus kekerasan anak untuk para media" paparnya lugas.