Presiden SBY Optimis; APEC Mampu Pulihkan Ekonomi Dunia

Presiden SBY Optimis; APEC Mampu Pulihkan Ekonomi Dunia

Nusa Dua, Bali, Kabarindo- Dengan kekuatan ekonomi 54 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan 44 persen dari perdagangan dunia, APEC dalam posisi ideal membantu pemulihan ekonomi dunia. Karena itu, anggota APEC, baik individu maupun bersama-sama, harus berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Semua ini bisa terjadi jika kita bekerja sama," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat membuka CEO Summit 2013 di Nusa Dua, Bali, Minggu (6/10).

Pada pidato bertopik “Resilient Asia-Pacific – Engine of Global Growth,” Presiden menjelaskan, perkembangan sektor swasta negara-negara APEC cukup bagus, mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan sosial.

Saat ini, pertumbuhan ekonomi negara maju menunjukkan perbaikan. Sedang negara pasar berkembangan, termasuk anggota BRICS yaitu Brasil, Rusia, India, RRT, dan Afrika Selatan, menghadapi turbulensi, sehingga terjadi slow down. Di negara-negara tersebut terjadi defisit neraca perdagangan yang besar, arus modal keluar, dan pelemahan mata uang.

Menghadapi situasi ini, Presiden SBY mengajukan sejumlah saran. Pertama, ia meminta negara anggota APEC untuk menghindari proteksionisme dan melanjutkan liberalisasi. Perdagangan antarnegara anggota tidak saja kuat, melainkan juga seimbang.

Kedua, pentingnya upaya terus-menerus mendorong investasi, menjaga pertumbuhan, dan membuka lapangan kerja. APEC kini menghadapi peluang emas meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan dukungan lonjakan kelas menengah.

Ketiga, pentingnya pembangunan infrastruktur dan peningkatan konektivitas untuk mendorong perdagangan, investasi, dan lapangan kerja baru. Infrastruktur yang baik akan melancarkan transportasi barang dan menekan biaya logistik. Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan konektivitas, hubungan yang yang baik antara sektor pemerintah dan swasta menjadi salah satu solusi.

Keempat, untuk memastikan bahwa pertumbuahan ekonomi berjalan seiring dengan pemerataan, usaha mikro, kecil, dan menengah harus dibangun.

Kelima, negara APEC perlu bekerja sama menjaga stabilitas finansial, meningkatkan perdagangan dan investasi, baik lewat kerjasama bilateral maupun miltilateral. Ini termasuk Regional Financing Agree-ments (RFAs) and Financial Stability Board (FSB).

"Chiang Mai Initiative Multilateralization adalah contoh yang baik kerjasama di antara anggota APEC," ujar Presiden seperti dilansir dari laman beritasatu.

Keenam, memastikan bahwa semua kegiatan pembangunan tidak melupakan perlindungan sosial bagi kaum miskin dan akses pasar bagi seluruh rakyat demi tercapainya kesejahteraan. Ketujuh, masing-masing anggota APEC akan mencapai semua target ini jika semua negara bekerjasama.

Perdagangan APEC meningkat 11 persen sejak 1989 dan mencapai US$ 11 triliun tahun 2011. Pada 25 tahun terakhir, rata-rata tarif turun sekitar 70 persen pada tahun 2011. Biaya bisnis antarnegara turun karena penurunan tarif lima persen dan ini mampu menghemat dana sekitar US$ 59 miliar.