Presiden RI SBY Berpidato Di Ajang WEF-EA 2012; Awesome.....!

Presiden RI SBY Berpidato Di Ajang WEF-EA 2012; Awesome.....!

Jakarta, Kabarindo- Asia Timur tidak hanya dapat menyeimbangkan kembali (rebalance) perekonomian global, tapi ke depan wilayah ini juga akan berpengaruh besar atas perkembangan ekonomi dunia secara keseluruhan.

Dalam sesi CNBC Power Breakfast: Challenges Facing Asian Economies – Balancing Between Spurring Growth and Keeping Inflation beberapa hari yang lalu.

Mendag mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara emerging market yang sangat menarik untuk menjadi tujuan investasi.

Kepada para peserta forum yang terdiri dari para pemimpin dunia, Mendag menguraikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi tahun lalu, lebih dari 6%.

Saat ini, Indonesia juga sudah termasuk dalam ‘1 trillion dollar club,’ yaitu kelompok negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) melampaui nilai USD 1 triliun. Kemudian, rating investasi Indonesia juga meningkat ke level ‘investment grade’ oleh Moody’s dan Fitch Rating.

“Ditambah dengan jumlah populasi yang besar, Indonesia berpotensi untuk dijadikan sebagai basis produksi negara-negara maju,” serunya.

Pada hari yang sama, Mendag juga berada dalam sesi panel sebagai salah satu narasumber bersama Direktur Jenderal World Trade Organization (WTO), Pascal Lamy dalam sesi Opening Plenary: East Asian Models for Transforming the Global Economy.

Mendag Gita mengatakan bahwa fokus perekonomian dunia akan berpindah dari kawasan barat ke kawasan timur, khususnya Asia Timur. “Dengan populasi sekitar 600 juta dan pertumbuhan daya beli konsumen yang cukup tinggi, kawasan ini mampu membuat para investor dunia lebih memilih untuk berinvestasi pada perekonomian di Asia Timur ketimbang negara tradisional,” tambahnya.

Mendag menekankan pentingnya meningkatkan konektivitas di wilayah Asia Timur untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Dalam hal ini, Ia menghimbau agar negara-negara anggota The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) memanfaat Master Plan on ASEAN Connectivity agar terhubung satu sama lain.

Selain itu, Mendag menggarisbawahi perlunya mengantisipasi penurunan harga minyak dunia yang akan mengakibatkan penurunan harga komoditas dunia. “Untuk dapat tetap tumbuh, sebaiknya kita tidak lagi mengandalkan ekspor bahan mentah, melainkan harus mulai mengekspor produk yang bernilai tambah,” tegasnya.

Menurut Mendag, yang tidak kalah penting lagi adalah kerjasama dengan mitra dialog. “Melalui kerjasama inilah, kawasan ASEAN dan Asia Timur dapat mendorong perbaikan ekonomi global dan memberikan kontribusi yang signifikan pada pertumbuhannya,” lanjutnya.

Mendag yang mewakili pemerintah Indonesia dalam sesi tersebut menyatakan kembali komitmennya untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs), khususnya dalam mengurangi tingkat kemiskinan. “Pemerintah Indonesia sedang mendorong pemerataan di bidang pendidikan dan pembangunan. Salah satu contoh nyata adalah penyebaran investasi di luar pulau Jawa, yang pada Q1 2012 telah mencapai 47%,” urai Mendag.

Kemudian, untuk mengurangi kemiskinan, Mendag juga mendukung keterlibatan perempuan dalam pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia karena perempuan Indonesia berjumlah sekitar 125 juta orang atau separuh dari total penduduk Indonesia.