Pesona Singkawang; Dari Kacamata 4 Desainer

Pesona Singkawang; Dari Kacamata 4 Desainer

Harris Hotel Kelapa Gading, Jakarta, Kabarindo- Kota Singkawang sejatinya merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Sambas dan Kabupaten Bengkayang di Kalimantan Barat yang terbentuk pada tahun 2001.

Dihuni oleh tiga etnis utama yakni, Tionghoa, Dayak, dan Melayu, nama Singkawang sendiri awalnya berasal dari masyarakat Tionghoa pendatang jaman dahulu yang menyebut Singkawang dengan sebutan Sang Keuw Jong yang memiliki arti pegunungan, sungai dan muara laut.

Pemberian sebutan atau nama ini tidak terlepas dari letak kota Singkawang yang berada di pesisir pantai dan dikelilingi oleh gunung-gunung.

Kota Singkawang sendiri sejak dulu dikenal sebagai kota transit para pedagang dan penambang emas dari daerah Monterado sekitar abad ke 17 hingga 19. Para pedagang dan penambang yang kebanyakkan berasal dari negeri China. Mereka inilah yang kemudian menjadi nenek moyang masyarakat Singkawang etnis Tionghoa yang saat ini menjadi mayoritas penduduk di Singkawang. Maka tidak heran bila banyak warisan kebudayaan ala negeri tirai bambu yang hingga kini masih dijalankan oleh masyarkat Singkawang, salah satunya adalah momen Cap Go Meh.

Selain itu, ritual Ceng beng atau sembahyang kubur dan Ngabayont yang merupakan ritual adat Dayak Salako setelah panen menjadi sebagian kecil daya tarik wisata di kota Singkawang..

Bertepatan dengan terselenggaranya Jakarta Fashion and Food Festival 2012, Ketua Dekranasda Kota Singkawang mencoba untuk mengembangkan potensi produk UKM unggulan kota Singkawang yang mengkolaborasi unsure multi etnis artistic Tionghoa, Dayak dan Melayu berupa kain batik motif tidayu dan songket tidayu.
Kain batik dan songket ini yang kemudian dijadikan material dasar rancang busana yang ditampilkan oleh empat orang desainer terpilih yang dinilai mampu melukiskan keindahan kota Singkawang.

Dengan mengusung tema “Sensation of Harmony”, Arief selaku desainer pertama menggambarkan sisi kehidupan tiga etnis yang membaur menjadi satu. Desainer yang tergabung dalam APPMI Kalimantan Barat ini mengeluarkan 15 koleksi dengan konsep ready to wear yang kasual tetapi tidak meninggalkan sisi eksklusifitas dan shopisticated dari koleksi-koleksi busananya yang memiliki detil bordir, patch work, dan origami.

Perayaan Cap Go Meh yang melambangkan hari ke-15 dalam perayaan imlek yang ditandai dengan arak-arakan patung menjadi inspirasi Rika Aprianti dalam merancang koleksi busananya. Kesan mistik, magis dari ide diatas dituangkan dalam warna-warna hitam, marun, coklat dan merah. Sementara detil menggunakan unsure etnik seperti koin, metal, bordir-bordir motif etnik dalam gaya bersilluet I, A, O, dan H menjadi penguat kesan mistik yang ingin ia tampilkan dalam “Mystical”.

Clara Niken menjadikan “Disguise” sebagai tema utama rangkaian koleksinya yang terinspirasi oleh gerakan Singkawang yang mempromosikan khazanah budaya khas yang tidak lain merupakan perpaduan etnosentris tiga etnis. Dengan detil payet, batu dan kristal membuat sisi modern menjadikan sisi etnik tampil lebih modern untuk saling melengkapi.

“Sound of Harmony” menjadi refleksi yang dihadirkan oleh David Rusli akan keselarasan dan keterbukaan akan hal baru yang tercermin dari kehidupan masyarakat Singkawang yang menyimpan keunikkan tersendiri. Perpaduan unik motif tiga etnis(Tionghoa, Dayak, dan Melayu) yang diramu menjadi satu kesatuan yang harmonis kedalam songket tidayu memperkuat tema yang diaplikasikan kedalam bentuk busana ready to wear bersilluet A, Y, dan I.

Pemakaian bahan penunjang seperti raw silk dan chifone silk dengan warna merah, hijau, biru, dan emas, yang dilengkapi dengan taburan kristal, payet, dan koin.

 
Unity In Diversity.........................!