Perekonomian Jatim; Catat Pertumbuhan Di Atas Nasional

Perekonomian Jatim; Catat Pertumbuhan Di Atas Nasional

Surabaya, Kabarindo- Di tengah berbagai tekanan global, perekonomian Jawa Timur mampu mencatat pertumbuhan di atas nasional.
 
Hal itu dipaparkan dalam Forum Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Timur (FKEKR) bertajuk “Resiliensi di Tengah Perlambatan Ekonomi” yang telah diadakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur.

Forum yang tersebut dihelat untuk mencermati perkembangan perekonomian Jatim di tengah berbagai tantangan perekonomian global, nasional dan regional. Tujuannya untuk memperoleh masukan-masukan terkait perkembangan ekonomi Jatim dan merumuskan berbagai upaya strategis untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan perekonomian.
 
Forum dihadiri sekitar 41 institusi diantaranya Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) dan instansi vertikal terkait, pimpinan perbankan, akademisi, konsulat jenderal Jepang dan Tiongkok serta BUMN.
 
Dalam rilis yang diterima dari BI Jatim pada Kamis (1/10/2015), Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, mengungkapkan besarnya peran perdagangan antar daerah yang mencatatkan surplus bagi Jatim.

Ia mengatakan, Pemprov Jatim mengembangkan pendekatan guna mendorong peningkatan kredit untuk UMKM, mengingat sumbangan UMKM terhadap PDRB Jatim mencapai 54,98% pada 2014.

Kepala Perwakilan BI Jatim, Benny Siswanto, mengatakan diperlukan upaya untuk meningkatkan kapasitas ekonomi, terutama dengan mengembangkan sektor industri. Hal ini terkait menyusutnya pangsa sektor pertanian dari 42% pada 1976 menjadi 13% pada 2014, sementara pangsa sektor industri pengolahan dan jasa terus meningkat. Namun integrasi sektor pertanian dan industri di Jatim relatif baik jika dibandingkan dengan beberapa provinsi lain.
Benny mengatakan, perdagangan antar wilayah menjadi tumpuan ekonomi Jatim, terutama perdagangan dengan kawasan Timur Indonesia (KTI).

Pertumbuhan KTI yang meningkat dari 6,9% menjadi 9,1% (yoy) diperkirakan semakin memajukan net ekspor perdagangan antar wilayah, terutama untuk komoditas pertanian dan hasil industri.

Perekonomian Jatim juga didukung oleh pembiayaan perbankan. Tercatat, rasio kredit terhadap PDRB Jatim pada 2014 mencapai 31%, lebih tinggi dibandingkan pada 2013 yang mencapai 29%.

Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, pakar agrobisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan perlunya cetak biru pengembangan komoditas pertanian yang komprehensif. Hal ini terkait tantangan-tantangan untuk menumbuhkan sektor agribisnis di Indonesia, antara lain masih rendahnya daya saing, semakin terbatasnya lahan pertanian, kondisi infrastruktur pertanian, perubahan iklim global, kesenjangan antara permintaan dan penawaran, kendala pemasaran dan sistem logistik serta harga output yang fluktuatif.

Forum tersebut telah membuka kesadaran bersama untuk membangun optimisme di tengah perlambatan ekonomi saat ini melalui strategi pembangunan perekonomian Jatim, antara lain dengan mencermati pergeseran struktural, perbaikan partisipasi pelaku ekonomi dan masyarakat, peningkatan peran UMKM, peningkatan dukungan pembiayaan sektor perbankan, khususnya untuk sektor pertanian, serta perbaikan inklusifitas keuangan, terutama di berbagai kabupaten.