Pentingnya Program Budaya Baca; Dalam Pelatihan USAID PRIORITAS

Pentingnya Program Budaya Baca; Dalam Pelatihan USAID PRIORITAS

Surabaya, Kabarindo- USAID PRIORITAS mengadakan pelatihan untuk pelatih tingkat Provinsi Jawa Timur mengenai Praktik yang Baik dalam Manajemen Sekolah di SD dan MI Modul II Kohor 3 yang berlangsung di Malang pada 6-7 Januari 2016.
 
Kegiatan ini diikuti oleh fasilitator daerah dari Kota Batu, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Jombang.
 
Untuk mendukung program pemerintah tentang peningkatan budaya baca, dalam pelatihan tersebut dimasukkan materi Program Budaya Baca karena dianggap penting. Ketrampilan membaca berperan penting untuk kesuksesan pembelajaran di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang membacanya baik atau hobi membaca, biasanya akan mencapai hasil yang baik dalam mata pelajaran. Pengetahuan dan kemampuannya juga akan lebih luas dan terbuka dibandingkan dengan siswa lain yang kurang gemar membaca.
 
Sekolah dapat membantu siswa untuk belajar menyukai buku dengan menerapkan “Program Membaca” dan menciptakan “Budaya Baca.” Meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sekolah dan sudut baca merupakan salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kebiasaan membaca dan keterampilan mencari informasi. Cara lain untuk menciptakan budaya baca adalah membiasakan membaca di rumah, melalui pameran buku di sekolah, membuat lingkungan sekolah yang kaya bacaan dan menjalankan program-program khusus untuk siswa yang lambat membaca.

Silvana Erlina, Koordinator USAID PRIORITAS Jatim, mengatakan ada banyak hal menarik yang diberikan dalam pelatihan tersebut. Salah satunya adalah bagaimana sekolah menciptakan Program Membaca di lingkungan sekolah.
 
Sebagai contoh salah satu mitra USAID PRIORITAS Jatim, SDN Mojokarang, telah menerapkan budaya baca di sekolah dan hasilnya, minat siswa dalam membaca buku meningkat.
 
Membaca Senyap / Uninterrupted Sustained Silent Reading (USSR) merupakan materi yang dikembangkan dalam pelatihan tersebut. Kegiatan ini pada dasarnya adalah memberikan waktu membaca di sekolah kepada siswa dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menikmati kesenangan membaca. Dalam membaca senyap, siswa diberi periode waktu tertentu, misalnya 10 menit atau 30 menit atau lebih (bergantung usia siswa dan kondisi sekolah) untuk menikmati bacaan bermutu tanpa ada interupsi yang mengganggu.
 
Tujuannya untuk melatih perilaku membaca, membangun kebiasaan membaca dengan berkonsentrasi dan membangun kemampuan serta kelancaran membaca melalui kegiatan membaca untuk kesenangan. Program ini dilaksanakan setiap hari di banyak negara seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Singapura, Malaysia dan Brunei.
 
Di Jatim, program budaya baca di SDN Mojokarang diawali dengan membaca buku selama 45 menit setelah senam pagi atau sebelum pelajaran dimulai yang disebut program Time for Reading. Semua siswa wajib melakukannya. Program ini berlangsung pada pagi setiap Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat. Time for Reading memanfaatkan buku-buku di sudut baca masing-masing kelas atau buku bacaan yang dibawa siswa.

“Sebelumnya hanya 15 menit, tapi saya amati anak-anak bergurau dulu dengan teman mereka begitu membuka buku. Waktu untuk membaca jadi berkurang. Maka saya tambah alokasi waktunya,” ujar Watiyah, S.Pd, Kepala SDN Mojokarang.

Saat masuk kelas, siswa kelas 4-6 diminta untuk menceritakan hasil bacaan dalam bentuk rangkuman tentang apa yang dibaca. Laporan siswa akan dipajang di papan jurnal membaca kelas. Keesokan hari, laporan ini akan disimpan guru kelas dalam buku jurnal membaca.

Menurut Dyah Haryati Puspitasari, Whole Schole Development USAID PRIORITAS Jatim, budaya baca di sekolah mitra terbukti mampu meningkatkan minat baca siswa dan sekolah mitra menjadi pelopor Program Budaya Baca di kabupaten masing-masing dalam meningkatkan minat guru, siswa dan orangtua untuk gemar membaca.

“Kegiatan gemar membaca dapat mendukung peningkatan ketrampilan literasi siswa. Melalui pembelajaran literasi, diharapkan para siswa memiliki tingkat pemahaman dan kemampuan berpikir yang tinggi sejak dini sehingga mampu mencerna setiap kegiatan pembelajaran dengan lebih baik,” ujarnya.