Pentingnya Asam Folat; Hindarkan Bayi Dari Spina Bifida

Pentingnya Asam Folat; Hindarkan Bayi Dari Spina Bifida

Surabaya, Kabarindo- Mempunyai bayi yang sehat dan tidak mempunyai kelainan adalah dambaan setiap orang tua.

Namun kesehatan anak tidak hanya ditentukan ketika masa pertumbuhan, tapi sejak dalam kandungan yang akan mempengaruhi kesehatannya kelak.

Dr. Wihasto Suryaningtyas, SpBS., dari Klinik Bedah Saraf Anak RS Husada Utama (RSHU) Surabaya, mengatakan dalam dunia medis, sering dijumpai ketidaksempurnaan bayi ketika baru dilahirkan.

Ketidaksempurnaan yang biasanya terjadi pada bayi adalah Spina Bifida, yaitu kondisi dimana tulang belakang tidak terbentuk dengan benar (cacat tabung saraf) dalam perkembangan janin. Beberapa vertebra (ruas tulang di tulang belakang) tidak menutup untuk membentuk lingkar normal mereka di sekitar sumsum tulang belakang.

Dampaknya tentu sangat menggangu kehidupan si kecil.

Dr. Wihasto menjelaskan, penyebab Spina Bifida yang dikenal di kalangan medis adalah kekurangan asam folat pada trimester pertama kehamilan, yaitu antara 0-14 minggu kehamilan. Masa tersebut adalah masa penting untuk pembentukan organ. Tabung saraf berupa tulang belakang dan tulang kepala beserta isinya (otak dan sumsum tulang belakang) juga terbentuk pada periode ini.

“Untuk terjadinya penutupan yang sempurna diperlukan zat bernama asam folat. Kegagalan penutupan tabung saraf akan tampak sebagai lubang di tabung saraf dengan akar saraf yang tampak dari luar (Spina Bifida Terbuka). Gambaran lain adalah adanya benjolan yang dapat berisi cairan atau lemak. Ini disebut sebagai Spina Bifida Tertutup karena masih ditutupi oleh kulit yang normal,” ujarnya pada Selasa (13/10/2015).

Spina Bifida ini tidak berhenti hanya sebagai benjolan tetapi dapat menyebabkan beberapa kelainan lain, yaitu gangguan kencing dan buang air besar, gangguan bentuk kaki yang terlipat ke dalam dan hidrosefalus. Pada kasus yang lebih berat, Spina Bifida dapat disertai kelainan jantung, kelainan saluran nafas (fistula trachea-esofageal) dan gangguan ginjal.

Khusus untuk Spina Bifida Tertutup, kadang tidak muncul sebagai benjolan tetapi hanya tampak seperti punggung yang normal. Yang membedakan antara punggung yang benar-benar normal dengan yang tampak normal tetapi mempunyai Spina Bifida adalah munculnya stigma kulit atau cacat kulit.
Bentuk kecacatan kulit ini tampak sebagai kemerahan di kulit punggung, warna kehitaman di punggung, tumbuhnya rambut di garis tengah punggung, lekukan di kulit atau lesung kulit, serta tonjolan kulit yang kecil.

Diperlukan pemeriksaan radiologis untuk melihat adanya gangguan sumsum tulang, gangguan akar saraf dan gangguan tulang belakang. MRI adalah pemeriksaan standar untuk kelainan ini. Pada Spina Bifida Terbuka, USG spinal sering kali sudah dapat untuk melihat kelainan saraf atau sumsum tulang belakang. CT scan kepala diperlukan untuk membuktikan ada atau tidaknya hidrosefalus.

“Pembedahan Spina Bifida Terbuka idealnya dilakukan dalam 2×24 jam setelah dilahirkan.

Sedangkan Spina Bifida Tertutup dapat menunggu lebih lama,” ujar dr. Wihasto.