Penjualan Eceran Di Surabaya; Diprediksi Tumbuh

Penjualan Eceran Di Surabaya; Diprediksi Tumbuh

Surabaya, Kabarindo– Bank Indonesia (BI) Jatim mencatat penjualan eceran pada Februari 2016 diprediksi tumbuh meskipun terbatas.

Hal ini ditopang ekspektasi pertumbuhan konsumsi 2016 yang lebih baik dan indikasi menggeliatnya daya beli masyarakat pasca kenaikan UMK yang berimplikasi positif terhadap kenaikan penjualan.

Deputi Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan BI Jatim, Syarifuddin Bassara, mengatakan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Januari 2016 di Surabaya menunjukkan perlambatan Indeks Riil Penjualan Eceran (IRPE) tercatat 2,47% (yoy) atau -1,77% (mtm).

“Meskipun melambat, penjualan pada Januari 2016 tertopang oleh tingginya penjualan pada kelompok barang peralatan dan komunikasi serta dampak positif arus balik liburan akhir tahun pada kelompok bahan bakar,” ujar Syarifuddin Bassara pada Kamis (10/3/2016).

Hasil SPE turut mengindikasikan bahwa tekanan harga pada April 2016 diperkirakan mereda yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang, yang tercatat 151,4 poin lebih rendah 14,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh pergerakan rupiah yang terjaga dan minimnya faktor seasonal.

Indeks ekspektasi penjualan riil tercatat sebesar 0,22% (mtm), sedangkan kelompok barang yang diperkirakan meningkat adalah makanan, minuman, tembakau (0,78%-mtm), perlengkapan rumah tangga (2,41%-mtm), barang budaya dan rekreasi (3,89%-mtm) serta barang lainnya (0,92%-mtm).

Konsumsi masyarakat Surabaya pada awal 2016 sedikit melambat dibandingkan turunnya permintaan pasca berlalunya momen seasonal seperti libur sekolah, Natal dan tahun baru.

Hasil survei konsumen menunjukkan perlambatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2016 menjadi 115,3 poin dari 118,1 poin (Januari 2016). Hal ini didorong oleh melemahnya ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan  terutama adanya kekhawatiran terhadap risiko inflasi dan risiko penurunan omzet usaha yang mempengaruhi tingkat penghasilan masyarakat yang tercermin dari turunnya IEK sebesar -5,8 poin menjadi 119,1 poin.