Pendidik Di Sidrap Dorong Minat Baca Siswa; Minimal Baca 12 Buku Per Bulan

Pendidik Di Sidrap Dorong Minat Baca Siswa; Minimal  Baca 12 Buku Per Bulan

Surabaya, Kabarindo- Para pendidik dan pemerintah di Sidrap, Sulawesi Selatan, terus berupaya meningkatkan minat baca para siswa di daerah ini.

Hal ini diungkapkan dalam acara Kopi Darat Pendidikan tentang Menumbuhkan Budaya Baca dan Meningkatkan Manajemen Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud dengan dukungan ACDP (Analytical and Capacity Development Partnership) di Jakarta baru-baru ini.

Muhammad Basri, Kepala SDN 1 Allakuang, salah satu sekolah mitra USAID PRIORITAS di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, memaparkan pengalamannya menumbuhkan minat baca siswanya. Ia berhasil membuat para siswa membaca rata-rata 12 buku dalam sebulan.

“Kami membuat kegiatan membaca selama 15 menit setiap hari. Siswa boleh memilih buku yang disukai di sudut baca kelas. Bila dalam 15 menit, buku tersebut belum selesai dibaca, maka boleh dibawa pulang,” ujar Basri dalam rilis yang diterima dari USAID PRIORITAS pada Kamis (27/10/2016),

Basri menuturkan, pada setiap Sabtu, sekolahnya juga membuat kegiatan khusus membaca selama 1 jam pelajaran. Siswa diberi kesempatan untuk menulis dan menceritakan hasil bacaannya. Mereka menceritakan secara bergantian di panggung prestasi. Sekolah akan memberikan sertifikat kepada siswa yang dapat menceritakan dengan baik buku yang dibacanya. Pada akhir semester, sekolah menyiapkan piala untuk siswa yang menjadi pembaca buku terbanyak.

“Pada semester lalu, Aisyah siswa kelas V yang memenangkan lomba. Ia membaca 130 buku dalam 6 bulan,” katanya.

Menurut Basri, menyediakan dan memperbarui buku-buku bacaan adalah bagian terpenting untuk menumbuhkan minat baca siswa. Ia membuat beberapa cara untuk menyediakan buku-buku bacaan yang menarik untuk siswa, yaitu membeli buku dengan menggunakan dana BOS, menghubungi alumni untuk menyumbang buku bacaan, memanfaatkan dana alokasi umum (DAK) dari APBD, mendatangkan perpustakaan keliling dua kali dalam sebulan, setiap minggu koleksi buku bacaan di sudut baca kelas saling bertukar dan membuat kerja sama dengan sekolah terdekat untuk saling tukar buku.

”Dengan buku-buku yang selalu diperbarui, ketertarikan siswa untuk membaca jadi meningkat,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidrap, Nur Kana’ah SH MSi, salah seorang narasumber melihat banyak sekolah di Sidrap berhasil mendorong minat membaca siswa. Menurut ia, Pemerintah Kabupaten Sidrap sudah melaksanakan gerakan literasi sekolah (GLS) sejak Oktober 2015 dan membentuk tim GLS di tingkat kabupaten dan kecamatan.

Program budaya baca juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Dandim 1420 yang membantu melalui program motor baca sebanyak 7 unit. Motor baca membantu menyediakan buku-buku bacaan yang menarik di sekolah-sekolah di pelosok yang tidak terjangkau mobil perpustakaan keliling.

Hanna Chaterina George, Ketua Umum Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI), menyoroti pentingnya pemberdayaan pustakawan sekolah. Menurut ia, perpustakaan sekolah tidak akan bisa maju kalau pustakawan tidak memiliki keterampilan.

”Kita harus kreatif membuat anak menjadi senang membaca. Perpustakaan adalah jantungnya sekolah. Karena itu, pustakawan harus memiliki program yang membuat anak bisa enjoy membaca,” ujarnya.

Sementara itu, Sulasmo Sudharno, pendiri Ijakarta, perpustakaan digital pertama berbasis media sosial, menunjukkan pentingnya pemanfaatan perpustakaan digital lebih mudah di akses. Bahkan sekolah bisa membuat perpustakaannya sendiri di Ijakarta.

Ia menjelaskan, Ijakarta merupakan perpustakaan terbuka. Pengunjung bisa meminjam secara gratis, membaca, menulis, mempublikasi dan membuat epustaka sendiri. Siswa juga bisa menulis kemudian menjadikannya buku, lalu diunggah menjadi sebuah perpustakaan sekolah di Ijakarta.

“Kami pernah punya pengalaman dengan sebuah sekolah di Anyer. Mereka mau perpisahan, bikin cerita lalu diunggah. Ternyata ribuan yang membaca. Hal ini bisa dilakukan dengan digital karena murah, tidak perlu biaya cetak dan distribusi. Tinggal diunggah, banyak yang akan membacanya,” kata Sulasmo.