Penderita Diabetes; Butuh Dukungan Emosi

Penderita Diabetes; Butuh Dukungan Emosi

Surabaya, Kabarindo- Diabetes Mellitus (DM) termasuk penyakit kronis.

Ketika seseorang menderita DM, akan banyak aspek dalam hidupnya yang berubah secara drastis seperti adanya pantangan makan, jadwal untuk minum obat serta kemungkinan banyaknya resiko kesehatan lain sebagai dampaknya.

Menurut Indri Putri Waskithasari M.Psi., psikolog di RS Husada Utama (RSHU) Surabaya, perubahan-perubahan tersebut menjadi tekanan tersendiri bagi penderita. Banyak diantara mereka yang kemudian bingung bagaimana menyikapi perubahan tersebut. Akibatnya bermacam-macam, diantaranya timbul perilaku memberontak, tidak mau menuruti aturan diet atau menjadi terganggu secara emosional.

Gangguan yang terjadi secara emosional tersebut bermacam-macam bentuknya. Ada yang merasa mudah lelah, tidak bergairah, mudah tersinggung, malas berkegiatan atau menjadi agresif dan kasar dalam merespon stimulus dari lingkungannya. Hal ini disebabkan perasaan cemas ketika seseorang divonis menderita penyakit diabetes.

“Kecemasan rentan dialami orang dengan penyakit kronis. Kecemasan sendiri berarti perasaan sehari-hari yang disertai kesedihan yang berlebihan secara terus menerus,” ujar Indri pada Minggu (3/5/2015).

Ia memaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan yang digolongkan menjadi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik yaitu usia, pengalaman berobat, konsep diri dan peran. Sedangkan faktor ekstrinsik mencakup diagnosa penyakit, tingkat pendidikan, faktor ekonomi, akses informasi, proses adaptasi, tindakan terapi dan komunikasi terapeutik.

Kecemasan erat kaitannya dengan penerimaan kondisi seseorang ketika divonis menderita diabetes. Ini merupakan faktor yang penting bagi individu dengan penyakit kronis untuk dapat beradaptasi dengan keadaannya. Hanya dengan penerimaan yang baik terhadap kondisinya, ia dapat mulai mengelola pola baru agar menjadi sejahtera.
 
Pengobatan dan pengelolaan diri berperan penting pada penderita penyakit kronis seperti diabetes untuk memperlambat munculnya komplikasi. Proses ini bisa menjadi rumit bagi penderita. Pengelolaan diri melibatkan efikasi diri, dukungan sosial, emosi yang diekspresikan, dan depresi.
 
“Faktor-faktor tersebut mempengaruhi bagaimana seseorang dapat mengelola dirinya agar menjadi adaptif ketika menghadapi situasi yang menekan seperti pengalaman sakit kronis,” ujar Indri.
 
Efikasi diri merupakan keyakinan pasien terhadap kemampuannya untuk dapat mengorganisir dan melakukan tindakan yang mencapai manajemen diri. Dukungan sosial merupakan persepsi pasien terhadap sumber daya manusia di sekelilingnya yang dapat membantunya mengelola penyakit. Emosi yang diekspresikan berarti persepsi pasien terhadap respon emosional anggota keluarga terhadap pasien, sedangkan depresi adalah perubahan negatif dari segi fisik, emosional, kognitif dan motivasional.
 
Emosi yang diekspresikan juga berperan penting bagi penderita. Komunikasi dalam keluarga, cara keluarga menanggapi keluhan pasien dan berkata-kata ketika hendak menanyakan kondisi pasien ikut mempengaruhi optimisme atau keyakinan pasien.
 
Hal ini berarti penerimaan diri pasien terhadap kondisinya, termasuk perasaan optimis, sangat berhubungan dengan cara keluarga memperlakukan penderita. Dukungan keluarga dengan cara memperhatikan kalimat yang digunakan ketika berbicara dengan pasien, atau ketika menanggapi pertanyaan pasien harus mencerminkan kepedulian, empati, kasih sayang, kepercayaan dan perasaan bahwa ia didengarkan.
 
“Dukungan emosi adalah penentraman hati, dorongan dan persetujuan yang diterima dari seseorang atau kelompok, dalam hal ini anggota keluarga. Dukungan emosi menjadi faktor utama dalam mempertahankan semangat seseorang,” ujar Indri.
 
Ia menekankan, dukungan emosi merupakan bentuk dukungan yang paling dasar dan paling besar peranannya bagi penderita penyakit kronis seperti diabetes. Dengan dukungan emosi yang baik, perlahan-lahan penderita akan dapat menerima keadaan dirinya. Hal ini akan mengurangi stres dan membuat pasien tenang dalam menjalani perubahan aktivitas sehari-hari.