Pemerintah Era Baru; Siap Dorong Pengembangan Industri Kelapa Sawit

Pemerintah Era Baru; Siap Dorong Pengembangan Industri Kelapa Sawit

Jakarta, Kabarindo- Pemerintah meresmikan sepuluh pabrik kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Selain itu juga dilakukan groundbreaking Pelabuhan Perindustrian Sawit (PT. Indonesia Plantation Synergy) dan Pabrik Refinery (PT. Indonesia Plantation Synergy).

Adapun 10 pabrik yang, yakni Pabrik Inti Sawit (PT. Indonesia Plantation Synergy), Pabrik Pengolahan Limbah Sawit (PT. Indonesia Plantation Synergy), Pabrik Kelapa Sawit (PT. Cahaya Anugerah Plantation), Pabrik Kelapa Sawit (PT. Khaleda Agro Prima Malindo), Pabrik Kelapa Sawit (PT. Sasana Yudha Bakti), Pabrik Kelapa Sawit (PT. Telen), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PT. Prima Mitrajaya Mandiri), Pembangkit Listrik Tenaga Biomasa Sawit Cakra dan Perdana Biogas (PT. Rea Kaltim Plantation) dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomasa Sawit (PT. Daya Lestari dengan PT. PLB Kab Berau).

Peresmian dilakukan oleh Menteri Koordinator Perekonomian (Menko Perekonomian) Chairul Tanjung, belum lama ini. "Pemerintah mendorong adanya industri hilir kelapa sawit. Pasalnya jika hanya menanam sawit saja, kurang memiliki nilai tambah. Karenanya pemerintah mendorong adanya industri hilir kelapa sawit. Dijadikan CPO sampai minyak goreng. Jadi ada nilai tambah. Ampas sawit pun bisa jadi listrik. Kalau ada nilai tambah kontribusi makin tinggi. Dan rakyat di kaltim, dan kalimantan pada umumnya akan sejahtera," ujar dia.

Dia menambhakan peresmian pabrik tersebut merupakan unsur percepatan perluasan ekonomi di Kalimantan Timur khususnya untuk sektor perkebunan. "Apa yang kita lakukan saat ini tidak terlepas dari tujuan pembangunan nasional. Yang utama untuk mensejahterakan rakyat" pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan saat ini impor minyak bumi dalam negeri mencapai 850.000 barel perhari (bph) sedangkan elpiji 3,6 juta ton. "Kalau dikalikan dengan 1000 dollar perton sudah US$3,6 miliar pertahun, itu hanya untuk migas saja, belum lagi subsidi BBM, impor memang harus diturunkan," tegasnya.

Menurut dia, salah satu upaya untuk menekan impor minyak nasional adalah mengembangkan energi baru terbarukan secara masiv dalam pembangunan nasional.

"Karena dari target pemerintah membangung pembangkit listrik sebesar 125.000 MW, salah satunya adalah pembangkit dari energi baru terbarukan disamping gas, batubara," pungkasnya seperti dilansir dari laman energitoday.