Pemasangan RFID Di Jakarta; Rampung Maret 2014

Pemasangan RFID Di Jakarta; Rampung Maret 2014

Jakarta, Kabarindo- Proyek pemasangan alat pemantau bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang menggunakan Radio Frequency Identification (RFID) di wilayah Jakarta mundur dari target yang ditetapkan.

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) sebelumnya menargetkan pemasangan di 4,5 juta kendaraan di Ibu kota rampung pada akhir tahun 2013.

Manajer Sosialisasi Sistem Monitoring dan Pengendalian BBM (SMPBBM) INTI Andi Nugroho mengatakan, hingga akhir 2013 kemarin tercatat sebanyak 170.000 kendaraan sudah dipasang perangkat RFID. "Target di Jakarta kami perpanjang hingga Maret 2014, karena antusias masyarakat luar biasa," kata Andi di Jakarta, Jumat (03/01).

Andi menegaskan pemasangan RFID di Jakarta hingga Maret ini tidak berpengaruh terhadap target pemasangan RFID seluruh Indonesia yang rampung pada pertengahan tahun nanti. PT Inti memasang perangkat RFID untuk sekitar 100 juta kendaraan bermotor di seluruh Indonesia dengan rincian 80 juta sepeda motor, 11 juta mobil penumpang, enam juta truk, dan tiga juta bus. Selain kendaraan, PT Inti juga melakukan pemasangan RFID di 5.027 SPBU Pertamina seluruh Indonesia. "Kami sudah ajukan jadwal perencanaan selanjutnya ke Pertamina," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya menyebut, pemasangan RFID bukanlah pekerjaan mudah. Sebab, membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk setiap kendaraan terpasang perangkat RFID. "Sebanyak 170.000 kendaraan itu berarti kira-kira diperlukan waktu 1,7 juta man hour. Enggak mudah. Jadi, jangan dipandang ini tugas ringan. Ini tugas berat," jelasnya.

Lebih lanjut Hanung menerangkan, kendaraan yang telah terpasang perangkat RFID bukan berarti bisa menggunakan BBM subsidi. Sistem RFID pun bisa mencegah kendaraan menggunakan BBM subsidi, misalnya pada kendaraan dinas pemerintahan maupun kendaraan operasional Pertamina.

Berdasarkan keputusan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) seluruh kendaraan wajib memasang RFID. "Sistem ini bisa mendata kebutuhan BBM nasional, bisa juga dikoneksikan dengan jumlah pembayaran pajak, bisa untuk konfirmasi simpang siurnya jumlah kebutuhan BBM di tiap kabupaten," kata Andi seperti dilansir dari laman beritasatu.