Pelatihan ICT: Perlu Untuk Buruh Migran Indonesia

Pelatihan ICT: Perlu Untuk Buruh Migran Indonesia

Surabaya, Kabarindo- Pelatihan mengenai ICT (information, communication & Technology) perlu untuk diberikan kepada buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di luar negeri, termasuk di Hongkong.

Pelatihan tersebut bisa menjadi bekal bagi mereka setelah kontrak kerja mereka habis dan pulang ke Indonesia untuk membuka usaha.

Hal ini dikemukakan Direktur Enterprise and Business PT Telekomunikasi Indonesia ( Telkom), Muhammad Awaluddin, saat meluncurkan program SME Indonesia Bisa : Bangkitkan Inovasi dan Semangat Wirausaha di Balai Pengembangan Indutri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Sidoarjo, pada Senin (13/1/2014).

“Pelatihan ICT perlu diberikan kepada buruh migran di luar negeri untuk bekal usaha setelah kontrak kerja mereka habis lalu pulang ke Indonesia. Mereka tentu tak ingin terus menjadi TKI dan ingin punya usaha sendiri,” ujarnya.

Semangat wirausaha juga perlu dibangkitkan pada buruh migran Indonesia di luar negeri agar mereka tak selamanya menjadi TKI. Mereka perlu mendapat bekal untuk memperbaiki kehidupan dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan guna berwirausaha.

“Pelatihan ICT bisa menjadi tambahan bekal selain pengalaman mereka bekerja sekian tahun sebagai TKI di luar negeri. Mereka tentu sudah mengamati bagaimana kondisi di sana. Jadi tahu atmosfir di sana, kebutuhan dan keinginan masyarakat konsumen serta punya jaringan komunitas di sana. Ini bisa menjadi akses dan peluang pasar bagi usaha mereka nantinya,” ujar Awaluddin.

Ia menambahkan, pihaknya bersedia memberikan pelatihan tersebut jika diminta. Selama ini, pelatihan demikian memang belum pernah diberikan kepada buruh migran Indonesia di luar negeri. Yang ada baru program Remittance seperti di Macau.

Menurut Awaluddin, buruh migran Indonesia bisa menjadi wirausaha yang sukses jika memiliki keinginan kuat, bekal dasar termasuk penguasaan ICT dan modal yang diperoleh dari hasil bekerja di luar negeri selama sekian tahun.

“Kalau mereka sungguh – sungguh berusaha, pasti bisa. Mereka bekerja di luar negeri kan untuk memperbaiki nasib. Nah, uang yang dikumpulkan dari hasil bekerja itu bisa digunakan untuk membuka usaha setelah kembali ke Indonesia,” ujarnya.

Selain untuk membangun rumah, menghidupi keluarga atau membiayai sekolah anak – anak yang ditinggal di Indonesia, uang hasil kerja TKI perlu disisihkan untuk modal usaha agar tidak menguap begitu saja.

Jika sepulang ke Indonesia, keadaan mereka tetap sama, berarti sia – sia perjuangan mereka sekian tahun bekerja di luar negeri. Pengalaman dan hasil kerja yang diperoleh harus bisa bermanfaat untuk memperbaiki kehidupan.

“Berwirausaha bisa menjadi jalan untuk meningkatkan taraf hidup,” ujar Awaluddin.