Pasar Eropa; Siap Terima Kayu Legal Indonesia

Pasar Eropa; Siap Terima Kayu Legal Indonesia

Jakarta, Kabarindo- Indonesia dan Uni Eropa (UE) sepakat menjalin kerja sama dalam perdagangan kayu legal.

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kemitraan sukarela (Voluntary Partnership Agreement/VPA) antara kedua negara dalam hal penegakan hukum, tata kelola dan perdagangan di sektor kehutanan (Forest Law Enforcement, Governance and Trade/FLEGT).

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup Lithuania Valentinas Mazuronis, dan Komisioner Eropa Bidang Lingkungan Janez Potocnik kemarin Senin (30/9) di Brussel, Belgia.

Perjanjian ini bertujuan untuk memastikan bahwa ekspor kayu dan produk kayu Indonesia yang telah diverifikasi legalitasnya melalui Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dapat lebih mudah masuk ke pasar UE. Terutama setelah diberlakukannya European Union Timber Regulation (EUTR), yaitu peraturan yang melarang penempatan maupun peredaran produk kayu ilegal di pasar UE, pada 3 Maret 2013 lalu.

SVLK adalah sistem penjaminan legalitas kayu Indonesia dan pertama di dunia yang pelaksanaannya sejalan dengan asas-asas dalam FLEGT. Bagi kayu dan produk kayu Indonesia yang teruji legal menurut sistem ini akan mendapatkan dokumen V-Legal yang kemudian dikenal oleh UE sebagai
FLEGT licence.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi, pada saat FLEGT-VPA dijalankan, maka produk kayu Indonesia yang memiliki dokumen V-Legal/FLEGT licence akan dianggap telah memenuhi ketentuan EUTR tersebut karena UE mengakui SVLK sebagai sebuah sistem yang dapat memastikan legalitas produk kayu di Indonesia. "Jadi ada semacam mutual recognition agreement terhadap masing-masing sistem," terangnya.

Dengan adanya FLEGT-VPA ini, para pelaku usaha UE tidak perlu lagi melakukan proses uji tuntas atau due diligence terhadap produk kayu yang telah memiliki FLEGT licence.

Indonesia adalah negara Asia pertama yang menandatangani FLEGT-VPA dengan UE, dan sejauh ini merupakan negara pengekspor kayu terbesar yang melakukan kesepakatan tersebut.

Penandatanganan ini juga menjadi puncak dari negosiasi yang intensif dan konstruktif selama enam tahun. Negosiasi tersebut tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga pihak swasta dan masyarakat sipil baik dari Indonesia maupun UE.

Selanjutnya, Wamendag menggarisbawahi pentingnya dilakukan penjajakan yang serupa dengan negara-negara maju lainnya seperti Amerika Serikat dan Australia.

"Perjanjian dengan UE ini merupakan terobosan besar dan dapat menjadi modal untuk meyakinkan negara-negara lain agar mereka mau mengakui SVLK Indonesia," ujarnya.

Wamendag juga mengatakan bahwa langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ekspor kayu dan produk kayu Indonesia ke dunia, khususnya UE, tanpa mengabaikan aspek lingkungan.

"Saat ini total ekspor produk kayu Indonesia ke UE mencapai sekitar 10% dari total ekspor produk kayu Indonesia ke
dunia," imbuhnya.

Total ekspor produk kayu Indonesia ke dunia pada tahun 2012 sebesar USD 10.019,56 juta. Nilai tersebut naik dari tahun-tahun sebelumnya dengan tren 4,44% (periode 2008-2012).

Sementara itu, total volume ekspor Indonesia ke dunia juga terus meningkat setiap tahunnya dengan tren 5,74%
pada periode yang sama, dan pada 2012 jumlahnya mencapai 12.304,57 ribu ton.

Khusus ke UE, nilai ekspor kayu dan produk kayu Indonesia pada tahun 2012 sebesar USD 934,86 juta dengan volume 596,28 ribu ton. Nilai dan besaran volume ekspor tersebut adalah yang terendah sejak lima tahun terakhir. Pada tahun 2008, nilai ekspornya sempat mencapai USD 1.384,32 juta
dengan volume 919,37 ribu ton.

Selanjutnya baik nilai dan volume ekspor kayu dan produk kayu Indonesia ke UE terus menurun dengan tren sebesar -8,46% untuk nilai ekspor dan -9,43% untuk volumenya.

Untuk jenis produk kayu yang nilai ekspornya paling tinggi ke UE adalah kayu olahan, yaitu sebesar USD 262,31 juta pada 2012 dengan volume sebanyak 124,74 ribu ton. Di posisi kedua adalah furnitur kayu dengan nilai USD 253,95 juta pada 2012 dan volume 108,51 ribu ton.

Dalam lima tahun terakhir (2008-2012), hampir seluruh jenis kayu dan produk kayu yang diekspor ke UE mengalami penurunan nilai dan volume. Yang mengalami penurunan nilai ekspor paling signifikan dengan tren -16,06 adalah pulp, sedangkan untuk volume adalah kerajinan kayu dengan tren -18,36.

Sementara itu, yang mengalami peningkatan nilai ekspor paling tinggi dengan tren 32,23% dan kenaikan volume terbesar dengan tren 26,77% adalah produk kayu lainnya.
Untuk negara di Eropa yang menjadi tujuan utama ekspor kayu dan produk kayu Indonesia adalah Jerman dengan nilai USD 189,04 juta dan volume 101,40 ribu ton pada 2012.

Selanjutnya urutan kedua hingga ke lima ditempati oleh Inggris, Belanda, Belgia, dan Perancis.

Hampir ke seluruh negara anggota UE, ekspor kayu dan produk kayu Indonesia mengalami penurunan sejak lima tahun terakhir (2008-2012), namun yang terbesar penurunan nilainya yaitu Luksemburg dengan tren -36,68%. Namun nilai ekspor dengan negara tersebut juga yang paling kecil,
yaitu hanya USD 0,02 juta pada 2012.

Untuk negara tujuan ekspor di UE yang mengalami peningkatan nilai dan volume sejak lima tahun belakangan adalah Lithuania. Tren peningkatan nilai ekspornya sebesar 22,26% dimana pada 2012 mencapai sebesar USD 2,54 juta, sedangkan tren kenaikan volume 25,38% dengan jumlah 1,50 ribu ton pada tahun yang sama.