Palais Royal; Persembahan Priyo Oktaviano

Palais Royal; Persembahan Priyo Oktaviano

Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta, Kabarindo- Selama dua pekan gelaran Jakarta Fashion and Food Festival atau JFFF yang berpusat di Sentra Kelapa Gading telah memanjakan seluruh pecinta mode Indonesia, khususnya bagi mereka yang berdomisili di DKI Jakarta dan sekitarnya. 

 

Lebih dari 25 peragaan busana dihelat, termasuk di dalamnya 10 peragaan busana tunggal dari 10 orang desainer kenamaan Indonesia. Tak heran bila setiap harinya ribuan orang datang ke Hotel Harris Kelapa Gading untuk menyaksikan koleksi-koleksi teranyar dari para desainer papan atas Indonesia. 

 

Menggenapi peragaan busana tunggal yang dihadirkan selama JFFF berlangsung, Priyo Oktaviano mengangkat tema “Palais Royal” pada rangkaian koleksi Fall/Winter 2012 teranyarnya. 

 

Terinspirasi dari film Shanghai Tang, Priyo Oktaviano memadukan kebudayaan Cina dan kebudayaan Jawa yang kental akan nuansa tempo dulu. Tak kurang dari 35 set busana yang terdiri atas 27 set busana wanita dan 8 set busana pria disuguhkan Priyo pada peragaan busananya kali ini. 

 

Dibuka dengan aksi tarian tradisional kontemporer, “Palais Royal” tidak hanya menyuguhkan rangkaian koleksi indah nan memukau dari sang desainer lulusan ESMOD Paris ini, ketika kita menyaksikan keseluruhan peragaan busana, kita akan serasa diajak menyaksikan sebuah film yang sangat menarik yang terbagi atas 3 sekuens utama. 

 

Suasana kota Shanghai pada tahun 1920an dihadirkan di sekuens pertama yang mendapuk aktor Ferry Salim sebagai first face. Silluet busana bergaya cheongsam yang selalu identik dengan kerah tingginya, diaplikasikan Priyo menjadi gaun pendek berbelahan tinggi pada bagian bawah serta memiliki lekuk yang pas memeluk tubuh. 

 

Selain itu terdapat pula gaun pendek berbelahan tinggi yang pada bagian atasnya menyerupai kemben dengan pola bertumpuk. Jika pada divisi busana wanita, warna mencolok khas busana bernuansa Cina seperti merah marun dan emas yang dihadirkan, empat set busana pria yang pada sekuens ini hadir dalam warna monokrom hitam-putih. 

 

Nuansa khas Kraton Jawa di masa kolonial menjadi hal yang begitu terasa ketika memasuki sekuens kedua. Busana berwarna hitam terlihat mendominasi pada sekuens ini disamping padupadan warna lain seperti, emas, putih, marun, dan juga kain lurik yang dijadikan pelengkap busana. 

 

Stelan busana mirip beskap, celana longgar, gaun panjang yang pas badan berwarna metalik dan emas, blazer dengan motif kain songket hingga busana bersilluet kebaya kutubaru dihadirkan untuk sesi busana wanita dalam sekuens kedua. Sedangkan untuk busana pria, Priyo menampilkan variasi pada bawahan seperti celana komprang dan harem serta atasan berupa jas, kemeja, dan beskap khas Jawa klasik. 

 

Pada sekuens ketiga yang merupakan sekuens penutup, Priyo Oktaviano mempersembahkan 7 set koleksi yang meleburkan dua budaya yang menjadi inspirasinya, yakni Cina dan Jawa. Gaun panjang one shoulder, gaun panjang bersilluet cheongsam dengan belahan bawah yang tinggi ia hadirkan dalam material dasar kain songket khas Bali yang kaya akan warna-warna emas. 

 

Pada keseluruhan busana yang ia tampilkan, Priyo Oktaviano menggunakan 70 persen kain tenun Bali buatan tangan atau handmade, sementara sisanya ia mengaplikasikan berbagai material lain seperti chiffon, linen, katun dan beludru pada tiap potong koleksi busananya.

 


Menurut Anda............?