Pakai Pacuan Lama; Pemanasan Subhan Aksa

Pakai Pacuan Lama; Pemanasan Subhan Aksa

Medan, Kabarindo- Menyelam sembari minum dan menangkap ikan. Kira-kira seperti itulah keberadaan Subhan Aksa di seri kedua Kejuaraan Nasional Reli Mobil di Medan, 11-13 Oktober. Meski seri lokal, pereli Indonesia yang tampil regular di kancah FIA 2013 World Rally Champioship (WRC)-2 selalu melihat Reli Medan sebagai ajang wajib untuk diarungi.

“Tak pernah mudah main di sini. Peralihan lintasan dari tanah dengan sekali-sekali melintasi rerumputan, sangat berpengaruh pada grip dan handling kendaraan. Butuh skill tersendiri agar prilaku mobil tidak liar dan membahayakan. Tantangan di sini sangat beragam, jika disiram hujan maka sulit dan serunya bukan main,” ujar Ubang  dalam sesi  jumpa pers bersama kontestan lain di Medan, Jumat (11/10).

Reli Medan, kata Ubang yang didampingi navigator Hade Mboi, sangat ideal sebagai ajag latihan sebelum ikuti seri lanjutan WRC-2 di Spanyol, 24-27 Oktober, yang juga berlangsung di lintasan gravel. Kebetulan, ia juga mendapatkan lintasan kering dan basah dalam sesi survey Reli Medan. Bisa jadi sebagian rute reli juga akan berlangsung di intasan basah karena disiram hujan.

“Ini  ajang latihan dan persiapan yang sangat ideal sekaligus menambah jam terbang didalam kokpit mobil reli. Tahun lalu Reli Spanyol juga ada hujan, sangat licin,” tambah andalan tim Firna Bosowa Rally Team (FBRT) yang turun dengan pacuan Mitsubishi Evo IX.

Ia mengaku menikmati  keragaman tipe lintasan Reli Medan yang sangat penting untuk meningkatkan performa pribadi di balik kemudi. Selalu ada hal baru yang bisa ia petik untuk meningkatkan diri. Dan, sebagai pemegang tiga gelar Juara Nasional (2009, 2010, 2012), ia dan navigator Hade Mboi tentu tetap berupaya untuk mempertahankan gelar. Itulah sebab Ubang bilang menyelam sembari minum dan tangkap ikan, karena banyak hal yang ia bisa dapatkan di reli ini.

Ia memang tak pakai pacuan yang biasa digunakan, Evo X. Tapi, Ubang maupun Hade menegaskan tak ada kekhawatiran untuk mengimbangi pereli nasional lainnya yang gunakan pacuan dengan spesifikasi lebih mutakhir.

“Semua sudah kami perhitungkan. Sepanjang sesi survey tadi, semuanya meyakinkan. Kami sudah bikin perkiraan di bagian mana bisa unggul atas mobil lain dan di titik mana perlu meredam kecepatan,” tambah Hade yang  juga pemegang gelar juara nasional navigator nasional.

Ubang sendiri sangat percaya diri dengan pacuannya meski terakhir dipakai reli pada tahun 2010. Kesempatan survey sudah cukup baginya untuk ‘menyatukan’ diri kembali dengan mobil itu.

“Saya sama sekali tak khawatir soal mobil. Fokus kami justru pada kondisi lintasan yang berubah-ubah antara tanah, rumput, dan bebatuan di pinggir lintasan. Sangat penting untuk menentukan titik pengereman paling efektif. Jika kondisinya kering atau basah, maka titiknya juga harus berbeda. Itu akan jadi tantangan tersendiri dan selalu menyenangkan untuk melewati trek seperti itu,” tandasnya.

Awal Reli Medan berlangung Jumat sore dengan ceremonial start. Adu cepat antar peserta berlangsung Sabtu (12/10) dan Minggu (13/10) dalam 9 special stages (SS) dan digelar di daerah Rambong Sialang,Serdang Bedagai di luar Kota Medan.