PPK Sampoerna Expo 2013; Gelar Produk 100 UMKM Binaan

PPK Sampoerna Expo 2013; Gelar Produk 100 UMKM Binaan

Surabaya, Kabarindo- PT HM Sampoerna Tbk. menggelar acara tahunan Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo 2013 di Dyandra Convention Center, Surabaya, pada Jumat – Minggu, 20-22 September.
 
Event ini diikuti 100 UMKM (usaha mikro, kecil & menengah) dari seluruh Indonesia, termasuk UKM terpilih dari Jatim, Jabar, Lombok, Lampung dan Kalimantan Selatan yang bergerak di bidang makanan dan minuman, garmen, agribisnis, kerajinan tangan, mebel, peternakan dan industri lainnya.
 
PPK Sampoerna Expo bertujuan memperkenalkan pencapaian UMKM binaan PPK Sampoerna dalam menjalin interaksi dan sinergi antar pemangku kepentingan terkait pengembangan kewirausahaan (akademisi, pengusaha, pemerintah dan komunitas) serta untuk membangun jarring pemasaran.
 
“Kami beranggapan bahwa lingkungan yang kuat dan mendukung akan berdampak pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Paul Janelle, Presiden Direktur Sampoerna dalam pembukaan expo pada Jumat (20/9).
 
Arga Prihatmoko, Community Development Manager Sampoerna, menambahkan, pihaknya telah memberikan pelatihan kepada 1.000 – 1.500 wirausaha setiap tahun. Diharapkan pelatihan ini dapat mereka manfaatkan sebaik mungkin dan menunjukkan hasil yang diharapkan.
 
PPK Expo 2013 akan memilih dan menganugerahkan Penghargaan PPK Sampoerna 2013 kepada UKM binaan yang paling menonjol dalam mengembangkan rencana bisnis berkelanjutan yang strategis.
 
Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Sampoerna dan Kementerian Pertanian terkait pengembangan potensi UMKM khususnya dalam mengembangkan dan memasarkan produk pertanian melalui dukungan usaha dan kemitraan agribisnis.

Para wirausahawan ini dibantu pada setiap tahapan usaha mereka oleh para ahli di bidang masing-masing. Beberapa usaha tersebut kini sudah menghasilkan omzet bulanan hingga Rp. 100 juta dan mempekerjakan 40 karyawan dari lingkungan sekitar sehingga membantu mengurangi pengangguran.
 
Kaiman, seorang pengusaha jamur tiram, menuturkan upayanya sehingga kini usahanya terbilang maju. Ia dulu seorang sopir bahkan sempat menjadi preman. Setelah bertobat, ia merintis usaha jamur tiram pada 2005. Untuk mengembangkan usaha, ia mengikuti pelatihan. Usahanya telah berkembang pesat dan luas hingga merambah Timor Leste. Omzetnya mencapai Rp. 350 juta per bulan, sepertiganya adalah keuntungan yang diperoleh.
 
“Mulai merintis usaha memang berat. Butuh kerja keras, terus belajar, sabar dan ulet. Ini syarat kalau mau sukses,” ujarnya.