PMI Jateng; Kembangkan Masyarakat Tangguh Banjir

PMI Jateng; Kembangkan Masyarakat Tangguh Banjir

Jateng, Kabarindo- Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societias (IFRC) dan Zurich Insurence mengembangkan program Pembangunan Masyarakat Tangguh Banjir / Community Flood Resilience di Kota Surakarta dan Kabupaten Wonogiri, Jateng serta Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Pelaksanaan program dilaksanakan dengan melatih relawan PMI di wilayah bantaran Sungai Bengawan Solo. “Kemitraan PMI dengan IFRC dan Zurich Insurance di bidang Program Pembangunan Masyarakat Tangguh Banjir ini memiliki sasaran pokok mengembangkan, menguji cobakan dan mengimplementasikan solusi-solusi inovatif, adaptif dan aplikabel ,” terang H. Imam Triyanto, Ketua PMI Jateng saat membuka pelatihan Penyegaran KBBM di Pusdiklat PMI Jateng-Semarang, Rabu (4/3).

Imam menambahkan bahwa program ini fokus pada kajian pengurangan risiko dan pengukuran dampak. “Penekanan secara khusus pada kesiapsiagaan masyarakat, mengurangi kerentanan terhadap risiko dan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mengatasi bencana,” imbuhnya.

Pelatihan yang diikuti 30 orang relawan dari Kota Surakarta, Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur ini, sebagai langkah awal PMI yang akan melakukan pendampingan bersama masyarakat.

“Melalui pelatihan ini, nantinya relawan PMI dapat bekerjasama dengan masyarakat melakukan Penilaian Risiko, Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas,” terang H. Thobari HR, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jateng.

Pengembangan program ini bertujuan untuk meningkatnya ketahanan dan ketangguhan masyarakat, meningkatnya efektifitas solusi pengurangan risiko bencana serta adanya dukungan penuh dari pengambil kebijakan. “Dukungan dan sinergi dengan pemangku kebijakan di wilayah akan sangat membantu mewujudkan ketahanan dan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana,” harap Thobari.

Sebanyak 9 (sembilan) desa/kelurahan yang menjadi konsentrasi program ini, yakni 3 (tiga) kelurahan di Kota Surakarta, 3 (tiga) desa di Kabupaten Wonogiri dan 3 (tiga) desa di Kabupaten Bojonegoro-Jatim. “Wilayah itu merupakan aliran (dari hulu ke hilir) Bengawan Solo yang memiliki potensi banjir,” ujarnya.