Orang Indonesia; Habiskan Rata-Rata Rp 800.000 Untuk Liburan

Orang Indonesia; Habiskan Rata-Rata Rp 800.000 Untuk Liburan

Jakarta, Kabarindo- Sebuah survei mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia mengeluarkan biaya rata-rata sekitar Rp 800.000 per orang dalam sekali perjalanan wisata dalam negeri.

Demikian hasil survei MasterCard Worldwide Index of Consumer Purchasing Priorities – Travel yang dilansir hari Selasa (13/8) dari laman beritasatu.

Sedangkan wisatawan Indonesia yang berlibur ke luar negeri rata-rata harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 13.500.000 per-orang saat sedang berwisata.

Fakta lain tentang wisatawan Indonesia yang diperlihatkan oleh hasil survei ini ialah, dua pertiga dari wisatawan Indonesia yang bepergian dengan pesawat terbang mengaku pernah berbelanja di bandara, dan makanan seperti cokelat menjadi barang yang paling sering dibeli.

Untuk masalah pembayaran saat berwisata, survei ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan jumlah persentase sebesar 87,6 persen masih memilih uang tunai sebagai alat pembayaran utama ketika melakukan transaksi saat berwisata, baik ke dalam negeri maupun luar negeri.

Namun, jugaterdapat 4,6 persen responden yang lebih memilih menggunakan kartu kredit/debit mereka dalam melakukan transaksi selama liburan. Sedangkan 8 persen responden di antaranya, mengaku tidak menggunakan biaya pribadi mereka saat melakukan perjalanan wisata.

“Hasil survei yang dilakukan oleh MasterCard ini menegaskan kembali potensi wisata dalam negeri Indonesia. Lebih lanjut, temuan ini juga dapat dijadikan landasan bagi strategi pengembangan wisata di tanah air untuk tahun-tahun mendatang” ungkap Irni Palar, Country Manager MasterCard Indonesia saat menanggapi hasil survei terbaru MasterCard.

MasterCard Survey on Consumer Purchasing Priorities dirilis dua kali dalam setahun, dan bertujuan untuk menunjukkan prioritas belanja konsumen, termasuk pendidikan, perjalanan, makan dan hiburan, manajemen keuangan dan konsumsi barang mewah di 14 pasar di Asia Pasifik. Survei dan laporan di dalamnya tidak mencerminkan kinerja keuangan MasterCard.