Nyari Sorga Di MNCTV; Kisahkan Perjalanan Tiga Sahabat

Nyari Sorga Di MNCTV; Kisahkan Perjalanan Tiga Sahabat

Surabaya, Kabarindo- Ramadan di layar MNCTV disemarakkan dengan sinetron-sinetron bernuansa Islami yang menarik untuk disaksikan.
 
MD Entertainment menghadirkan sinetron baru berjudul “Nyari Sorga” yang tayang setiap hari mulai Rabu (16/7/2014) pukul 03.00-04.00 WIB. Sinetron ini diperankan oleh Aldy Fairuz, Fico Fachriza, Sonya Fatmala, Anjani Dina dan Leo Arya Putra.
 
“Nyari Sorga” berawal ketika terjadi tabrakan maut antara Fajar (Aldy Fairuz) yang mengendarai motor besarnya dengan ugal-ugalan dan Surya (Fico Fachriza) yang sedang berlari karena menghindari penagih hutang.
 
Tabrakan ini kemudian mengubah hidup mereka masing-masing ketika koma di rumah sakit. Fajar dan Surya bermimpi akan dimasukkan ke neraka oleh malaikat, Fajar yang baru saja mendadak jadi orang kaya karena gusuran, bermimpi dimasukkan ke dalam neraka karena tidak mampu menjaga hartanya sehingga banyak berbuat maksiat. Sedangkan Surya yang baru saja bangkrut dan jatuh miskin bermimpi dimasukkan ke dalam neraka karena tidak mampu menjaga dirinya ketika diuji dengan kemiskinan.
 
Setelah siuman dari koma, keduanya bertemu dan menceritakan mimpi masing-masing. Mereka terkejut karena memiliki mimpi yang sama. Hal ini membuat mereka ketakutan, sehingga sepakat untuk berbuat baik agar bisa masuk ke dalam surga.
 
Keduanya mengawali niat dengan mencari ilmu (nyantri) di pondok milik Kyai Fathur yang mendidik semua santrinya dengan keras. Ia menekankan bahwa surga tidak akan mereka dapatkan hanya dengan mengaji, menimba ilmu di pesantren tanpa mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mereka harus terjun ke masyarakat.
 
Cara Kyai Fathur mengajar di pesantren membuat Fajar dan Surya yang masih awam dengan ajaran Islam menjadi tidak tahan dan tidak betah. Rupanya bukan mereka saja yang merasakan demikian. Hilal (Leo Arya Putra), anak berusia 12 tahun yang sudah lama berada di pondok pesantren, juga merasakan yang sama.
 
Ketiganya lalu bersahabat karib dan memutuskan untuk kabur dari pondok pesantren kemudian berkelana dari satu kampung ke kampung lain, satu kota ke kota lain. Perjalanan mereka yang diwarnai masalah dan halangan tidak membuat mereka menyerah demi mendapatkan surga di kemudian hari jika meninggal nanti.