Mutu Guru; Kunci Tingkatkan Kualitas Sistem Pendidikan

Mutu Guru; Kunci Tingkatkan Kualitas Sistem Pendidikan

Surabaya, Kabarindo- Selain karakteristik anak, mutu pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh kualitas guru.
 
Untuk itu, USAID PRIORITAS/ DBE mengadakan lokakarya “Strategi Perencanaan Diseminasi Program (PKB)” bagi mitranya di Hotel Atria Malang pada 1-2 Juli 2015 yang diikuti 73 peserta dari 10 kabupaten / kota, yaitu Banyuwangi, Situbondo, Lumajang, Lamongan, Pasuruan, Sidoarjo, Pamekasan, Sampang, Bangkalan dan Bojonegoro. Juga ada mitra LPTK yaitu Uinsa, Unesa dan UM.
 
Pada 6-7 Juli nanti, juga diadakan acara serupa dengan melibatkan 9 kabupaten yaitu Tuban, Mojokerto, Nganjuk, Madiun, Ngawi, Blitar, Jombang, Kota Batu dan  Kota Mojokerto.
 
USAID PRIORITAS membantu penerapan PKB melalui perencanaan untuk diseminasi program pelatihan dan pendampingan guru berbasis gugus/rayon dan whole-school development. Tujuan program ini adalah agar seluruh guru (SD, SMP, MI, MTs) mendapat kesempatan untuk PKB melalui diseminasi pelatihan-pendampingan modul-modul PRIORITAS.
 
 “Mutu guru adalah kunci untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan,” ujar Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Timur, Silvana Erlina, dalam rilis yang diterima pada Kamis (2/7/2015).
 
Ia mengatakan, seorang guru berkualitas harus memiliki beberapa kriteria, kompetensi profesional, pemahaman mata pelajaran, kompetensi pedagogik/pembelajaran dan cara belajar-mengajar aktif (PAKEM/CTL). Juga harus memenuhi kompetensi kepribadian,  komitmen tinggi, kompetensi sosial dan cara komunikasi yang baik. Mengenai cara peningkatan mutu guru, umumnya diawali dari proses rekrutmen, pendidikan, sertifikasi, pengembangan profesi, pendampingan dan jalur karir.
 
Namun, menurut Silvana, kendalanya saat ini adalah sebagian besar program pelatihan guru belum direncanakan sesuai kebutuhan berdasarkan informasi/analisis, belum dilakukan secara efisien, belum terkoordinasi antara semua pihak, belum dikelola sesuai ‘good practices’ dalam training dan belum menggunakan prinsip PAKEM/CTL.
 
“Program USAID PRIORITAS mendukung program Kemendikbud & Kemenag melalui pendekatan berbasis gugus-KKG/MGMP dan berbasis sekolah (whole school development),” ujarnya.
 
Sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kualitas guru secara mandiri, terutama setelah guru menerima tunjangan sertifikasi, Kabupaten Sidoarjo mengeluarkan Peraturan Bupati No. 38 Tahun 2013 tentang Pembinaan dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Pendidik dan Tenaga kependidikan. Di dalam Perbup ini disebutkan bahwa pendidik yang telah menerima tunjangan sertifikasi, wajib menyisihkan secara mandiri dana minimal 5% untuk PKB.
 
Menurut Sumiati, Kepala SDN Sedatigede 2 Sidoarjo, kegiatan penyisihan dana sebesar 5% telah dilakukan sejak Perbup tersebut keluar. Para guru di lingkungan sekolah menyisihkan dana 5% per triwulan yang dikumpulkan di Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk dikelola guna peningkatan kapasitas guru.
 
Kegiatan yang sudah dilakukan menggunakan dana tersebut diantaranya pelatihan, pembuatan media pembelajaran, pembelian peralatan IT untuk guru masing-masing dan pembuatan alat peraga untuk siswa.
 
Farida S.Pd, salah satu guru, mengatakan menyisihkan dana 5% tidaklah memberatkan guru. Selama ini dana tersebut tersalurkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi pendidik.
 
“Untuk memetakan kegiatan dan dana tersebut digunakan untuk apa saja, biasanya kami di KKG melakukan rapat dan menentukan jadwal bersama kegiatan apa saja yang dilakukan sekaligus menghitung biaya yang dikeluarkan. Dari sini, kita tahu uang kita digunakan untuk pembiayaan apa saja,” ujarnya.