Monolog Insiden Bendera; Peringati Pertempuran 19 September Di Surabaya

Monolog Insiden Bendera; Peringati Pertempuran 19 September Di Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Memperingati pertempuran di Surabaya pada 19 September 1945, Ketua Yayasan Jiwa Indah Bangsa, dr Ananto Sidohutomo MARS, akan melakukan monolog Insiden Bendera di Hotel Majapahit, Surabaya, pada Jumat (19/9) malam.
 
Peringatan ini merupakan yang kedua kali setelah digelar pada tahun lalu. Monolog akan berlangsung satu jam.
 
Ananto menjelaskan, niat utama menggelar acara ini adalah untuk membangkitkan nilai-nilai kepahlawanan, semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang berprinsip mempertahankan NKRI dan Pancasila.
 
Pertempuran Surabaya terjadi karena Belanda mengibarkan bendera di wilayah kedaulatan RI. Arek-arek Suroboyo tidak terima dan marah, lalu bertempur, menurunkan bendera mereka, merobek warna biru dan mengibarkan Sang Saka Merah-Putih.
 
Saat itu disebut sebagai pertempuran bendera yang selanjutnya dikenal dengan nama pertempuran “Insiden Bendera”. Lokasi pertempuran untuk menaikkan bendera merah putih itu berada di situs menara bendera sisi utara Yamato Hoteru (sekarang Hotel Majapahit) di Jl Tunjungan 65, Surabaya.
 
“Masyarakat Surabaya akan menyongsong hari penting pada 19 September. Kita memperingati nilai dan semangat kepahlawanan Arek-arek Suroboyo yang berani mengorbankan jiwa raga dengan bertempur melawan Sekutu. Kisah ini dikenal sebagai pertempuran pertama kalinya bangsa Indonesia melawan agresor asing yang ingin menduduki wilayah RI pada 69 tahun silam,” ujar dr.Ananto, tokoh seni dan budaya Surabaya.
 
Pertempuran bendera tersebut diikuti pertempuran lain di seluruh wilayah RI untuk mengusir penjajah seperti pertempuran 28-30 Oktober dan 10 Nopember 1945 di Surabaya, Palagan Ambarawa, Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, Bandung Lautan Api, Pertempuran Medan Area, Pertempuran Margarana di Bali, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang dan Pertempuran Lima Hari di Semarang.
 
Monolog oleh Ananto memiliki tantangan berat karena menara bendera terletak di ketinggian lebih 20 m dpl dan berangin kencang. Ketinggian dan sulitnya mempertahankan posisi berdiri tentu menimbulkan perasaan gamang.
 
”Paling tidak harus dapat mengalahkan diri sendiri untuk melakukannya, apalagi dilaksanakan di lokasi seperti itu, perlu persiapan matang dan pengamanan ekxtra,” ujarnya.
 
Monolog akan didukung penampilan beberapa musisi muda seperti Muhammad Alim yang saat usia 15 tahun telah menciptakan lagu Ibu Pertiwi, pemain biola Fileski, seniman Rachmad Utojo S, Deanandya dan Arif A.
 
General Manager Hotel Majapahit Surabaya, George Hazard, mengatakan pihaknya mendukung acara tersebut yang dilaksanakan di lokasi riil sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo.
 
“Tamu-tamu hotel menyatakan antusias karena kami mengundang mereka untuk menyaksikan acara ini,” katanya.
 
Selain tamu hotel, Ketua Panitia, Bobbin Nila PY, berharap acara tersebut juga disaksikan masyarakat Surabaya. “Silakan membawa bendera atau atribut merah putih saat monolog digelar,” ujarnya.