Merawat Kebhinekaan Ala Hestu Saputra; Siap Rilis Film Perfect Dream

Merawat Kebhinekaan Ala Hestu Saputra; Siap Rilis Film Perfect Dream

Applebees's Plaza Senayan, Jakarta, Kabarindo- Anda pasti masih ingat dengan karya dari Hestu Saputra dari Dapoer yang sama dengan sineas muda lainnya seperti Duo Fajar, Fajar Nugros & Fajar Bustomi dan ada juga dikenang manis oleh redaksi Alm. Iqbal Rais.

Mereka adalah anak-anak muda kota gudeg yang konsisten merawat Ke-Bhinekaan dalam tiap karyanya, begitu pula redaksi mengenal Hestu seperti filmnya berjudul Cinta Tapi Beda atau Merry Riana dan ada beberapa lagi lainnya.

Kali ini berjudul Perfect Dream yang diusung oleh Rumah Produksi East Java Film & Empat Sisi Productions.

Dari trailer PERFECT DREAM yang 'konon' terinspirasi dari peristiwa yang pernah teriadi dan tokoh-tokoh yang pernah ada dalam kehidupan nyata.

Sekilas memang redaksi melihat karakter muslimah berhijab yang menjadi sahabat dari isteri Dibyo (Ferry Salim) berada di dalam gereja.

Ferry Salim memang cocok berakting sebagai pengusaha mafia dari kota Pahlawan dengan logat arek Suroboyoan adu akting dengan Baim Wong yang berperan sebagai Bagus.

Isterinya adalah Wulan Guritno yang berperan sebagai Lisa, hanya bisa berdoa dan berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan menjadikan muslimah berhijab sebagai sahabatnya.

Dibyo menjadi laki-laki dengan dua sisi dan terlihat jelas dalam poster yang juga ikut dirilis bersama dengan trailernya.

Penasaran dengan sikap Lisa menghadapi ambisi Dibyo, menjadi inspirasi menarik bagi perempuan.

"Setiap orang pasti punya mimpi. Setiap orang bisa memilih mimpinya sebagai cita-cita dalam hidup dengan kesempurnaan absolut. Namun bagaimana jika mimpi berlebihan dan menjadi ambisi besar yang harus diwujudkan? Sementara, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan dan mimpi-mimpi itu. Setidaknya, dari awal kita selalu sadar untuk memilih jalan kebenaran dalam menjalani hidup. Dan dalam mencapai cita-cita, hendaklah menjadikan hidup menjadi lebih baik, "papar Hestu yang mengakui memang terus merawat keBhinekaan dalam tiap pemain yang didirectnya.

Ia akui untuk mewawancarai narasumber sangatlah sulit sekali. Ini mengingat pertanyaan - pertanyaan yang harus dijawab sangat rahasia dan sangat personal. Sehingga perlu berbagai cara meyakinkan nara-sumber mau menceritakan pengalaman hidup mereka di dunia bisnis keluarga dan masyarakat.

Hestu ikut menulis bersama 3 rekannya dan ia puas raih sudut pandang cerita yang bisa diolah menjadi dasar pembuatan ride cerita lebih kreatif. Cerita terus berkembang seiring penyelesaian skenario film Perfect Dream. Satu syarat yang juga harus dipenuhi adalah, bahwa nama-nama tokoh di film ini sepakat dibuat fiktif.

Ini adalah produksi perdana East Java Films bekerja sama dengan Empat Sisi Productions. Perfect Dream bertatar cerita kota Surabaya dan merupakan kisah true event. Artinya, sebagian tokoh-tokoh yang ada di film memang eksis. Sebagian lagi fiktif.

Kenapa Surabaya?
Banyak pertimbangan Surabaya menjadi pilihan. Pertama, sangat sedikit sekali film yang diproduksi dan menjadikan Surabaya sebagai lokasi syuting. Sementara banyak sekali, bagian dari kota Surabaya yang sangat ikonik dan secara visual sangat menarik. Apalagi untuk format visual sebuah film.

Tokoh utama dalam cerita juga merupakan warga Surabaya, itu sangat sedikit yang diangkat ke dalam film. Sementara sebagai kota terbesar kedua setelah ibukota, Surabaya memiliki kehidupan yang sangat complicated dan beragam. Dan tokoh yang ada di Perfect Dream ini sebagian memang pernah ada dan eksis. Kisah tokoh utama inilah yang diadaptasi ke dalam cerita Perfect Dream.

Ada karakter Hartono yang semula akan diperankan oleh aktor sekaligus sineas dokumenter kondang, Tino Saroenggalo tapi karena saat itu ia masih sakit beralih ke komedian dan mantan politisi, H. Komar yang dari trailer disapa bos oleh Dibyo dan terlihat senang berada di antara perempuan-perempuan seksi dalam bath tub.

Sinopsis
Bagi DIBYO keberhasilan diukur dari seberapa besar ia mampu memenuhi ambisi hidupnya. Dari kehidupan jalanan menjalankan bisnis gelap, Dibyo berhasil menikahi Lisa, putri Marcel Himawan, seorang pengusaha besar di kalangan elite Surabaya. Dibyo bahkan berhasil mengembalikan kejayaan bisnis Marcel.

Harta berlimpah tak membuat Dibyo puas. Ambisi Dibyo adalah menguasai wilayah lawan bisnisnya, Hartono si mafia nomor satu. Pertikaian antar-geng pun tak terelakkan.

Ambisi Dibyo makin meluap setelah mengenal Rina, pemilik galeri foto yang mampu memberi kehangatan cinta seorang ibu yang tak pernah Dibyo dapatkan selama ini.

Lisa harus memilih, mengikuti ambisi suaminya atau berjuang mempertahankan keutuhan keluarga yang ia cintai!


Penasaran ?