Menteri Pariwisata; Janjikan Kelola Belitung Laiknya Maladewa

Menteri Pariwisata; Janjikan Kelola Belitung Laiknya Maladewa

Belitung, Kabarindo- Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Ia ingin pariwisata Belitung bisa berkembang seperti Maladewa, yang menjadi destinasi wisata terkenal karena keindahan pantai, laguna biru dan pemandangan bawah lautnya.

"Mimpi saya untuk Belitung, saya ingin Belitung seperti Maladewa. Maladewa yang pariwisatanya besar, mirip Belitung. Belitung menjadi Maladewa-nya Indonesia," ujar dia saat Ekspedisi Kapsul Waktu di Belitung, Rabu.

Ia mengatakan Maladewa yang penduduknya 300 ribu orang setiap tahun dikunjungi satu juta wisatawan dan memperoleh pendapatan sampai Rp30 triliun.

Sedang Belitung yang penduduknya 200 ribu orang, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerahnya Rp1 triliun dan hanya Rp1 miliar yang berasal dari pendapatan asli daerah.

Pemasukan Maladewa dari kegiatan pariwisata, menurut Arief, 300 kali dari pendapatan asli daerah Belitung.

Ia berharap ke depan Belitung harus berusaha menarik satu juta wisatawan dengan estimasi setiap wisatawan menghabiskan 2.000 dolar AS sehingga punya potensi pendapatan dua miliar dolar AS.

"Dengan begitu, pendapatan per kapita masyarakat Belitung bisa 10 ribu dolar AS. Saya doakan pendapatan per kapita dua kali lipat dari rakyat Indonesia," tutur Arief.

Ia berharap dalam waktu empat tahun ke depan Belitung dapat menarik setidaknya 100 ribu wisatawan.

"Atau kita bayangkan dulu 100 ribu orang ke Belitung dengan pengeluaran minimal 1.000 dolar AS, itu sudah 100 juta dolar, tidak perlu menunggu 2085, cukup 2019 semoga bisa tercapai," kata Menteri Pariwisata.

Dia meminta masyarakat Belitung bekerja keras dan aktif terlibat mengembangkan pariwisata untuk mencapai target itu dan melestarikan lingkungan yang menjadi pesona wisata daerah.

"Lestarikan semuanya, jangan dirusak. Pariwisata punya slogan, semakin dilestarikan semakin menyejahterakan," tuturnya seperti dilansir dari laman antaranews.

Pemerintah pusat berjanji mengatasi hambatan pengembangan pariwisata seperti keterbatasan infrastruktur.