Mendag Thomas; Sambangi Korea Selatan

Mendag Thomas; Sambangi Korea Selatan

Jakarta, Kabarindo– Kabar dari Seoul.

Menteri Perdagangan RI Thomas Trikasih Lembong, Ia berkomitmen meningkatkan akses pasar dan investasi selama kunjungan ke Korea Selatan.

Mendag akan melakukan lanjutan perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IKCEPA). Tahun 2012 lalu, saat kunjungan Presiden Korea Selatan ke Indonesia, perdagangan Indonesia-Korea Selatan ditargetkan sebesar USD 100 miliar pada 2020.

“Perluasan akses pasar dilakukan dengan jalan melanjutkan perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Parnership Agreement (IKCEPA) dan peningkatan promosi produk-produk Indonesia di pasar Korea Selatan,” ungkap Mendag Thomas, sebelum menjalani rangkaian pertemuan bilateral di Korea Selatan pada 9-11 Desember 2015.

Dalam kunjungan ini, Mendag akan bertemu dengan Wakil Menteri Perdagangan, Perindustrian, dan Energi Korea Selatan, Lee Kwan-sup. Mendag Tom juga akan bertemu Chairman of Korea Development Bank (KDB) dan beberapa perusahaan Korea seperti POSCO dan Samsung Global Operations.

Mendag Thomas Lembong mengungkapkan, investasi Korea Selatan di Indonesia cukup besar dan menduduki peringkat ke-4 dengan nilai mencapai USD 6,82 miliar. Sektor investasi terbesar di 2014 yaitu pertambangan, industri logam dasar, industri karet, dan industri kulit. Ke depan, investasi Korsel direncanakan akan terus meningkat.

“Kami sangat mengapresiasi komitmen para pengusaha Korea Selatan yang berencana melakukan dan meningkatkan investasinya di Indonesia, khususnya di bidang infrastruktur, energi, serta industri besi dan petrokimia, seperti POSCO, Hyosung, Lotte Chemical, BK Energy, dan Hanwa,” lanjut Mendag.

Pada kunjungan kali ini, Mendag berkesempatan menghadiri acara penyerahan Primaduta Award 2015 kepada empat buyers terbaik Korea, yaitu Nobland International Inc (shirts, dresses, dan pants), E-Max Trading (biskuit dan wafer), Dyerex International Ltd. (dyestuffs for paper and cotton), dan Easterntex Ltd. (tekstil dan produk tekstil). Produk-produk makanan dan minuman Indonesia juga turut dipromosikan, terutama kopi karena Indonesia dikenal sebagai Home of World’s Finest Coffee.

Mendag juga berencana mengunjungi CJ Creative Center bersama Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan bertemu CJ Group.

Bidik Pasar Mamin dan Kopi
Produk-produk makanan dan minuman memiliki peluang besar masuk dan menguasai pasar Korea Selatan. Potensi produk makanan olahan di Korea Selatan cukup menjanjikan. Pada tahun 2014 impor Korea Selatan untuk makanan olahan mencapai USD 8,1 miliar dengan pertumbuhan 7,55% per tahun selama periode 2010-2014. Negara pemasok utama yaitu Amerika Serikat dengan pangsa 20,4%; China 16,37%; Filipina 6,88%; Thailand 6,57%; dan Australia 6,11%. Sementara Indonesia menduduki urutan ke 15 dengan pangsa 1,8%.

"Kita memiliki peluang cukup besar untuk merebut pangsa impor produk makanan olahan di Korea Selatan dan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya," ujar Mendag.

Produk impor utama untuk makanan olahan oleh Korea Selatan adalah olahan makanan lainnya (HS 2106) dengan nilai impor USD 935 juta (11,55%), gula tebu atau gula bit (HS 1701) sebesar USD 822 juta (10,16%), olahan kerang dan udang (HS 1605) USD 386 juta (4,77%), olahan buah (HS 2008) USD
326 (4,04%), cokelat dan produk dari olahan kakao (HS 1806) USD 322 juta (3,99%).

Tantangannya, pemerintah Korea Selatan menerapkan standar tinggi dengan alasan keamanan pangan. "Eksportir makanan olahan Indonesia harus mengetahui dan mampu memenuhi persyaratan mulai dari bahan-bahan yang digunakan hingga proses pengolahan," ujarnya.

Sementara itu, sebagai penghasil kopi terbaik, Indonesia dapat merebut pasar kopi di Korea Selatan.

“Kopi sangat digemari masyarakat Korea Selatan. Kita perlu melakukan strategi khusus untuk lebih mempromosikan dan membentuk positioning kopi Indonesia di pasar Korea Selatan,” kata Mendag.

Fakta menunjukkan bahwa hampir seluruh kopi di Korea Selatan berasal dari impor yang angkanya mencapai USD 5,26 juta per tahun. Selain itu, data lain, sebanyak 53% orang dewasa lebih memilih minuman kopi dibandingkan jenis minuman lainnya, seperti jus, minuman cokelat, susu, ataupun softdrinks.

Diperkirakan setiap orang dewasa Korea Selatan mengonsumsi 2 kg kopi setiap tahunnya.

“Sekitar 90% kopi yang diimpor Korea Selatan adalah green beans yang memiliki harga relatif lebih murah dibandingkan kopi yang dihasilkan Indonesia. Namun demikian, Indonesia masih memiliki peluang memasarkan specialty coffee dan single-origin. Kebanyakan penikmat kopi di Korea Selatan
belum mendapatkan informasi mengenai hal tersebut,” lanjut Mendag.

Pemasok terbesar kopi ke Korea Selatan adalah Brasil, Kolombia, dan Viet Nam, dengan pangsa pasar masing-masing 16,2%; 15,6%; dan 10,3%. Sedangkan Indonesia berada di posisi ke-15 dengan pangsa
pasar 2% atau sebesar USD 8,4 juta.

Dorong Ekspor ke Korea Selatan
Selain itu, untuk mendorong ekspor Indonesia ke Korea Selatan Mendag Tom juga akan bertemu Chairman of Korea Trade-Investment Promotion Agency (KOTRA) dan Chairman of Korea International Trade Association (KITA) guna mendiskusikan peluang kerja sama di bidang promosi perdagangan.

Salah satu cakupan kerja sama adalah fasilitasi para eksportir Indonesia dalam melakukan promosi di website KITA melalui layanan e-marketplace dan Global Business Matching Services (GBMS). "Kami berharap KOTRA dapat mendukung promosi produk Indonesia di pasar Korea Selatan, sekaligus
mendorong perusahaan Korea Selatan berinvestasi di Indonesia," kata Mendag.

Total perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan pada 2014 tercatat sebesar USD 22,47 miliar.

Sementara pada periode Januari-September 2015 mencapai USD 12,52 miliar dengan penurunan sebesar 25,92% dibandingkan periode yang sama tahun 2014 yang sebesar USD 16,90 miliar.

Korea Selatan merupakan negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia urutan ke-7 dengan share 3% dari total keseluruhan ekspor pada 2014. Ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan pada 2014 mencapai nilai USD 5,72 miliar. Namun, nilai ini menurun 5,55% dibanding ekspor tahun 2013 yang tercatat sebesar USD 6,05 miliar.

Sementara itu, ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan pada Januari-September 2015 tercatat senilai USD 4,23 miliar. Nilai ini juga menurun sebesar 1,23% dibanding ekspor periode Januari-September 2014 yang sebesar USD 4,28 miliar.

Sedangkan tren ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan lima tahun terakhir (2010-2014) adalah sebesar 5,73%, dimana ekspor pada 2010 sebesar USD 6,87 miliar menjadi USD 5,71 miliar pada 2014.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke Korea Selatan meliputi coal, briquettes, ovoids, and similar solid fuels manufactures from coal; cooper ores and concentrates; chemical wood pulp, soda or sulphate;
ferro-alloys; dan yarn (other than sewing thread) of synthetic staple fibres.

Sementara impor Indonesia dari Korea Selatan adalah flat-rolled products of iron or non-alloy steel; synthetic rubber and factice in primary forms etc; self-propelled bulldozers, angledozers; other knitted or crocheted fabrics; dan elect. app. for line telephony/line telegraphy.