Mendag Rachmat Gobel; Siap Rebut Pangsa Pasar Ekspor

Mendag Rachmat Gobel;  Siap Rebut Pangsa Pasar Ekspor

Jakarta, Kabarindo- Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

Ia bekerja keras dan makin intensif menggodok berbagai strategi pencapaian cita-cita besar Kementerian Perdagangan dalam melipattigakan ekspor nonmigas selama 2015-2019. Semua pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri beserta Dinas Perindustrian dan Perdagangan dikumpulkan dalam Rapat Kerja Kemendag yang dibuka kemarin, Selasa (27/1), di Gedung
Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Mendag Rachmat Gobel menegaskan komitmennya untuk merebut pangsa pasar ekspor guna menciptakan
pertumbuhan ekspor menjadi tiga kali lipat hingga 2019, memperkuat pasar dalam negeri, reformasi birokrasi, dan tata kelola pemerintahan yang baik di sektor perdagangan.

Sambil mengutip pidato Bung Karno, Rachmat Gobel mengajak seluruh kekuatan Kemendag untuk bersama-sama memperkuat sinergi, menguatkan komitmen, serta meningkatkan koordinasi semua pemangku kepentingan demi mewujudkan target dan sasaran strategis pembangunan nasional di sektor perdagangan, sesuai Rencana Strategis Kemendag dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

"Seperti suatu ungkapan dalam Bahasa Italia yang pernah dipopulerkan Bung Karno, Vivere Pericoloso, yang berarti hiduplah secara berbahaya, Kemendag bercita-cita besar meningkatkan daya saing ekspor barang dan jasa sehingga dapat melipattigakan ekspor nonmigas selama 2015-2019,” tegas Mendag Rachmat Gobel.

Rapat Kerja Kemendag ini berlangsung 26-28 Januari 2015 dengan mengambil tema “Strategi Merebut Pangsa
Pasar Ekspor dan Memperkuat Pasar Dalam Negeri.” Raker diawali dengan diskusi interaktif yang dipandu
Suryopratomo dari Metro TV dengan narasumber Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Menteri Kelautan dan
Perikanan Susi Pudjiastuti, Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat, dan Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Teknologi Pertanian Kementerian Pertanian, Mat Syukur.

Dijelaskan Mendag, sasaran lima tahun Kemendag selain ekspor nonmigas di atas, peningkatan rasio ekspor jasa
terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari 3,1% pada 2015 menjadi 3,6% pada akhir 2019, serta menurunnya kontribusi produk primer terhadap total ekspor dari 56% pada 2015 menjadi 35% pada 2019. Hal ini diikuti dengan meningkatnya kontribusi produk manufaktur terhadap total ekspor dari 44% pada 2015 menjadi 65% pada akhir 2019.

“Sasaran tersebut disesuaikan dengan kondisi ekonomi global saat ini yang tidak hanya dipengaruhi peranan
perdagangan barang, tapi juga oleh perdagangan jasa yang diperkirakan terus meningkat. Selain itu, harga
komoditas secara umum diperkirakan menurun, sebaliknya harga produk manufaktur mengalami tren
peningkatan,” jelas Mendag Rachmat Gobel.

Bank Dunia dalam Commodity Price Forecast memperkirakan indeks harga komoditas energi akan turun dari 123,2 pada 2015 menjadi 121,9 pada 2019; sementara indeks harga produk manufaktur akan meningkat dari 109 di 2015 menjadi 115,4 pada 2019.
“Data ini memberi sinyal penting bagi kita semua untuk segera dapat menggeser struktur ekspor Indonesia dari ekspor berbasis komoditas menjadi ekspor berbasis manufaktur,” lanjut Mendag.

Peningkatan ekspor dilakukan dengan fokus antara lain pada produk elektronik, TPT, produk kimia, produk kayu
dan furnitur, serta produk logam, yang memiliki permintaan dunia tinggi dan merupakan produk bernilai tambah tinggi serta menyerap tenaga kerja cukup signifikan. Otomotif dan mesin-mesin juga merupakan produk-produk yang harus didorong ekspornya karena permintaan dunia terhadap produk tersebut juga tinggi.
Sementara itu, pusat ekonomi dunia juga diperkirakan bergeser dari kawasan Eropa-Amerika ke kawasan Asia-Pasifik. Ini ditandai tumbuhnya ekonomi negara-negara berkembang yang cukup tinggi sehingga dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dunia. Kontribusi PDB negara-negara berkembang terhadap PDB dunia meningkat dari 34,1% pada 2010 menjadi 43,8% pada 2019. Selain itu, implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN diharapkan menjadi peluang besar yang perlu dimanfaatkan, sementara mengantisipasi hambatan nontarif di negara-negara tujuan ekspor yang menjadi tantangan ke depan.

Stabilitas Harga
Mendag Rachmat Gobel juga memastikan terjadinya stabilitas harga barang kebutuhan pokok. Sasaran di sektor perdagangan dalam negeri ini, stabilitas harga barang kebutuhan pokok dijaga dalam koefisien variasi kurang dari 9% pada 2015-2019, menurunkan koefisien variasi harga barang kebutuhan pokok antarwilayah dari 14,2% pada 2015 menjadi lebih kecil dari 13% pada akhir 2019. Selain itu, Kemendag juga akan menargetkan peningkatan pertumbuhan PDB riil subsektor perdagangan besar dan eceran dari 6,7% pada 2015 menjadi 8,5% pada 2019, dan pelaksanaan pembangunan/revitalisasi 1.000 unit pasar rakyat/pasar tradisional setiap tahun. Pada akhir 2019 jumlah pasar rakyat/pasar tradisional yang dibangun/direvitalisasi ditargetkan sebanyak 5.000 unit.

"Hal ini untuk mendukung inflasi <5% per tahun," tandas Rachmat.

Salah satu sinergi dibangun bersama Kementerian Perhubungan. Kementerian yang dipimpin Ignasius Jonan ini telah memprogramkan untuk mengoptimalkan angkutan multimoda dan penyediaan barang kebutuhan pokok di daerah-daerah tertentu secara sinergi dan berkesinambungan. Kementerian Perhubungan telah siap untuk mendayagunakan sarana angkutan darat, angkutan laut, dan angkutan kereta api. Kementerian Perdagangan akan mengkoordinasikan dan mendorong pelaku usaha guna memanfaatkan sarana tersebut untuk pengangkutan barang kebutuhan pokok.

Reformasi Birokrasi
Berbagai target Kemendag harus dicapai sesuai tenggat waktu. Itu sebabnya, Mendag Rachmat Gobel menganggap serius upaya reformasi birokrasi di Kementeriannya.

"Sasaran strategis reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan akan dilakukan melalui meningkatkan kinerja pelayanan publik, meningkatkan kinerja dan profesionalisme SDM, meningkatkan birokrasi yang transparan, akuntabel, dan bersih," tegas Rachmat Gobel.

Mendag akan bersikap tegas terhadap upaya-upaya peningkatan ini. Untuk itu, Mendag memastikan akan dilakukan peningkatan efektivitas pengawasan internal.

Agar memiliki persepsi yang sama dalam melaksanakan target-target tersebut, Mendag menilai pembangunan dan pengembangan kapasitas perdagangan nasional sesuai sasaran-sasaran strategis tersebut hanya dapat dicapai melalui dukungan dan kerja keras dari semua pemangku kepentingan terutama dari pemerintah daerah, Kementerian/Lembaga mitra kerja, pelaku usaha, dan masyarakat.

“Kita perlu kesamaan persepsi dan saling bersinergi, baik antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, maupun antara Pemerintah dengan pelaku usaha dan lembaga mitra kerja terkait lainnya,” tegas Mendag.