Mendag Pastikan SRG; Jadi Instrumen Penting Pro Petani

Mendag Pastikan  SRG; Jadi Instrumen Penting Pro Petani

Jakarta, Kabarindo– Pelaksanaan Sistem Resi Gudang di Indonesia saat ini merupakan instrumen penting karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah maupun nasional.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan, setelah membuka Seminar Nasional Sistem Resi Gudang (SRG) di Semarang, Jawa Tengah, hari ini, Kamis (10/9).

Di hadapan para Pejabat Pemda Provinsi, Kabupaten dan Kota, Anggota Dewan, Pejabat Instansi Pemerintah/lembaga terkait di Pusat dan Daerah, Pengelola Gudang, Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Koperasi dan UKM, serta Perguruan Tinggi dan Lembaga Perbankan, Mendag menggarisbawahi bahwa pelaksanaan SRG merupakan sistem pembiayaan perdagangan yang pro kepada petani.

“Sistem Resi Gudang lahir sebagai salah satu instrumen yang memberikan payung hukum pemberian kredit oleh lembaga keuangan baik bank maupun non-bank dengan jaminan hanya Resi Gudang, tanpa dipersyaratkan agunan lainnya,” jelas Mendag.

Sistem Resi Gudang, menurut Mendag, juga dapat meningkatkan pendapatan petani. Para pelaku usaha terutama petani dan UKM dapat menjadikan SRG sebagai instrumen pemasaran untuk memperoleh harga terbaik dengan cara menunda penjualan komoditas pada saat musim panen raya dimana harga komoditas cenderung rendah melalui penyimpanan komoditasnya di gudang.

SRG juga dapat berperan penting sebagai sarana penyimpanan logistik dalam proses produksi, distribusi, dan konsumsi.

Dalam Sistem Logistik Nasional, SRG dapat menjadi salah satu instrumen pengukuran ketersediaan stok nasional, khususnya terkait dengan bahan pangan seperti beras, gabah, dan jagung. Hal ini dimungkinkan karena data ketersediaan stok di setiap gudang SRG terintegrasi melalui suatu Sistem Informasi Resi Gudang (IS-WARE).

Melalui seminar nasional ini, Mendag berharap akan semakin terbuka wawasan pemahaman akan potensi dan pentingnya SRG di Indonesia dalam peningkatan perekonomian daerah dan nasional.

Sementara itu, Kepala Bappebti Sutriono Edi, menambahkan, “tujuan diselenggarakannya Seminar Nasional ini adalah untuk mendapatkan masukan dan dukungan dalam rangka percepatan
implementasi terhadap Sistem Resi Gudang sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No 9 Tahun 2011 tentang Perubahan atas UU No. 9 Tahun 2006 Tentang Sistem Resi Gudang”.

Seminar Nasional ini turut dihadiri Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; Anggota Komisi VI DPR RI, Yusyus Kuswandana; Guru Besar UNILA dan Peneliti INDEF, Prof. Dr. Bustanul Arifin; Wakil Bupati Probolinggo, H. Timbul Prihanjoko; Asisten Deputi I Bidang Koordinasi Fiskal dan Moneter, Sartono; Deputi Direktur Kepala Divisi Asesmen Inflasi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Arief Hartawan; Kepala Divisi Administrasi Kredit BRI, Arif Catur.
Usai pembukaan, Mendag menyerahkan Piagam Penghargaan kepada Koptan Warga Karya Kab. Barito Kuala, Ketua Koptan Sari Tani Kab. Cianjur, Koperasi Bina Usaha Probolinggo, dan Koptan
Sumber Makmur II Probolinggo yang telah berperan aktif mendukung percepatan implementasi Sistem Resi Gudang.

Pelaksanaan SRG Nasional
Pemerintah sangat berkepentingan dalam meningkatkan kualitas produk komoditas dalam negeri, antara lain dengan penciptaan suatu instrumen pembiayaan perdagangan yang dapat dengan
mudah dimanfaatkan oleh para pelaku usaha, khususnya petani/UKM cukup dengan jaminan komoditas yang mereka miliki dalam rangka mendapatkan modal kerja.

Pembiayaan tersebut sangat berguna bagi petani untuk membiayai tanam berikutnya, termasuk beli pupuk, bibit dan biaya kehidupan sehari-hari, sedangkan bagi pelaku usaha dapat meningkatkan permodalan usahanya, sehingga mereka tetap mampu meningkatkan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan walaupun modal yang dimiliki terbatas.

Dalam rangka mempercepat pelaksanaan SRG secara nasional, Kemendag bekerja sama dengan pemerintah daerah melakukan pembangunan 97 gudang SRG yang tersebar di wilayah Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Hingga saat ini Resi Gudang yang telah diterbitkan sebanyak 992 Resi Gudang dengan total volume komoditi sebanyak 42.351,7 ton (36.334 ton gabah; 4.078 ton beras; 1.591,7 ton jagung; 20,39 ton kopi; dan 327 ton rumput laut) atau total senilai Rp. 198,97 miliar.

Pembiayaan Resi Gudang telah dilakukan oleh lembaga keuangan bank seperti BRI, Bank BJB, Bank Jatim, Bank Kalsel, Bank Jateng, BPRS Bina Amanah Satria Purwokerto, maupun Lembaga Keuangan Non-Bank yaitu PKBL PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan LPDB Kementerian KUKM. Nilai total pembiayaan yang telah diberikan sampai Agustus 2013 sebesar Rp.111,89 miliar (746 Resi Gudang), atau rata-rata 70% dari nilai Resi Gudang yang diagunkan.

Pada tahun 2012, Bappebti melakukan kegiatan pemetaan terhadap gudang milik swasta. Tujuannya adalah untuk memperoleh data mengenai jumlah gudang milik swasta yang ada di 274 kabupaten dan 16 provinsi di seluruh Indonesia. Kabupaten Pandeglang termasuk kabupaten yang dipetakan data gudangnya, baik gudang yang dimiliki oleh pelaku usaha maupun koperasi.