Memetri Kriya; Pamerkan Karya 16 Kriyawan Dari UNESA

Memetri Kriya; Pamerkan Karya 16 Kriyawan Dari UNESA

Surabaya, Kabarindo- House of Sampoerna (HoS) bekerja sama dengan UNESA Jurusan Seni Rupa menggelar pameran bertajuk “Memetri Kriya” di Galeri HoS hingga 6 Januari 2018.

Tujuan pameran ini untuk menjaga keaslian warisan budaya (memetri) sebagai identitas bangsa di tengah kemajuan teknologi.

Seni kriya adalah sebutan untuk karya yang penggarapannya sarat dengan ketrampilan tangan, mempunyai nilai estetika yang tinggi, namun tetap fungsional. Pada seni kriya, para Pande atau Kriyawan berkreasi dengan menggunakan teknik warisan leluhur, seperti karya kriya logam dengan teknik ukir menggunakan alat pahat ukir logam dan landasan jabung, kriya keramik dengan teknik tekan, pilin dan bidang, karya batik dengan menggunakan canting dan malam sebagai pewarna dan kriya kayu dengan teknik ukir menggunakan pahat ukir kayu.

Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, beberapa bahan maupun peralatan sudah tidak dapat ditemukan dan harus diganti dengan peralatan yang modern. Namun untuk menciptakan karya yang beridentitaskan Indonesia, peralatan modern ini digunakan hanya sebagai penunjang. Ketrampilan tangan para Pande tetap merupakan modal utama penciptaan sebuah karya kriya.

Memetri Kriya menampilkan 30 karya kriya dari 16 peserta dari FBS UNESA yang melibatkan mahasiswa, dosen pengampu dan alumni yaitu Achmad Nuries, Achmad Hozairi, Chrysanti Angge, Cokro Retantoko, Faisal Wilma, Fera Ningrum, Jafar Huda Cahyanto, Muchlis Arif, Muhamad Taufik, Nurul Dwi Injaya, Okiek Febrianto, Prastyawan, Singgih Prio, Sofia, Marwati, Sulbi Prabowo dan Wahyu Ferdiyan.

“Pameran ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa Jurusan Seni Rupa UNESA maupun para penikmat seni untuk terus menjaga, mempertahankan dan melestarikan warisan budaya leluhur melalui karya seni,” ujar Indah Chrysanti Angge, Dosen mata kuliah Kriya Logam pada Senin (27/11/2017).

Dalam pameran tersebut, kita bisa melihat penciptaan kriya berkonsep kekinian dengan tetap menjaga proses pembuatannya sesuai dengan warisan Pande leluhur. Misalnya karya Jafar Huda Cahyanto berjudul “Maha Atma” yang menggunakan logam wudulan dan endak-endakan yang diukir indah pada tembaga, beton eser dan kayu mahoni. Tak kalah unik karya Singgih Prio Wicaksono berjudul “Konsumsikillme”, berupa pahatan dari kayu mahoni, sampah kemasan dan resin untuk mengkritisi budaya konsumerisme yang tumbuh pesat di masyarakat dan tanpa disadari merusak ekosistem.

“Arus kemajuan teknologi pada era milenial yang begitu pesat bukan menjadi pembenaran untuk ikut terseret dan menjauh dari identitas bangsa. Teknologi justru menjadi peluang dalam proses berkreasi, bukan untuk mendominasi dan menenggelamkan nilai-nilai tradisi yang telah tumbuh turun-temurun di masyarakat tradisional,” ujar Ina Silas, General Manager HoS.