MATAHATI Dari Anne Avantie; Terinspirasi Dari Eksistensi Titiek Puspa

MATAHATI Dari Anne Avantie; Terinspirasi Dari Eksistensi Titiek Puspa

Grand Ballroom Harris Hotel, Jakarta, Kabarindo- Ada pola unik yang diberikan Anne Avantie tiap kali ia melaksanakan sebuah pagelaran busana yang bekerjasama dengan Jakarta Fashion and Food Festival.

Hal itu adalah mempersembahkannya secara khusus bagi seseorang. Sudah dua tahun berturut-turut dalam Jakarta Fashion and Food Festival, desainer yang biasa disapa Bunda Anne ini mendedikasikan peragaan busananya bagi figure yang telah memberinya inspirasi dalam berkarya.

Jika pada tahun sebelumnya pagelaran busana Anne Avantie yang bertajuk “Putri Tionghoa Tribute To Robbie Tumewu” ia dedikasikan khusus kepada Robbie Tumewu yang kala itu tengah berjuang seusai serangan stroke yang dideritanya, kali ini Anne Avantie mempersembahkan pagelaran busananya bagi sang diva legendaris, Titiek Puspa.

Sosok Titiek Puspa yang telah melewati empat dekade dalam berkarya ternyata begitu menyentuh hati Anne Avantie. Ekspresi jiwa dan pancaran semangatnya yang tak pernah padam untuk terus berdedikasi pada dunia seni yang telah membesarkan namanya menjadi inspirasi bagi Anne Avantie untuk menghadirkan suatu pagelaran busana yang memadukan karya busana milik Anne Avantie, serta karya musik milik Titiek Puspa.

“MATAHATI, Persembahan Kasih Untuk Titiek Puspa” adalah judul yang dipilih Anne Avantie dalam pagelaran busananya kali ini, sebuah pagelaran busana yang merangkum jejak empat dekade Titiek Puspa dalam berkarya. Dimulai sekitar pukul 20.30, pagelaran busana “MATAHATI, Persembahan Kasih Untuk Titiek Puspa” dibagi atas lima sekuens utama. Dibuka oleh penampilan dari penyanyi dan artis senior, Marini yang membawakan lagu Cinta, pagelaran busana ini langsung menguarkan aroma nostalgia yang kental.

Terlebih ketika sosok yang telah akrab di mata kita dari dekade 1950an dan 1960an antara lain Mieke Widjaya, Rina Hasyim, Farida Pasha, Dewi Motik, Neni Triana, dan Henny Purwonegoro muncul di atas catwalk serta memperagakan kebaya dari kain sindur “Klabang Ngantub” berwarna hijau dan merah menyala, para tamu undangan yang memenuhi area Grand Ballroom Harris Hotel Kelapa Gading seolah dibawa Anne Avantie menjelajah panggung hiburan di masa lalu.

Pengembaraan imajinasi Anne Avantie akhirnya tertambat pada mode era 1960an yang ditampilkan melalui sosok model nomor satu Indonesia pada eranya. Danny Dahlan, Elva Marliah, Shanti, Citra, dan Sarita tampil dalam silluet busana yang memancarkan keglamoran “Tempoe Doeloe” dengan warna-warna cerah lengkap dengan padu padannya. Ada topi fedora, kaos tangan satin, tas, rok bawahan yang pendek dengan menggunakan tyle dibawah rok sehingga terlihat melingkar. Lalu diperkuat dengan penggunaan warna-warna material yang mencolok dan memaksa mata untuk melihat. Ditampilkan pula stilleto dan wedges yang kemudian menjadi padupadan yang semakin memperkuat keelokan fesyen era 1960an.

Kehadiran Laela Sari dan Hudson menyanyikan lagu “Apa-apanya dong” memberikan hiburan tersendiri bagi segenap tamu undangan pagelaran busana MATAHATI. Menampilkan Astrid Tiar, Asri Welas, yang menggunakan mode celana cutbray (lingkar di lutut sempit, lingkar di mata-kaki lebar seperti terompet, dan model rambut Agogo(horizontal midi cut), silluet sifon plisket dan mode sepatu hak tinggi. Indra Bekti, Irfan Hakim mengimbangi dengan model celana jotpur dan permainan lurik juga batik.

Lagu “Dansa Yok Dansa” yang sempat jadi ikon pesta disko di era 1970an yang hadir pada sekuens ke empat ditransformasikan oleh Anne Avantie dalam bentuk karya yang lebih modern dengan tampilan yang lebih universal “Terate”, wujud inspirasi warna-warna pastel yang saling bersinergi sehingga kesan glamour tetap terasa dalam pagar budaya yang kental.

Di penghujung pagelaran busana, Anne Avantie menyalakan sisi gemilang dengan mengusung karya-karya bersilluet kebaya yang mencerminkan glamouristas perempuan Indonesia dan memberikan jiwa baru Feminitas yang tak lekang dimakan oleh waktu. Tampak dengan tegas bagaimana kain batik prada menyatu dengan karakter silluet kebaya khas Anne Avantie yang selalu melahirkan inovasi untuk bereskperimen tetapi tetap mengacu pada budaya bangsa yang berkarakter kuat dimana warna ungu mendominasi karya penutup MATAHATI sebuah persembahan cinta yang terkasih kepada Titiek Puspa.