MAHITALA UNPAR; Pekan Depan Siap Sampai Puncak Los Penitentes

MAHITALA UNPAR; Pekan Depan Siap Sampai Puncak Los Penitentes

Jakarta, Kabarindo- Dari rilis yang diterima redaksi.

Setelah seminggu berangkat menuju Argentina, Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition MAHITALA UNPAR (WISSEMU) melalui pantauan Delorme akhirnya sampai di Los Penitentes yaitu kota terakhir di kaki Gunung Aconcagua.

Dari Penitentes tim akan melanjutkan pendakian menuju Confluencia via Puenta Del Inca.

Los Penitentes adalah sebuah kota kecil dengan banyak penginapan. Kota ini biasa dimanfaatkan sebagai penginapan bagi pemburu Puncak Aconcagua, maupun para penggila olahraga ski.
Dari Penitentes perjalanan ini terdapat dua alternatif basecamp yang dapat dipilih. Tim WISSEMU akan beranjak ke basecamp Plaza De Mulas karena akan melalui rute normal.
Jika tidak ada halangan tim akan dijadwalkan mencapai Puncak pada tanggal 27 Januari 2016. Namun jika nantinya mengalami halangan tim telah menyediakan hari cadangan sampai tanggal 30.

Selama di Argentina tim sempat beerkunjung ke KBRI di Buenos Aires dan bertemu dengan duta besar Bapak Jonny Sinaga Rabu, 13 Januari kemarin. Dalam kunjunngan ini bapak dubes member pesan kepada kami untuk selalu berpikir ke depan, berpikir untuk kebutuhan umat manusia nantinya selagi masih muda, Beliau juga menambahkan untuk selalu mau berbagi dan mau memberi untuk sesama dan terutama Bangsa Indonesia.

Setelah berkunjung ke KBRI tim juga melanjutkan perjalanan ke Mendoza selama dua hari. Selama di Mendoza tim melengkapi semua kebutuhan makanan dan keperluan alat pendakian serta menyelesaikan semua urusan administrasi pendakian.

Hari kedua di Mendoza tim yang sedang mengurus perizinan tanpa sengaja bertemu dengan seorang pendaki wanita dari negeri tetangga ,Malaysia Anis Sharuddin namanya. Sama dengan tim, Anis juga sedang mengejar title Seven Summits wanita pertama untuk negaranya. Selain dengan Anis tim juga sempat bertemu dengan beberapa pendaki dari rombongan Asia tenggara. Terdapat Khoo Swee Chiow seorang pendaki legendaris Asia Tenggara asal Singapur.

Setelah berhasil mengibarkan bendera merah putih di Gunung Carstensz Pyramid, Papua, Indonesia pada Agustus 2014 dan Gunung Elbrus, Rusia serta Gunung Kilimanjaro, Tanzania pada Mei 2015 lalu, Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU) bersiap melanjutkan petualangannya menuju Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, yang merupakan puncak tertinggi di Benua Amerika Selatan dan puncak tertinggi kedua dalam rangkaian seven summits setelah Gunung Everest.
Lima tahun silam tepatnya pada 9Januari 2011 Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans dan Broery Andrew Sihombing tiga dari empat orang anggota Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) berhasil menggapai puncak Gunung Aconcagua yang kemudian pada 29 Januari 2011 menyusul Janatan Ginting anggota terakhir dari Tim ISSEMU yang menyelesaikan pendakian ini.

Sekarang terdapat tiga orang pendaki wanita yang memiliki mimpi untuk kembali mengibarkan bendera merah putih di Puncak Gunung Aconcagua. Fransiska Dimitri Inkiriwang (22), Mathilda Dwi Lestari (22), dan Dian Indah Carolina (20), tiga mahasiswi aktif Universtias Katolik Parahyangan yang tergabung dalam Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar.

Keberangkatan ke Argentina yang adalah negara tempat Gunung Aconcagua ini bertengger akan dilakukan pada 11 Januari 2016 hingga  5 Februari 2016. Panjangnya rute perjalanan dan kenaikan ketinggian gunung yang cukup drastis membuat perjalanan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk didaki.

Selain jalurnya yang panjang, Aconcagua yang terletak di jajaran Pegunungan Andes memiliki cuaca dingin yang ekstrim ditambah badai angin yang sangat berbahaya dan dikenal dengan sebutan el viento blanco. Angin kencang yang kabarnya dapat mencapai 90 km/jam bertiup bersamaan dengan kabut yang  ditambah dengan hujan salju merupakan gambaran sederhana dari badai berbahaya ini. Menurut beberapa pemberitaan media, el viento blanco ini juga yang diduga menjadi penyebab meninggalnya salah satu pendaki berpengalaman dari Indonesia yaitu (Alm) Norman Edwin dan rekannya (Alm) Didiek Samsu (tahun 1992) pada saat melakukan ekspedisi seven summits kala itu.

Sulitnya jalur pendakian Aconcagua ini, membuat persiapan dan perencanaan yang matang sangatlah diperlukan. Latihan fisik seperti lari dan latihan beban ditambah dengan yoga menjadi jadwal harian dari setiap anggota tim demi menambah endurance dan kekuatan mental dari anggota tim. Ditambah lagi dengan bedah peta, latihan teknik navigasi dan persiapan alat-alat yang mendukung pendakian, semua  dipersiapkan dengan matang demi lancaranya perjalanan ini.

Dengan keberangkatan menuju Gunung Aconcagua ini semakin mendekatkan Tim WISSEMU untuk mencapai tujuh gunung tertinggi d tujuh benua. Apabila pendakia ini behasil akan tersisa tiga guunung lagi dari rangkaian seven summits yang memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dan membutuhkan usaha yang lebihdiabandingkan gunung-gunung sebelumnya.

Ketujuh puncak yang merupakan seven summits meliputi Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Indonesia (Oseania), Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania (Afrika), Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia (Eropa), Aconcagua, 6.962 mdpl di Argentina, (Amerika Selatan), McKinley/Denali (6.194 mdpl) di Alaska (Amerika Utara), Vinson (4.897 mdpl) di Ellsworth Range (Antartika), serta Everest (8.850 mdpl) di Nepal (Asia).