M2M Fastfood Resto; Siap Bersaing Dengan Brand Asing

M2M Fastfood Resto; Siap Bersaing Dengan Brand Asing

Surabaya, Kabarindo- Fastfood alias makanan cepat saji sudah populer di masyarakat dan digemari oleh semua usia dari beragam kalangan.

Banyak resto yang menyajikan fastfood, beberapa dari brand luar terkenal dengan sistem franchise (waralaba). Namun tak banyak pengusaha lokal yang mendirikan usaha ini dengan merek sendiri, padahal pangsanya menggiurkan karena memberikan hasil yang besar.

Melihat peluang ini, tiga pengusaha Sidoarjo yaitu Muhammad Ali, Ali Mustofa dan KH Mahfud Syaubari mendirikan resto fastfood M2M pada Januari 2010. Resto ini menyajikan bermacam menu cepat saji seperti ayam goreng tepung, burger, kentang goreng, spagheti, sup dan es krim. Sebagian menu dikemas dalam paket – paket misalnya paket mantab dan paket spesial.

“Kami membuka resto fastfood dengan merek lokal dan manajemen Indonesia untuk membuktikan kami para pengusaha lokal dengan merek sendiri mampu bersaing dengan brand asing,” ujar Muhammad Ali dalam pembukaan outlet (gerai) di kawasan Rungkut pada Kamis (13/3/2014).

M2M ingin mewujudikan bisnis yang mendasarkan 4 pilar yaitu pendidikan bisnis keuangan dan SDM, pembelajaran distribusi, service management dan promosi serta berempati pada sesama terutama masyarakat sekitar.

Muhammad Ali mengatakan, M2M berani bersaing dengan resto-resto fastfood asing lainnya yang sudah populer di Indonesia karena ketiga pendirinya sudah bertahun-tahun berpengalaman dalam bisnis fastfood. Selain itu, menu-menu yang ditawarkan memiliki rasa yang tak kalah dengan brand-brand asing.

Kini M2M memiliki 9 outlet di Sidoarjo, Lamongan, Pasuruan, Gresik, Mojokerto dan Surabaya. Rencananya akan dibuka lagi 2 outlet di Mojosari pada April dan di Perak, Surabaya, pada Mei mendatang. Hingga 2015, dijadwalkan akan menambah sejumlah outlet di semua kota di Jatim.

Muhammad Ali menyebutkan, semua outlet menghasilkan profit yang memuaskan. Omzet terbesar dihasilkan outlet di Taman Dayu Pasuruan dan Lamongan. Sementara investasi yang ditanamkan untuk setiap outlet mencapai ratusan juta. Untuk investasi outlet di Rungkut sekitar Rp 470 juta. Investasi ini diharapkan mencapai break even point dalam waktu cepat.

“Kami optimistis M2M akan semakin dikenal dan menu-menunya disukai masyarakat,” ujar Muhammad Ali.