Lemhanas Gelar Seminar Nasional; Pemdidikan Jadi Panglima

Lemhanas Gelar Seminar Nasional; Pemdidikan Jadi Panglima

Auditorium Dwi Warna, Lemhanas, Kebon Sirih, Jakarta, Kabarindo- Menarik, kali ini para output dari program pendidikan reguler angkatan XLIX diberikan asupan sarat informasi dan pengetahuan tentang pentingnya pendidikan dari para guru besar dan tokoh nasional.

Bertajuk Paradigma Baru Pendidikan Nasional Guna Menyongsong 100 Tahun Indonesia Merdeka Dalam Rangka Ketahanan Nasional.

Menghadirkan para guru besar, tokoh pendidikan nasional dan pihak kemendikbud RI seperti Prof Yohannes Surya (Surya Institute), Prof, Utomo Dananjaya, Prof. Achmad Jazide (Dirjen Dikdasmen - Kemdikbud) dan Prof. Dr. Arief Rachman (Ketua Harian Komisi Nasional Pendidikan UNICEF).

Dihadiri juga oleh sesepuh Prof. Tilaar sebagai penanggap dan mendapat cinderamata bersama lainnya.

Dari preskon yang digelar sembari sesi awal dari seminar nasional, Wagub Lemhanas RI, Marsdya TNI Dede Rusamsi, SE didampingi oleh Ketua Seminar, Prof Jagal Warseno.

Diperoleh informasi bahwa tidak saja dari peserta dalam negeri tapi juga ada dari negara sahabat dari Yordania, Pakistan, Srilanka, Thailand, Zimbabwe, malaysia dan TImor Leste. jadi ada 7 negara dengan 7 peserta dan ada 4 orang wanita dari Kepolisian, Guru Besar dari ISI, Lembaga Sandi Negara dan Kepala BPOM Jakarta.

"Seminar ini merujuk pada pendidikan harus berbasis pada paradigma pembangunan nasional dengan 5 pedoman dasar yaitu, pendidikan harus berlandasrkan pada keseimbangan kompetensi, karakter, cerdas dan mencerdaskan, pendidikan harus berlandarkan pada sistem manajemen nasional, pendidikan harus berlandarkan pada 8 standar pendidikan yang sudah ada dan pendidikan harus berlandaskan birokrasi anggaran yang kondunsif," jelas Prof Jagal selaku ketua seminar lugas.

Dari penjelasan narasumber, Arief Rachman mempertegas pendidikan itu harus seimbang semua aspek termasuk karakter dan kompetensi sertaIQ-EQ dan SQ sehingga tepat kiranya pendidikan itu harus jadi panglima tidak dipolitisir.

Ditegaskan pula bahwa cara pandang seluruh komponen bangsa belum mendudukan pendidikan sebagai mainstream dan leading sector tertinggi dalam pembangunan nasional. Atau dengan kata lain seluruh komponen bangsa belum mendudukan Pendidikan sebagai Panglima Pembangunan Nasional.

Jadi lemhanas konsisten pada praksis pendidikan seperti dimaksud diatas sehingga bisa mengatasi kesenjangan serta kerentangan manajemen anggaran sehingga bermuara pada korupsi dana pendidikan termasuk pelaksanaan Ujian Nasional-UN.

"Saya pribadi punya pesantren dan memang pendidikan itu penting sekali digiatkan oleh semua pihak sehingga kepeduliaan itu dibutuhkan, jadi harus optimis," papar Dede lugas.

Sementara itu ditambahkan oleh Prof. Jagal berkenaan dengan rekomendasi dari seminar ini itu penting bahwa Ujian Nasional adalah alat ukur dan bukan penentu segalanya, paradigma ini harus dimunculkan sehingga standarisasi tiap daerah itu penting karena berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya termasuk sertifikasi dan kompetensi guru.

Jadi ada 5 strategi pendidikan di atas serta lainnya dan akan dilaporkan kepada Presiden RI SBY 30 Oktober mendatang.


Bravo Lemhanas....................!