Layang Swara; Radio Dari Masa Ke Masa

Layang Swara; Radio Dari Masa Ke Masa

Surabaya, Kabarindo- Tata cara manusia berkomunikasi berkembang sesuai perkembangan zaman, dari gambar, tanda asap, sinar cermin, isyarat bendera juga sandi morse.
 
Kemudian ditemukan sistem radio yang digunakan untuk mengirimkan pesan dalam bentuk telegraf. Teknologi radio pun terus berkembang sejalan dengan berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dunia.
 
Penelitian mengenai teknologi radio diawali dari ditemukannya teori gelombang elektromagnetik oleh James Clark Maxwell pada 1864 dan mulai mendapatkan perhatian publik pada 1895 dengan ditemukannya teknologi radio transmitter oleh Guglielmo Marconi, peneliti berkebangsaan Italia.
 
Teknologi ini memungkinkan terciptanya perangkat yang mampu menerima pancaran gelombang dari pesawat pemancar untuk diubah menjadi sinyal suara atau audio melalui perangkat pemancar (transmitter) dan penerima (receiver) yang kemudian dikenal sebagai radio.
 
Seiring perkembangan zaman, kebutuhan akan transfer informasi secara cepat dan berkualitas menuntut manusia untuk terus melakukan inovasi. Teknologi berbasis analog yang jadi basis teknologi penggunaan radio transistor telah berganti menjadi teknologi digital yang memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi.
 
Sejarah perkembangan beserta keunikan bentuk radio dari masa ke masa ini dihadirkan pada pameran radio lawas “Layang Swara” bekerja sama dengan Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) di Museum HoS mulai 17 Maret – 13 April 2014. Pameran ini diadakan untuk menyambut Hari Siaran Nasional pada 1 April. Masyarakat diajak untuk mengenal radio-radio lawas yang pernah eksis pada masanya.
 
Hermanu, Kepala Bentara Budaya Yogyakarta sekaligus koordinator pameran Layang Swara, mengatakan perangkat audio lama punya kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki audio zaman sekarang, dari sisi desain maupun kualitas suara.
 
Pengunjung bisa melihat radio lawas yang diproduksi pada 1946 – 1970 milik beberapa kolektor pecinta audio dari kelompok Padmaditya Yogyakarta yang dibentuk pada 2011. Salah satunya Philips Aida keluaran 1946 pasca Perang Dunia II. Radio buatan Eindhoven, Belanda, ini dilengkapi skala gelombang radio yang dihiasi nama-nama kota dengan ejaan lama seperti Batavia, Soerabaia dan Bandoeng.
 
Ada pula Philips Kompas yang juga diproduksi pasca Perang Dunia II, memiliki keunikan yang terlihat dari jarum gelombangnya yang mirip dengan jarum kompas. Selain itu, ada Bence, radio yang dipasarkan di Indonesia sekitar 1950-an dan diproduksi di kawasan Dinoyo, Surabaya.