Layanan KB; Diusulkan Masuk Dalam Akreditasi RS

Layanan KB; Diusulkan Masuk Dalam Akreditasi RS

Jakarta, Kabarindo - Peran Rumah Sakit (RS) baik pemerintah maupun swasta dalam memberikan pelayanan Keluarga Berencana (KB) sangat strategis untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia.

Namun, dari sekitar 2100 RS di seluruh Indonesia hanya 25% di antaranya yang memberikan pelayanan KB.

Hal ini dikarenakan pelayanan KB tidak diwajibkan oleh pemerintah kepada RS. Oleh karena itu, salah satu upaya yang akan dibuat Badan Kependudukan dan KB Nasional (BKKBN) adalah mengusulkan pelayanan KB dalam akreditasi RS.

Dengan begitu, RS wajib menyediakan pelayanan KB RS, seperti menyiapkan tenaga kesehatan baik dokter maupun bidan dengan penambahan kompetensi untuk memasang alat KB dan menggiatkan komunikasi, informasi, serta edukasi kepada pasien.

“Kami sedang usulkan ke Komite Akreditasi RS agar ini dimasukan ke dalam bagian yang untuk MDGs. Ini akan menjadi parameter RS dalam meningkatkan fungsi pelayanan KB,” kata Julianto Witjaksono, Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN.

Dia mengatakan hal tersebut seusai menyerahkan penghargaan kepada RS yang memberikan pelayanan KB terbaik dengan kategori Hospital Family Planning Project pada acara penganugerahan PERSI Award-Indonesian Hospital Management Award (IHMA) 2013, di Jakarta, Jumat (8/11) malam seperti dilansir dari laman beritasatu.

Dari lima finalis, yang menjadi pemenang adalah RSUD dr Goeteng Taroenadibrata, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Selain itu, untuk meningkatkan peran RS tersebut, BKKBN juga meningkatkan ketersediaan alat kontrasepsi gratis kepada pasien miskin. Namun, di era BPJS Kesehatan 1 Januari 2014 nanti, seluruh peserta wajib diberikan alat kontrasepsi dasar gratis baik miskin maupun mampu.

Dirut RSUD dr Goeteng Taroenadibroto, Nonot Mulyono mengungkapkan, cakupan KB pascamelahirkan di RS yang dipimpinnya tersebut tertinggi di Jawa Tengah yaitu 80%. Sekitar 96% di antaranya menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang.

Ini dikarenakan komunikasi, informasi, dan edukasi yang gencar untuk mendorong pasangan usia subur menggunakan alat KB sangat efektif.

Misalnya, sejak hamil hingga persalinan para ibu diedukasi mengenai risiko kehamilan dan kelahiran yang tidak diatur dengan baik.

Umumnya persalinan di RS merupakan rujukan dari puskesmas karena berisiko tinggi kematian. Untuk menekan risiko itu, para ibu disarankan untuk merencanakan kehamilan berikut lebih matang dengan satu-satunya cara menggunakan alat kontrasepsi.