Krakatau Steel Gandeng Lotte Gorup; Maksimalkan Aset

Krakatau Steel Gandeng Lotte Gorup; Maksimalkan Aset

Jakarta, Kabarindo- PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), melalui PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), segera melepas lahan seluas 50 hektare (ha) kepada Lotte Group.

Penjualan lahan ini merupakan bagian dari strategi Krakatau Steel mengoptimalkan aset perseroan.

Direktur SDM dan Pengembangan Usaha Krakatau Steel Imam Purwanto mengatakan, manajemen KIEC, perwakilan pemerintah Indonesia, dan Lotte Grup telah menggelar pertemuan untuk membicarakan keseriusan Lotte membangun pabrik di Indonesia.

“Berdasarkan hasil pembicaraan, Lotte masih tertarik membangun pabrik petrokimia di sini, sehingga kami segera mengurus perizinan reklamasi pantai yang akan dijadikan sebagai lahan pembangunan pabrik tersebut,” kata Imam di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, manajemen KIEC sedang mengurus perizinan lahan reklamasi dari pemerintah daerah hingga pusat. Dana reklamasi akan dikeluarkan oleh pihak KIEC. “Dana reklamasi kemungkinan tidak besar. Pihak Lotte inginnya membeli lahan yang sudah bersih,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar mengatakan, KIEC merupakan anak usaha dengan kinerja keuangannya baik. Optimalisasi lahan KIEC merupakan kiat perseroan untuk menggenjot pendapatan dari sektor non baja. Strategi ini diharapkan mendukung kinerja perseroan di tengah pelemahan harga komoditas baja dunia.

KIEC, kata Sukandar, mengelola kawasan industri seluas 800 ha. Selain untuk keperluan perseroan dan grup, lahan tersebut disewa oleh perusahaan lain. Saat ini, lahan yang masih lowong untuk disewakan sekitar 100-150 ha.

Perseroan, tambah dia, sedang memproses akuisisi 500 ha lahan baru di Cilegon. Surat izin lokasi sudah dikantongi sejak tahun lalu. “Sekarang, proses akuisisinya sudah 200 ha. Kami perkirakan rampung tahun depan,” katanya.

Sementra itu, Direktur Keuangan Krakatau Steel Anggiasari Hindratmo menjelaskan, volume penjualan baja perseroan mulai naik pada Juli dan Agustus 2015. Sedangkan, pangsa pasar baja perseroan hingga Juni melonjak menjadi 34 persen, dibandingkan bulan Maret sekitar 19 persen. “Tapi harga baja memang terus melemah. Jika Agustus tahun lalu, harga baja slab masih sekitar US$ 480 per ton, sekarang turun menjadi US$ 285-300 per ton,” kata dia.

Pelemahan harga baja yang dipicu oleh kondisi oversupply sehingga memukul kinerja perseroan. Selama semester I-2015, perseroan membukukan rugi bersih US$ 134,93 juta, membengkak 55,3 persen dari rugi periode yang sama tahun sebelumnya US$ 86,84 juta. Rugi bersih seiring dengan anjloknya pendapatan bersih pada paruh pertama tahun ini sebesar 25,5 persen menjadi US$ 677,23 juta dari sebelumnya US$ 909,19 juta seperti dilansir dari laman beritasatu.