Komunitas Nol Sampah; Lestarikan Hutan Mangrove Surabaya

Komunitas Nol Sampah; Lestarikan Hutan Mangrove Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Koordinator Komunitas Nol Sampah, Wawan Some, di Surabaya, Minggu.

Ia mengatakan, kedatangan para wisatawan tersebut secara tidak langsung membawa masalah tersendiri di hutan mangrove.

"Ini terjadi akibat perubahan konsep ecowisata menjadi wisata alam di hutan mangrove Wonorejo," katanya seperti dilansir dari laman AntaraNews.

Adanya perubahan konsep itu, katanya, menjadikan kawasan hutan mangrove mulai rusak. Jumlah pengunjung yang tidak dibatasi --dalam konsep ecowisata, jumlah pengunjung dibatasi dengan harapan tidak mengganggu ekosistem yang ada-- membuat kawasan di sana menjadi kotor dan kumuh karena pengunjung membuang sampah seenaknya.

Selain itu, lanjut dia, kegiatan tersebut juga mengusik ketenangan satwa terutama burung. Berdasarkan data dari pemerhati burung, jumlah spesies yang ada di sana mencapai 170 spesies, namun kini tinggal sekitar 70 hingga 80 spesies.

"Kawasan di sana itu juga sebagai tempat burung migran yang mampir.Dengan adanya banyak kegiatan terutama penggunaan pengeras suara, burung migran sekarang banyak yang enggan lagi mampir ke Wonorejo. Padahal kawasan Wonorejo ini sebagai tempat penting dalam pemantauan burung," cetusnya.

Melihat kenyataan seperti itu, pihaknya bersama dengan Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan (KJPL), Ecologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Nol sampah, Konsursium Rumah mangrove dan Peksia Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga menuntut kepada Dinas Pertanian Surabaya melakukan kebijakan yang berpihak pada kelangsungan hidup hutan konservasi mangrove.

Kebijakan yang dimaksudkan salah satunya adalah menetapkan pantai timur surabaya (Pamurbaya) sebagai kawasan konservasi yang dilindungi peraturan perundan-undangan sehingga bisa menjadi landasan hukum untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan mangrove di Pamurbaya.