Komodo; Jadi Babak Baru Kepariwisataan NTT

Komodo; Jadi Babak Baru Kepariwisataan NTT

Kupang, NTT, Kabarindo- Nusa Tenggara Timur lebih banyak dikenal orang sebagai salah satu provinsi miskin dan terkebelakang di wilayah timur Indonesia.

Banyak jargon yang dialamatkan ke wilayah provinsi kepulauan ini. Ada yang menyebut NTT adalah "Nasib Tidak Tentu", ada pula yang menyebutnya "Nanti Tuhan Tolong".

Namun, ketika Komodo (Varanus komodoensis) ditetapkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia yang baru (New7 Wonders of Nature), jargon yang melekat pada NTT sebagai Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong, berubah menjadi "New Territory Tourism".

Ketika berlangsung "Sail Komodo 2013" di Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat di ujung barat Pulau Flores, Gubernur NTT Frans Lebu Raya menyatakan optimistis bahwa kegiatan tersebut sudah mengubah jargon-jargon tersebut.

"Biasanya orang mengenal NTT dengan sebutan Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong, lewat Sail Komodo 2013, saya percaya NTT akan menjadi daerah tujuan wisata baru di dunia atau New Territory Tourism," ucapnya.

Optimisme Gubernur Lebu Raya tersebut cukup beralasan, karena NTT tidak hanya memiliki Pulau Komodo yang dihuni biawak raksasa Komodo yang telah ditetapkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban tersebut, tetapi NTT juga punya Danau Tiga Warna di puncak Gunung Kelimutu, Taman Laut 17 Pulau di Riung, Tenun Ikat, Pasola serta ritual keagamaan di Larantuka.

Agaknya tidak terlalu berlebihan jika tema Sail Komodo 2013 diberi judul "Sail Komodo 2013: Jembatan emas menuju Nusa Tenggara Timur menjadi destinasi pariwisata dunia". Dan, NTT telah memasuki babak baru dunia kepariwisataan lewat Sail Komodo tersebut.

Tidak segan-segan, Gubernur Lebu Raya pun meminta para peserta Sail Komodo dari berbagai negara di belahan dunia untuk mempromosikan pariwisata NTT di negaranya masing-masing.

"Setelah mengunjungi objek-objek wisata dan melihat semua acara yang ditampilkan oleh masyarakat di setiap destinasi yang dikunjungi, saya berharap para peserta dapat membantu mempromosikan pariwisata NTT ke luar negeri, terutama di negara Anda masing-masing," tuturnya, dalam suatu jamuan makan malam dengan para peserta Sail Komodo 2013.

NTT yang terdiri dari 566 pulau ini, memiliki objek wisata dan budaya yang nyaris tidak dimiliki oleh negara lain di planet bumi ini, seperti binatang purba Komodo yang satu-satunya hanya ada di Pulau Komodo dan Rinca di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Gubernur Lebu Raya boleh berbangga dengan kekayaan pariwisata yang dimiliki NTT, namun ada persoalan mendasar yang perlu diperhatikan pemerintah adalah infrastruktur pendukung, seperti lapangan terbang agar bisa didarati pesawat yang berbadan lebar, transportasi yang nyaman menuju objek wisata serta telekomunikasi.

Selain itu, infrastruktur jalan menuju objek wisata sering dikeluhkan oleh wisatawan karena belum tersentuh aspal, fasilitas penginapan seperti hotel dan "homestay", air bersih serta keramahtamahan dalam pelayanan.

Sumber daya manusia NTT, khususnya para pelayan di hotel dan restoran, kurang memberi kesan ramah kepada para tamu. Banyak pelayan masih terkesan kasar, mungkin karena alam NTT yang terkenal kering dan gersang ikut mempengaruhi karakter dasar orang NTT.

Meskipun demikian, nama besar Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia, terus mendongkrak arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Taman Nasional Komodo untuk melihat dari dekat sosok binatang purba yang terkenal malas, namun beringas itu.

Balai Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat mencatat arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Cagar Biosfir Taman Nasional Komodo selama 2013 mencapai 60.000 orang berasal dari 104 negara. Jumlah tersebut dinilai cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya mencapai 50.000 wisatawan.

Kepala Balai Nasional Komodo Sustyo Iriyono mengatakan Taman Nasional Komodo merupakan salah satu dari 50 taman nasional di Indonesia, namun di Pulau Komodo dan sekitarnya sudah ditetapkan pula sebagai kawasan Cagar Biosfer, yaitu sejenis situs untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati.

Situs ini ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerja sama program "Man and The Biosfer" (MaB-UNESCO) untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan berdasar upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahuan andal.

Menurut Iriyono dari kunjungan wisatawan tersebut pihaknya harus menyetorkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp4,5 miliar pada 2013. Jumlah tersebut memang lebih kecil dari kebutuhan dana pengelolaan taman nasional itu sekitar Rp12 miliar yang dipenuhi dari APBN.

"Pengelolaan TNK bisa berubah dari cost center menjadi profit center jika tarif masuk kawasan tersebut tidak terlalu murah seperti saat ini, karena jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat," ungkapnya, dan menambahkan tarif masuk ke TNK untuk wisatawan domestik hanya Rp2.000, sedang wisman Rp20.000/orang.

Langkah yang diambil pemerintahan Gubernur Frans Lebu Raya untuk terus menjadikan NTT sebagai jembatan emas menuju destinasi pariwisata dunia adalah melakukan promosi terhadap potensi obyek dan daya tarik wisata (ODWT) seperti wisata pantai Nemberala di Pulau Rote, Taman laut di Pulau Alor dan Teluk Maumere serta 17 pulau di Riung, Wisata Pantai Tarimbang di Pulau Sumba.

Potensi wisata alam lainnya adalah Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende, Kawasan Hutan Mutis di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan dan kawasan Hutan Lingko di Manggarai.

Selain itu, obyek wisata budaya dan ritual agama seperti Pasola dan kampung adat di Sumba, perburuan ikan paus di Lemalera, Lembata, Prosesi Jumat Agung di Kabupaten Flores Timur dan Pawai Paskah di Kota Kupang dan Kampung Bena di Kabupaten Ngada dan berbagai upacara adat lainnya juga akan dioptimalkan untuk menarik minat wisatawan.



Dampak positif

Duta Komodo yang juga mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan upaya untuk mempromosikan Komodo sebagai salah satu di antara New7 Wonders of Nature, telah membawa sejumlah dampak positif, terutama peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo melalui pintu masuk Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat.

"Potensi daerah yang selama ini tak tergarap optimal itu pun mulai mendatangkan dampak positif bagi masyarakat. Saya berharap multiplier effect dari populernya Komodo mampu menggerakkan pemerintah untuk membangun infrastruktur menuju lokasi wisata, seperti bandara dan jalan desa," kata Menko Kesra semasa pemerintahan Presiden Megawati itu.

Sebagai Duta Komodo, JK yang juga Ketua Umum PMI itu pun terus mendorong masyarakat Labuan Bajo untuk meningkatkan perekonomian dengan menjual produk-produk asli daerah, sepeti kuliner dan rumah-rumah penduduk yang dapat digunakan sebagai homestay bagi wisatawan yang ingin tinggal di Labuan Bajo.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka Sail Komodo 2013 di Pantai Pede Labuan Bajo pada 14 September 2013 mengatakan kegiatan Sail Komodo serta kegiatan sail lainnya seperti Sail Bunaken, Sail Banda, Sail Wakatobi, dan Sail Morotai merupakan bagian dari tonggak sejarah kebangkitan Indonesia di era Pasifik.

"Melalui kegiatan seperti ini, kita tunjukkan pada dunia bahwa negeri kita tidak hanya kaya akan sumber daya kelautan, tetapi juga kaya akan destinasi pariwisata yang sangat mempesona," ucap Kepala Negara dan menambahkan Sail Komodo merupakan momentum yang tepat untuk mempromosikan kekayaan dan keragaman bahari kepulauan Nusantara kepada masyarakat dunia, selain sebagai sarana untuk lebih peduli dalam melestarikan komodo, fauna tertua yang masih hidup lestari hingga saat ini.

Menurut Presiden SBY, Sail Komodo sebagai jembatan emas menuju NTT menjadi destinasi utama pariwisata dunia, memiliki makna yang sangat penting bagi percepatan pembangunan di Nusa Tenggara Timur, terutama menjadikannya sebagai pintu gerbang selatan pembangunan di Indonesia, sekaligus destinasi utama pariwisata dunia.

"Banyak kapal niaga dan pariwisata pasti akan singgah di Kawasan Nasional Taman Komodo serta pulau-pulau lain di NTT, insya Allah akan makin menggairahkan pariwisata di kawasan ini. Saya berharap, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Kawasan Nasional Komodo serta pulau-pulau lain di sekitarnya akan menjadi ikon baru pariwisata dunia di kawasan tengah Indonesia," katanya.

Pulau Komodo yang menjadi satu-satunya habitat utama komodo di dunia, telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan alam dunia (natural world heritage) pada 19 Desember 1991, dan ditetapkan menjadi "The New7 Wonders of Nature" oleh New7 Wonder Foundation pada 2012.

"Sebagai warisan alam dunia, kita wajib memelihara, melestarikan, dan mengembangkan Pulau Komodo ini. Melalui Sail Komodo 2013 ini kita dapat terus memperkenalkan dan mengembangkan potensi pariwisata di NTT kepada dunia internasional. Panorama alamnya yang indah, budayanya yang eksotis, serta keberadaan komodo sebagai satu-satunya binatang purba yang tersisa di dunia, merupakan daya tarik yang besar bagi wisatawan dunia," demikian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seperti dilansir dari laman antaranews.