Kemkes RI; Sosialisasi Keamanan Pangan

Kemkes RI;  Sosialisasi Keamanan Pangan

Ruang Maharmadjono, Kemkes RI, Jakarta, Kabarindo- Indonesia sudah punya aturan jelas tentang keamanan pangan.

Pihak Kemkes pagi tadi menghadirkan Ketua YLKI, Husna Zabir, Ditjen Produksi & Pemasaran Hasil Pertanian, Ita Munardini, MP, Dekan FKM UI, DR. Agustin K dan Plt Direktur Kesehatan Lingkungan Kemkes RI, Ekowati R sebagai pembicara untuk memastikan negara hadir melindungi masyarakat terhadap olahan dan penyajian produk pangan.

Dimulai dari paparan beberapa aturan yang jelas tentang keamanan pangan sehingga produk pangan masyarakat tidak terpapar zat kimia berbahaya sampai keracunan (diare hingga kanker) yang menyebabkan kematian dari lebih dari 200 penyakit.

Dijelaskan oleh Ekowati dari Kemkes bahwa pemerintah sudah punya UU No. 18 tahun 2012 tentang pangan.

Anda perlu ketahui bunyi UU itu  yang menyebutkan keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologi, kimia, dan benda lain yang dapat menganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

Termasuk UU Kesehatan no. 36 tahun 2009 pada pasal 111. Ayo waspada terhadap parasit, jamur, virus, bakteri-toksin-intoksikasi dan cemaran kimia seperti rodamin, borax, formalin, methanil yellow dan logam berat, termasuk cemaran fisik (Isi staples, karet, rambut, potongan kayu).

"Tidak hanya masih rendahnya TPM siap saji yang memenuhi persyaratan higienis sanitasi, pengolahan makanan yang tidak menggunakan masker, penutup mulut sampai sarung tangan. Kemkes sudah punya sistem informasi dan monev termasuk menggandeng 1.300 puskesmas kualitas pangan siap saji sampai kabupaten kota agar bisa membina para pelaku UKM makanan siap saji dengan sertifikat dalam pengolahan makanannya," papar Ekowati lugas.

Kemkes memastikan peran dan dukungan dari YLKI dan BPOM untuk ikut berpartisipasi keamanan dan kualitas pangan yang dikonsumsi oleh publik dengan mencermati kelayakan dan keamanan pangan kita.

Pihak akademisi dan peneliti kampus memastikan fenomena mobile food/makanan jajanan yang makin dekat dengan gaya hidup masyarakat perkotaan menjadi tantangan bagi pemerintah dalam pengawasan agar semua tersertifikasi.

"Keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama tidak hanya pemerintah termasuk masyarakat," papar Dekan FKM UI, DR. Agustin K yang ikut peduli melatih para tenaga ahli untuk itu semua termasuk para peneliti.

Sementara itu dari pihak Kemtan RI, Ditjen Produksi & Pemasaran Hasil Pertanian, Ita Munardini, MP bahwa pihak Kemtan sudah mengawasi dengan buku Hijau bagi para petani yang menggunakan pestisida bagi produk pangan sehingga ada residu pestisida (buah-buah berkomestik). "Dilapangan hasil residu itu tidak dibersihkan dengan air tapi para pedagang hanya melap dengan kain saja sehingga mengkhawatirkan. Dipastikan makanan yang tersaji di depan Anda diurusi oleh banyak pihak sehingga semua harus bisa kerjasama untuk keamanan pangan ini, termasuk Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat dan Daerah di dinas pertanian kabupaten kota, ketahanan pangan daerah sesuai kebijakan dari pemda. Jadi apabila Anda menemukan ada hal yang meresahkan terhadap produk pangan apapun bisa dilaporkan ke otoritas tersebut termasuk BPOM atau YLKI selain pejabat pengawas mutu produk pertanian di Kemtan bersama 5 kementerian lainnya" papar Ita lugas.

Terakhir, pihak YLKI dijelaskan oleh Huzna Zahir yang sangat menyambut baik inisiasi dari Kemkes mengundang YLKI karena berhubungan dengan WHO untuk fokus pada keamanan produk pangan.

"Apapun yang beredar di pasar harusnya aman ?persoalannya sekarang siapa yang menjamin itu semua ? Persoalan Indonesia sebagai negara berkembang adalah akses dengan ketersediaan air bersih karena semua peraturan dan sistem pengawasan pangan sudah cukup memadai sementara kelompok konsumen di Indonesia sangat luas dari daya beli terbatas sampai kelas menengah atas," papar Husna detil.

Akhirnya semua pembicara mengingatkan publik sebagai konsumen atas keamanan produk pangan.


Healthy First.............!