Kemendikbud Siap Fasilitasi Musik Sastra; Di Ajarkan Ke Anak-Anak SD

Kemendikbud Siap Fasilitasi Musik Sastra; Di Ajarkan Ke Anak-Anak SD

Museum Nasional, Medan Merdeka, Jakarta, Kabarindo- Mengawali 2017 dengan sinergi dengan berbagai pihak menjadi prioritas dari Kemdikbud RI.

Tentu saja Direktur Jenderal Kebudayaan-Kemdikbud DR Hilmar Farid tidak hanya strategis tapi cerdas saat menggandeng Yayasan Musik Sastra Indonesia disingkat YMSI.

Tentu saja itu adalah Ananda Sukarlan yang tersohor sebagai pianis dan komponis terkemuka tanah air yang sudah melalang buana dengan musik klasiknya.

Ia bersama YMSI seperti dijelaskan salah satu pengurusnya Rina Zoet bersama suami tercinta, ada juga Ibu Pia Alisjahbana dan beberapa lainnya mensponsori Ananda bersama sekolah musiknya dapat melahirkan CHARM.

"CHARM adalah Children in Harmony telah mengembangkan dan menjalankan program memberikan pelatihan musik gratis kepada anak-anak di usia sekolah dasar terutama yang kurang mampu. Hal ini sejalan dengan bentuk partisipasi masyarakat untuk turut mencerdaskan anak-anak Indonesia melalui penyediaan akses, pengenalan dan pendidikan musik, khususnya musik klasik (musik sastra) dengan kaidah Indonesia," jelas Rina semangat.

Sementara itu sesaat sebelum beri sambutan Ananda Sukarlan yang mengaku harus berpiano dulu untuk mengatasi rasa gugupnya berucap bahwab musik sastra adalah musik yang tertulis dan baku sehingga karya sastra sehingga tepat diajarkan mulai level sekolah dasar sehingga tiap anak menemukan jati dirinya dari keberagaman sehingga anak-anak SD makin menghargai perbedaan. Inilah motivasi dari pendidikan karakter berbasis musik.

Mengapa melalui musik untuk pemahaman keberagaman/multikultural? Karena bentuk reformasi pendidikan yang bertujuan memberikan kesempatan yang setara bagi semua siswa tanpa membedakan suku, agama, gender dan kelas sosial. Musik juga menjadi alat bantu untuk tumbuhlan karakter toleran dalam keberagaman.

Ananda tegaskan tidak harus menjadi musisi tapi anak didik mengenal alat musik, pernah memainkannya dan mengenal lagu-lagu daerah.

Dari rilis redaksi mengutip bahwa musik klasik memiliki komposisi yang murni dan indah, abadi serta melintasi batas waktu. Berbagai riset dan temua menunjukkan anak-anak (bahkan dalam janis dalam kandungan) yang secara rutin diperdengarkan musik klasik akan lebih mudah menyerap ilmu pengetahuan (perkembangan otak kiri) serta lebih kreatif dan peka pada keindahan dan budaya (perkembangan otak kanan).

Diselingi dengan hiburan dari para anak-anak SD Cikini 02 dari kelas 4 dan 5 tampil dengan alat musik biolanya unjuk kebolehan.

Takjub, YMSI dengan bangga menyilahkan talenta Different dan Unik menurut Ananda yang punya kekurangan fisik, Allafta Hirzi Sodiq yang kerap disapa Zizi adalah anak tuna netra yang membuat semua hadirin standing applaus akan bakatnya bermain piano dan menyanyi dengan kualitas vokal yang sangat baik laiknya Alicia Key.

Zizi kini diasuh intensif oleh seorang guru bertaraf internasional lulusan Konservatori Musik Belanda, Elise Widirastri.

"Saya bangga dan tentu saja, Kemdikbud siap memenuhi permintaan penyediaan alat-alat musik untuk tahun anggaran/DIPA selanjutnya dan memang harus bersabar karena yang jelas saya setuju musik sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak usia dini. Saya seteuju sekali apabila di ajarkan ke anak-anak SD, apalagi ini adalah sinergi antara masyarakat swasta dan pemerintah dengan seluruh pihak pasti bisa terwujud," papar Hilmar lugas dan meminta media mengingatkan agar terealisasi.

Terlihat hadir, para aktivis dan dewan pakar dari Wow Save ID seperti Yudhistira Massardi (Budayawan), Kak Helga (Aktivis), Ibu Imanita Tresnowulan (Kepsek SDN Kenari 07) bersama dengan guru dan anak didiknya, selain pak Arie Budiman sebagai staf ahli yang mewakili Mendikbud, Muhadjir Efendy dalam prosesi pembukaan bersama dengan Dirjen Kebudayaan DR. Hilmar Farid mewujudkan Generasi Titanium Indonesia 4.0.


Kerja, Kerja dan Kerja....................!