Kemendag RI; Tingkatkan Pasok Dalam Negeri

Kemendag RI; Tingkatkan Pasok Dalam Negeri

Jakarta, Kabarindo- Guna merespon sisi pasokan yang kurang, yang selama ini menjadi salah satu sebab harga daging sapi relatif tinggi di pasar dalam negeri, Kementerian Perdagangan akan mengambil langkah jangka menengah panjang dengan mengeluarkan kebijakan kewajiban kepada importir untuk mengimpor sapi indukan/ betina produktif tanpa batas jumlah.

“Kebijakan impor sapi indukan tanpa batas ini, diharapkan akan mampu menekan angka impor daging sapi, bahkan nantinya Indonesia dapat bebas dari impor, baik sapi maupun daging. Kran impor yang selebar-lebarnya untuk sapi indukan tersebut akan menjadi merupakan lompatan besar terhadap produktivitas/populasi ternak sapi di Indonesia. Melalui kebijakan ini nantinya dapat memenuhi kebutuhan daging sapi di masa yang akan datang melalui turunan sapi indukan,” jelas Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan.

Walapun kebijakan impor sapi indukan ini tanpa batasan jumlah, namun menurut Gita mengingat kurangnya minat para importir serta infrastruktur yang belum sepenuhnya dimiliki mereka untuk membiakkan dan memelihara sapi indukan ini, maka akan diwajibkan bagi para importir untuk mengimpor minimal 25% dari jumlah impor sapi bakalan yang diajukan atau yang disetujui Kemendag. "Secara indikatif, untuk memenuhi 25 persen sapi indukan, diperkirakan jumlah yang akan diimpor sekitar 185.000 ekor sapi indukan," lanjut Gita.

Mengenai impor sapi bakalan dan sapi siap potong, Gita menambahkan bahwa kebijakan ini merupakan kebijakan jangka pendek yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan daging nasional dalam rangka menjaga stabilisasi harga dan ketersediaan pasokan.

Kebijakan impor ini hanya sebagai “alat sementara” untuk menjembatani kekurangan bagi kebutuhan konsumen.

Sapi indukan merupakan sapi betina produktif yang diharapkan dapat melahirkan sampai beberapa kali melalui program inseminasi buatan atau sistem pengembangbiakan sapi buatan di dalam negeri yang berpotensi untuk penambahan jumlah sapi.

Persyaratan dan mekanisme serta aspek legalnya tentunya perlu dirapatkan di tingkat teknis,” imbuh Mendag

Berdasarkan perencanaan indikatif Pemerintah tahun 2014, kebutuhan daging nasional ± 575.000 ton, dimana produksi dalam negeri diperkirakan ± 443.000 ton sehingga kekurangannya sekitar 132.000 ton.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Bachrul Chairi mengatakan bahwa untuk triwulan I (Januari- Maret) 2014, Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan Persetujuan Impor untuk Sapi Bakalan sebanyak 130.245 ekor kepada 35 importir dan Sapi Siap Potong sebanyak 26.360 ekor kepada 16 importir.

"Pengajuan impor sapi indukan, saat ini baru 1.000 ekor oleh satu perusahaan. Harapannya akan banyak pengajuan dari importir lainnya. Kami akan segera melakukan rapat pembahasan bersama pemangku kepentingan untuk pelaksanaannya" kata Bachrul

Perkembangan Harga
Secara nasional, perkembangan harga daging sapi pada minggu II Januari 2014 relatif meningkat, yaitu Rp 97.600/kg dibanding bulan Desember 2013 yang tercatat Rp 94.210/kg.

Harga tersebut bervariasi di beberapa kota. Di daerah sentra yaitu Denpasar, Kupang, dan Makassar kisaran harga rendah yaitu antara Rp 70.000-Rp 80.000/kg. Untuk kota-kota yang dekat dengan daerah sentra harganya antara Rp 80.000-Rp 90.000/kg adalah Palu, Kendari, Ambon, Manado, Semarang, dan Gorontalo. Harga relatif tinggi antara Rp 90.000-Rp 100.000/kg antara lain terjadi di Bandar Lampung, Surabaya, Pekanbaru, Padang, Serang, DKI Jakarta, Bandung, Samarinda, Banda Aceh, Palembang, Bengkulu, Mamuju, dan Ternate.

Ketika ditanyakan mengenai berapa harga ideal daging sapi yang wajar di tingkat konsumen, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Srie Agustina mengatakan bahwa harga daging sapi dipengaruhi oleh tiga titik rantai pasok. Pertama di tingkat farm gate atau di tingkat peternak untuk harga timbang hidupnya. Biaya produksi ternak di tingkat lokal atau biaya/harga impor yang dipengaruhi kurs dolar amat mempengaruhi pembentukan harga di rantai pasok kedua berikutnya yaitu di Rumah Potong Hewan (RPH) untuk harga karkasnya. Setelahnya adalah harga di tingkat pedagang besar
yang memiliki jaringan ke pedagang pengecer di pasar-pasar tradisional.

"Sebagai contoh, bila harga timbang hidup di farm gate atau di pasar hewan sekitar Rp 31.500/kg, maka harga karkas utuh sekitar Rp 63.000,-/kg. Dengan harga ini, maka harga daging di tingkat pedagang bisa terbentuk hanya di kisaran Rp 78.000,-/kg, mendekati harga tahun lalu sebesar Rp 76.000,-/kg. Untuk tingkat eceran tergantung besarnya margin yang ingin didapatkan. Dengan keuntungan normal rata-rata Rp 5.000 maka harga ecerannya adalah Rp 83.000,-/kg. Faktanya, harga timbang hidup saat ini di kisaran Rp 37.000 - Rp 40.000,- maka harga di eceran menjadi
sekitar Rp 89.000-Rp 94.000/kg", demikian Srie menjelaskan.