Kemendag Perkuat Sistem Resi Gudang; Dukung Stabilisasi Harga Pangan

Kemendag Perkuat Sistem Resi Gudang; Dukung Stabilisasi Harga Pangan

Lampung, Kabarindo- Pemerintah terus hadir memberikan solusi bagi persoalan pangan nasional.

Hal ini dibuktikan dengan upaya yang dilakukan Kementerian Perdagangan dalam mengembangkan operasional Sistem Resi Gudang (SRG).

SRG merupakan salah satu upaya Kemendag untuk menjaga stok pangan daerah dan nasional. Ketersediaan pangan di daerah akan mendukung upaya stabilisasi harga pangan dalam negeri sekaligus sebagai upaya mencapai ketahanan pangan nasional.

“Optimalisasi SRG merupakan bukti nyata komitmen Pemerintah Pusat dan Daerah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha kecil menengah,” tegas Inspektur Jenderal Kemendag RI Karyanto Suprih, selaku Plh. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), saat menghadiri Pencanangan Operasional SRG di Desa Tekad, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, kemarin (29/5).

Acara ini dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Arinal Djunaidi dan Bupati Tanggamus Bambang Kurniawan.
Hingga 27 Mei 2015 Kemendag telah menerbitkan 1.943 resi gudang dengan total volume komoditas sebanyak 74.517,13 ton yang diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan terhadap kualitas komoditas pertanian yang diperdagangkan.
Jumlah tersebut didominasi komoditas gabah sebanyak 63.985,59 ton, disusul beras 5.417,72 ton, jagung 4.670,03 ton, rumput laut 420 ton, dan kopi 77,79 ton. Total nilai resi gudang yang telah diterbitkan sebesar Rp 382,13 miliar dengan pembiayaan dari bank dan nonbank mencapai Rp 238,69 miliar.

“Dari waktu ke waktu, resi gudang terus meningkat. Namun, Kemendag akan terus meningkatkan volume komoditas yang disimpan dalam gudang SRG. Kemendag optimis SRG mampu menjadi salah satu tolak ukur Pemerintah dalam memperhitungkan stok pangan nasional,” tambah Karyanto.

Pertumbuhan SRG menunjukkan perkembangan positif. Pada 2014, volume komoditas dalam SRG meningkat 4% (853 ton) dengan nilai komoditas meningkat sebesar 7% (Rp 7,6 miliar) dibandingkan tahun 2013. Sedangkan pembiayaan yang diberikan dari Lembaga Keuangan (bank/nonbank) meningkat sebesar 13% (Rp 8,8 miliar).

Ditegaskan Karyanto, untuk mewujudkan stabilitas harga pangan, Pemerintah melakukan berbagai upaya, salah satunya adalah mengupayakan cara meningkatkan posisi tawar petani, khususnya dalam menentukan nilai dan waktu jual komoditas hasil panennya. Untuk itu, diperlukan keterbukaan terhadap akses pembiayaan dari lembaga pembiayaan baik bank maupun nonbank. Melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2011, SRG hadir untuk menjawab ancaman tersebut.

“SRG merupakan instrumen perdagangan dan pembiayaan yang dapat mendukung upaya stabilisasi harga pangan nasional, mendorong peningkatan daya saing perdagangan, dan perluasan akses peningkatan modal kerja bagi para petani, UKM, maupun pelaku usaha lainnya,” tegas Karyanto.
Kemendag terus melakukan berbagai upaya mendorong perluasan pelaksanaan SRG dengan membentuk kelompok kerja, melakukan sosialisasi, melatih tenaga penyuluh dan tenaga pengawas, melaksanakan MoU dengan kementerian/lembaga terkait, dan membangun gudang. Salah satu gudang berada di Tanggamus Lampung. Bagi petani, kelompok tani, gapoktan, dan koperasi hanya dikenakan bunga 6% per tahun dari Subsidi Bunga Resi Gudang (S-SRG).

Manfaatkan SRG
Kabupaten Tanggamus merupakan kabupaten ke-3 yang telah menerbitkan resi gudang setelah Lampung Selatan dan Tulang Bawang di Provinsi Lampung. Gudang SRG di Kabupaten Tanggamus adalah gudang milik Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kemendag Tahun Anggaran 2011. Gudang SRG di Tanggamus mendapatkan persetujuan sebagai Gudang SRG pada 30 Oktober 2014 dengan pengelola gudang PT. Bhanda Ghara Reksa (Persero), yang pengelolaannya berbentuk perjanjian kerja sama kelola dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus.

Pada Mei 2015, Gudang SRG Kabupaten Tanggamus telah menerbitkan empat resi gudang untuk komoditas gabah dengan volume 42,9 ton atau senilai 163,6 juta. Dari empat resi tersebut yang diagunkan sebanyak 3 resi gudang sebesar 34,8 ton atau senilai 132,8 juta dengan pembiayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank BJB sebesar 91,6 juta.

Karyanto mengharapkan, Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Pesisir Barat dapat segera menyusul, sehingga fasilitas yang telah dibangun bersama melalui DAK Kemendag Tahun Anggaran 2011, 2012, dan 2014 dapat dimanfaatkan para petani, kelompok tani, gapoktan dan koperasi/UKM, maupun para pedagang, dan eksportir sebagai sarana tunda jual dan alternatif pembiayaan perdagangan.

“Saya harapkan manfaat SRG dapat segera dirasakan masyarakat kita, khususnya di Provinsi Lampung,” pungkas Karyanto.