Kaum Muda; Makin Cinta Minum Jamu

Kaum Muda; Makin Cinta Minum Jamu

Jakarta, Kabarindo- Kedai kopi biasanya menjadi "tongkrongan" pilihan bagi kaum muda untuk bersantai menghabiskan waktu.

Tapi, ada kedai jamu yang juga jadi tongkrongan, tempat yang tepat bagi mereka yang susah menemukan jamu keliling.

Salah satunya adalah kedai jamu di Jakarta Selatan bernama Suwe Ora Jamu.

Di halaman kedai, tampak lima mobil berjejer hingga menutupi pintu masuk. Sepeda gagang panjang bertengger manis sesaat pengunjung memasuki ruangan lantai satu.

Etalase bungkus jamu dan jajanan kue dalam kaleng menarik langkah pengunjung sebelum menaiki lantai dua atau tiga.

Lantai satu yang berkapasitas 16 orang pengunjung terlihat ramai dengan 7 pelanggan yang duduk menyebar di area khusus perokok pasif ini.

Ada yang datang sendiri sambil memandangi laptop, ada juga yang datang bersama kekasih dan teman-teman.

Salah satu pelanggan, Anya (23) sudah hampir sepuluh kali mampir ke kedai untuk kongko sambil menikmati jamu bersama kekasih dan teman-temannya.

"Aku sering ke sini soalnya waktu kuliah langganan jamu tapi udah jarang nemuin jamu keliling. Selain tempatnya nyaman untuk nongkrong ramai-ramai, banyak juga pilihan menu jamunya," katanya sambil melihat buku menu.

Dari 30 varian jamu yang ditawarkan di kedai tersebut, Anya memesan kunyit asam dingin. Sementara itu, kekasihnya, Airlangga (24), memesan green tamarin dan wedang ronde.

Jamu yang tersedia tidak hanya jamu pahit dan botolan yang biasa dijajakan penjual jamu keliling, tetapi juga jamu yang diblender, dikocok, dan dicampur dengan buah dan sayuran sehingga rasa pahit tidak dominan ketika diminum.

Pelanggan biasanya memesan mocktail jamu, yakni jamu yang dicampur buah-buahan.

Pilihannya pun beragam, seperti pretty red rosela yang merupakan campuran buah leci dan olahan bunga rosela atau jamu coco kencur, yakni beras kencur yang dicampur dengan sari kelapa.

Jamu tarik juga menjadi pilihan tepat bagi kaum muda yang tidak terlalu suka jamu karena campuran susu membuat rasa rempah tidak terlalu kuat.

Harga segelas jamu berkisar antara Rp12.000 hingga Rp25.000. Menurut Anya, harga ini masih terjangkau untuk mahasiswa dan pekerja.

Nova Dewi, sang pemilik, terus mengembangkan variasi jamu yang tentunya membuat anak muda kembali meminum jamu.

Berbekal kecintaannya terhadap jamu serta resep turun-temurun dari orang tua, ia berinovasi membuat jamu yang tidak hanya bisa dinikmati anak muda, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh.

Nova bersama rekannya, Uwi, membuka kedai jamu ini sejak Februari 2013 lalu karena merasa jamu mulai ditinggalkan anak Indonesia.

Jamu juga harus menjadi kebanggaan anak muda ketika meminumnya karena itu adalah minuman tradisional yang harus diapresiasi.

"Saya ingin jamu tidak hanya dikonsumsi sebagai obat ketika sakit, tetapi gaya hidup dan rutinitas. Justru kalau kita meminum jamu, akan terhindar dari penyakit," kata wanita asal Surabaya itu.

Hal yang sama juga dilakukan Rendy Basuki (30) yang membuka kedai jamu bernama Miss B di daerah Lebak Bulus.

Cat hijau cerah yang membuat nyaman serta banyak lukisan karakter wanita yang sering menjadi sampul novel terpampang pada kedai yang berdiri sejak Oktober 2011 ini.

Gambar karakter wanita tersebut adalah Miss B, tokoh rekaan dalam novel yang diciptakan Fira Basuki, kakak pemilik kedai.

Rendy berpendapat bahwa membuka kedai jamu tidak hanya mengubah cara berpikir anak muda, tetapi juga mengubah jamu yang biasanya dijual keliling, kini dapat dinikmati di kedai.

"Kalau kafe ditongkrongi anak muda sudah biasa, tapi kalau kedai jamu itu baru beda. Yang saya harapkan jamu tidak hanya dikonsumsi kelas bawah saja, tetapi juga kelas menengah," kata adik dari Fira Basuki itu.

Berbeda dengan Suwe Ora Jamu, Miss B tidak menyajikan jamu bubuk. Jamu rebusan, seperti kunyit asam, beras kencur, wedang uwuh, wedang ronde, dan sarang semut putih tersedia dengan kisaran harga Rp12.000 hingga Rp30.000.

Rendy juga mengatakan pukul 14.00 hingga 16.00 WIB adalah waktu yang ramai dikunjungi karena lewat jam makan siang dan waktu yang tepat untuk mengemil sambil meneguk jamu.

Diandra (21) saat ditemui di tempat, ia mampir ke kedai jamu karena kedai dekat dari rumah dan sulit menjumpai penjual jamu yang keliling komplek.

"Sebelum lebaran ada yang keliling rumah, tapi habis lebaran udah tidak kelihatan lagi. Jadi, saya mampir ke sini karena di sini jual jamu di botol jadi tidak perlu bolak-balik lagi," katanya.

Satu lagi kedai jamu lainnya yang juga banyak didatangi anak muda adalah Bukti Mentjos di Salemba, Jakarta Pusat.

Kedai ini sudah berdiri dari tahun 1940an, namun saat itu suasana belum seramai dan semewah sekarang, yakni hanya ada bangku dan meja etalase untuk memajang varian jamu.

Kedai jamu ini sedikit berbeda karena tersedia tempat duduk di depan etalase meja pembuatan jamu. Pengunjung pun dapat melihat aktivitas karyawan yang sibuk menyeduh dan mengaduk jamu.

Bunga dan tanaman yang digantung, kicauan burung, serta kokokan ayam bekisar di halaman membuat pelanggan seakan jauh dari hiruk pikuk ibu kota saat menikmati jamu.

Meja dan tempat duduk pengunjung mengelilingi ruangan karyawan berseragam batik yang siaga untuk melayani pesanan.

Di dalamnya, rak-rak berisi kaleng dengan label nama jamu menambah pemandangan saat menunggu jamu diseduh.

Kedai yang dimiliki oleh Horatus Romuli ini menawarkan lebih dari 50 jenis jamu dengan kisaran harga Rp17.000 hingga Rp29.000.

Mulai dari jamu bubuk,jamu kapsul hingga bedak dingin dan lulur tersedia di sana. Cemilan berat, seperti bubur dan kolak melengkapi hidangan kedai jamu tertua di Jakarta tersebut.

Ardhito (22) baru dua kali mengunjungi kedai dengan slogan "rakyat sehat, negara kuat" itu. Ia mengaku wajib memesan wedang ronde untuk menghangatkan badan.

"Saya tidak terlalu suka jamu, tapi ke sini buat wedang ronde atau kolak, ya cemilan yang kadang susah ditemui," kata mahasiswa semester akhir tersebut.

Menurut salah satu karyawan, Rusmi (35), semua jamu di kedai ini, baik bubuk maupun rebusan dibuat sendiri dari resep turun temurun. Saat ini, Horatus ialah generasi ketiga yang terus diwariskan untuk mempertahankan jamu tradisional keluarga.

Meski belum ada inovasi dari jamu di Bukti Mentjos, nyatanya banyak anak muda yang rajin untuk sekadar mampir meneguk kunyit asam dan beras kencur sebagai penyegar badan seperti dilansir dari laman antaranews.