KASAU; Buka Seminar Kedirgantaraan

KASAU; Buka Seminar Kedirgantaraan

Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kabarindo- Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna, pagi ini membuka kegiatan Seminar Kedirgantaraan yang diselenggarakan di Persada Purnawira Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin 25/04.

"Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat A|lah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan karuniaNya, kita dapat bertemu dan bersilaturahmi pada acara seminar Air Power, yang mengangkat tema “Meningkatkan Peran TNI Angkatan Udara, Dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia”, dalam keadaan sehat wal’afiat," ucap Kasau saat mengawali pidato sambutannya di hadapan seluruh peserta yang hadir dalam seminar tersebut.

Lebih lanjut ia mengatakan, seminar yang kita selenggarakan ini bernilai sangat strategis, karena materi yang akan kita diskusikan terkait dengan peran TNI Angkatan Udara, yang didedikasikan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, guna menetapkan langkah strategis dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Kasau juga memaparkan seiring dengan program pemerintah, poros maritim merupakan sebuah terobosan dan gagasan strategis yang diwujudkan antara Iain untuk menjamin koneksitas antar pulau, perbaikan transportasi Iaut. serta fokus pada keamanan maritim. Hal ini sangat penting dan perlu segera kita tindak lanjuti, mengingat tataran global saat ini menghadapi keterbatasan sumber daya alam di darat, sehingga eksplorasi energi cenderung bergeser ke laut. Kemudian dari aspek trans national crime, kegiatan ilegal merajalela, seperti kejahatan lintas negara tidak terjaga, baik illegal imigrant, arms smuggling, drug trafficking, money laundring, human trafficking, maupun aksi terorisme. Kemudian, di tataran regional, konflik perbatasan dan isu kedaulatan berpotensi menjadi konflik terbuka antar negara di kawasan, yang tidak menutup kemungkinan konflik tersebut akan mengundang keterlibatan negara asing, jelas Kasau.

Kondisi ini salah satunya dipicu karena kepentingan akan sumber daya alam, baik sumber daya air, tanah maupun sumber energi.

"Selain masalah perbatasan yang belum terselesaikan dengan beberapa negara tetangga, Indonesia juga memiliki dua belas pulau-pulau kecil terluar yang masih memerlukan perhatian dalam pengelolaannya agar kedaulatan dan keutuhan wiIayah NKRI dapat terjaga," lugas Agus.

Pelanggaran melintasi wilayah udara dan laut NKRI oleh pesawat atau kapal asing di wilayah yurisdiksi nasional dengan memanfaatkan kawasan blank spot area masih akan terus terjadi.

Dalam waktu yang sama, Agus Supriatna mengutarakan bahwa, Indonesia memiliki tujuh belas ribu Iebih pulau, dengan letak geografis yang sangat strategis, hal ini bukan tidak mungkin dengan segala kekayaan alamnya menjadi incaran kepentingan pihak asing. Namun demikian untuk sementara ini kita belum dapat menjangkau untuk menjaganya, apalagi memanfaatkan bagi kehidupan orang banyak, sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.

Mencermati perkembangan hal tersebut di atas, kita perlu mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, diantaranya;
Pertama masalah kepemilikan, terkait dengan kedaulatan NKRI karena terpencilnya pulau-pulau tersebut, kita tidak bisa setiap saat melihat secara jelas sehingga sering timbul klaim atas sebuah pulau.
Kedua, masalah kehadiran atau physical pressence, akibat Iokasi pulau terlalu jauh dari pusat pemerintahan.
Ketiga, masalah kondisi ekonomi, kondisi ini disebabkan belum ditemukannya langkah jitu pengelolaan ekonomi oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Dari identifikasi masalah tersebut, sejalan dengan agenda pemerintah untuk perubahan, menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan yang dikenal dengan Tri Sakti, dirumuskan kedalam sembilan agenda prioritas pemerintah yang disebut dengan Nawa Cita.

Kasau menegaskan, pada point pertama disebutkan bahwa “Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara”. Hal ini mengisyaratkan bahwa TNI bersama sama dengan segenap komponen bangsa, harus selalu hadir disetiap jengkal tanah sekaligus mampu menjaga NKRI.

"Saya berharap dengan apa yang saya sampaikan ini, meskipun sangat singkat dalam arti hanya garis besarnya saja, saya yakin bahwa, dengan pengetahuan, pengalaman, dan wawasan peserta seminar miliki, sekaligus didukung oleh narasumber yang professional, tentunya bisa dikembangkan sehingga dapat menghasilkan rumusan yang tepat, untuk memformulasikan peran TNI Angkatan Udara dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia," ujar Agus memberikan semangat.

Terlepas dari itu semua, perlu saya sampaikan bahwa, TNI Angkatan Udara dengan segala kemampuan dan batas kemampuannya, senantiasa siap mewujudkan pertahanan negara yang handaI, guna menjaga dan mengamankan kedaulatan NKRI, tambah Kasau.

"Dengan ini, tepat pukul 09.04 WIB resmi saya buka seminar kedirgantaraan," tutup Kasau sambil mengetuk 3 kali sebagai tanda dimulainya seminar.