KARLINA SUPELLI; Siap Beri Pidato Kebudayaan

KARLINA SUPELLI; Siap Beri Pidato Kebudayaan

Jakarta, Kabarindo- Hutan raya adalah hidup kami. Kami hidup selama berabad-abad bersama dan dari hutan. Ketika hutan hancur maka seluruh hidup kami hancur. Dan kami akan mempertahankan itu dengan nyawa kami.

Kalimat di atas merupakan kutipan dari seorang Kepala Suku Dayak di Kalimantan Timur, beberapa tahun lalu. Dia gusar karena hutan yang menjadi tempat tinggalnya terus dirambah dan dijarah mesin-mesin raksasa dari kota. Dia khawatir hutan yang menjadi sumber pengetahuan, budaya, dan teknologi masyarakat Dayak akan punah seperti dinosaurus dalam sepuluh tahun lagi.

Kegusaran sang kepala suku itu ditangkap jelas oleh filsuf Karlina Supelli. Menurut dia, kehancuran hutan di Kalimantan, juga di daerah lain, adalah buah dari ketamakan manusia. “Kebudayaan hilang bukan karena evolusi tapi karena ketamakan,” kata dia. Meskipun kehancuran sudah di depan hidung, namun masyarakat seolah membiarkannya. “Kita tidak cukup marah (atas keadaan ini). Kita perlu mengubah sikap dan tegas.”

Itulah sekelumit hasil pemikian dari Karlina Supelli yang akan dia paparkan dalam pidato kebudayaannya yang berjudul “Kebudayaan dan Kegagapan Kita”. Di hadapan sekitar seribu tamu undangan, Karlina akan membongkar ketamakan manusia Indonesia khususnya paska era reformasi.

Selain itu, Karlina juga akan memaparkan strategi dan siasat kebudayaan sebagai solusi atas permasalahan ini. Pidato kebudayaan Karlina Supelli ini akan diadakan pada Senin, 11 November 2013 pukul 19.30 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.
 
Pidato Kebudayaan tahun ini dikemas secara berbeda dari sebelumnya karena Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, Akademi Jakarta dan para anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Periode 2013-2015, akan menyambut langsung para undangan. Selain itu, DKJ juga akan menggelar pameran sejarah Pidato Kebudayaan dari tahun 1989 sampai 2012 di lobi dan halaman Teater Jakarta. Bukan hanya itu saja, acara ini dimeriahkan oleh pertunjukan musik audio-visual kolaborasi antara seniman multimedia, Ricky “Babay” Janitra, dengan kelompok Aksan Sjuman and the Committee of the Fest.