Inilah Catatan Dewan Juri; APRESIASI FILM INDONESIA 2013

Inilah Catatan Dewan Juri; APRESIASI FILM INDONESIA 2013

Cikini, Menteng, Jakarta, Kabarindo- No One Perfect but \everything have to explain it well about why ?

Paling tidak itu yang mengemuka sejak kemarin malam perhelatan AFI 2013 yang berbudget 4,4 M usai dengan kemeriahan serta pemilihan Film Atambua 39 Derajat Celcius sebagai peraih piala Dewantara 2013 kategori film bioskop.

Menurut rilis berupa catatan para dewan juri AFI 2013 yang diketuai Totot Indarto, dengan anggota: Mathias Muchus, Erwin Arnada, Nirwan Dewanto, Jajang C Noer, Dana Riza, Linda Christanty, Hafiz Rancajale, dan Wahyu Aditya. Ke-9 dewan juri ini memang berasal dari latar belakang yang beragam, seperti aktris, aktor, sutradara, praktisi periklanan, produser, pembuat efek visual dan produksi animasi, sastrawan, hingga wartawan.

Dari hubungan cellphone beberapa menit yang lalu ketidakhadiran Jajang C Noer dan Mathias Muchus ia tidak ketahui tapi yang jelas untuk memilih Atambua 39 derajat celcius itu bulat atau 100% semua memilih dengan suara sama tidak ada perbedaan.

Mereka sepakat memilih karena film yang disutradarai oleh sineas berdarah Bugis Makassar, Riri Riza itu memiliki kekuatan isi dan estetika yang saling menunjang.

Ketika sebagian besar film kita hanya mampu mengolah masalah di pusat-pusat pertumbuhan Indonesia atau sekadar mengalihkan masalah pusat itu ke lokasi lain di luar pusat, Atambua menukik ke persoalan mutakhir di wilayah pinggiran Indonesia, di Timor sebelah barat. Dalam film besutan Riri Riza ini, lokasi bukan lagi sekadar latar, namun jiwa film itu sendiri. Tak ada set yang dibuat. Tak ada melodrama. Tak ada eksotika sedikit pun. Film ini terwujud dari interaksi antara sutradara dan para pemain non-aktor, yaitu orang-orang yang hidup di habitat yang bersangkutan. Konsep penyutradaraan yang kuat menjadikan film ini sebuah fiksi “semi-dokumenter”, tentang anggota-anggota keluarga yang terpisah oleh kemerdekaan Timor Leste. Ia menjadi drama sosial yang menyentuh justru karena tidak diromantisir. Sebuah garapan sutradara-auteur yang kuat, yang membuka cara baru dalam menonton film.

Dewan Juri, yang beranggotakan sembilan orang, bekerja berdasarkan Pedoman Apresiasi Film Indonesia 2013 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kendati demikian, mereka melakukan penilaian dengan keleluasan dan kebebasan sepenuhnya.

Tentang tajuk utama “Apresiasi Film Indonesia Berbasis Nilai Budaya, Kearifan Lokal dan Pembangunan Karakter Bangsa”, mereka menyatakan bahwa yang disebut “nilai budaya”, “kearifan lokal” dan “karakter bangsa” bukanlah kumpulan stereotipe, tapi nilai-nilai yang cair, selalu berubah, dan menuntut pewujudan yang baru—sejalan dengan aspirasi bangsa Indonesia untuk mencapai taraf kemajuan yang lebih tinggi.

Bagi kami, “film-film Indonesia berbasis nilai budaya, kearifan lokal dan pembangunan karakter bangsa” adalah film-film yang bergulat dengan berbagai kompleksitas dan komplikasi untuk menjadi Indonesia, mengucapkan aneka tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia mutakhir, dan menggali berbagai potensi yang disediakan oleh warisan budaya Nusantara maupun dunia.
Dengan demikian, film-film yang kami pertimbangkan untuk memperoleh penghargaan adalah yang menyajikan perspektif tajam-kritis akan aneka masalah-sosial budaya Indonesia. Bagi kami, film-film yang demikian itu berpotensi menyegarkan kreativitas perfilman Indonesia maupun memperbaharui komunikasi dengan publik pemirsa.

Pada akhirnya sebuah film dengan muatan apapun adalah karya seni yang dibuat dengan keterampilan dan kepiawaian, sebuah “bahasa” yang memiliki tradisinya sendiri. Itulah sebabnya, bagi kami, sebuah film yang hanya diperalat untuk menyampaikan pesan namun abai kepada bentuknya sendiri bukanlah film yang berhasil. Dengan kata lain, sebuah film yang baik tidaklah berkhotbah, bahkan tidak mengandung verbalisme.

Kendati demikian, perlu disampaikan bahwa Apresiasi Film Indonesia berkaitan erat dengan pendidikan dan kebudayaan. Dalam hal ini sikap dewan juri sangat gamblang: mereka tidak menyertakan film-film yang tidak sesuai dengan kode-kode pendidikan serta pengajaran anak-anak dan remaja. Oleh karenanya, film-film yang unggul secara mutu namun mengandung kekerasan, seks, horor, sadisme, dan sejenisnya, tidak masuk ke dalam ranah penilaian kami.

Bagi Dewan Juri, “apresiasi” adalah penghargaan terhadap kreativitas film yang berani meneropong seluk-beluk manusia Indonesia sekaligus membuka jalan-jalan baru kreativitas perfilman Indonesia dan mengubah resepsi penonton, sekalipun semua upaya ini memerlukan waktu dan proses untuk mencapai hasil maksimal.

Dewan Juri berkerja berdasarkan “daftar pendek” hasil penjaringan panitia dan seleksi Tim Ahli yang juga berpegang pada Pedoman Apresiasi Film Indonesia 2013, namun juga berunding dengan mereka untuk memperbaharui daftar-daftar tersebut, mengusulkan apa yang memang layak dinilai berdasarkan pengalaman kami menonton film dan mengamati perfilman Indonesia selama jangka waktu yang ditetapkan oleh Pedoman.

Penting untuk dikemukakan bahwa jumlah entri beberapa kategori yang berhasil dijaring panitia sangat sedikit, sehingga “daftar pendek” yang dihasilkan Tim Ahli sangat minim. Akibatnya, kami kesulitan memilih calon dan penerima penghargaan. Akan tetapi, sedikitnya calon dan ketiadaan penerima penghargaan di beberapa kategori kami yakini sama sekali tidak merepresentasikan kekayaan dan kesemarakan dunia film animasi, film pendek, dan film “independen” yang senyatanya.

Beberapa anggota Dewan Juri terlibat dalam entri yang dinilai. Hal yang memang sulit dihindari karena kami umumnya memang pekerja aktif di perfilman Indonesia. Tapi untuk memastikan obyektivitas penilaian, anggota yang terlibat dalam produksi atau kegiatan yang sedang dinilai dilarang mengikuti proses penilaian.