Inilah 5 Profil; Peraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2015

Inilah 5 Profil; Peraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2015

Jakarta, Kabarindo– PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. (Danamon) mengumumkan 5 (lima) peraih Danamon Social Entrepreneur Awards (DSEA) 2015, yaitu para individu yang membangun wirausaha berkelanjutan untuk mengatasi masalah sosial di lingkungannya.

Mereka adalah Ahmed Tessario dari Banyuwangi, Fajri Mulya Iresha dari Depok, Ni Kadek Citra Ekawati dari Bali, Putu Gede Asnawa Dikta dari Bali dan Yayah Muslihah dari Purbalingga. Usaha mereka bergerak dalam bidang  pengembangan teknologi desa, pengolahan sampah, agro wisata, serta kesehatan dan kecantikan.

Total peserta DSEA 2015 kali ini adalah 426 peserta atau naik 21% dibandingkan tahun lalu sebanyak 352 peserta. Setelah melewati proses seleksi yang ketat serta mekanisme penjurian dengan menggunakan empat kriteria penilaian, yaitu Motif (Ide Awal), Outcome (Hasil), Outreach (Dampak), Sustainability (Komitmen), kelima peraih DSEA 2015 tersebut mengungguli peserta lainnya. Proses seleksi dan penjurian DSEA 2015 tersebut dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Rhenald Kasali, Ketua Dewan Juri yang merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia; Choirul Djamhari, Deputi Menteri Bidang Pembiayaan Kementrian Koperasi dan UKM RI; Usman Kansong, Direktur Pemberitaan Harian Media Indonesia; Nadine Zamira Sjarif, Miss Earth Indonesia 2009; dan Ketut Alam Wangsa Wijaya, DSP Business Performance & Alignment Head Danamon.

Ketua Panitia Pelaksana Danamon Social Entrepreneur Awards 2015, Zsa Zsa Yusharyahya mengatakan, “Melalui ajang DSEA 2015, Danamon ingin memberikan penghargaan dan apresiasi kepada para pelaku usaha yang memiliki komitmen sosial serta mampu memberikan kontribusi dalam mensejahterakan komunitas di lingkungannya. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Danamon yaitu Kami Peduli dan Membantu Jutaan Orang Mencapai Kesejahteraan. Kami berharap perjuangan kelima peraih award ini menjadikan inspirasi bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami mengajak semua lapisan masyarakat melakukan voting online untuk memilih peraih favorit.”

Voting online yang dibuka sampai dengan 1 November 2015 melalui website resmi DSEA 2015 yaitu http://www.danamonawards.org dan pengumuman peraih favorit hasil voting akan diumumkan pada tanggal 12 November 2015. Informasi terkini mengenai DSEA dapat dilihat melalui jejaring media sosial yaitu : Facebook (Fanpage Danamon Award) dan Twitter (@dsocialpreneur).

Berikut profil singkat kelima peraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2015 :

1.     Ahmed Tessario
Pengembang Teknologi Desa

Pada tahun 2012 lahan yang digarap seluas 11 Ha yang meliputi 3 kecamatan dan di kelola oleh 24 orang petani dimana hasil produksi rata - rata sebanyak 4,4 ton/Ha. Untuk tahun 2015, program ini sudah berjalan secara swadaya dan sudah berkembang di 7 kecamatan di Banyuwangi. Produk beras organik yang dihasilkan adalah : beras merah organik, beras putih organik, beras coklat organik, beras merah putih organik dan beras hitam organik. Omset penjualan yang dicapai ketika memulai program ini sebesar RP. 127.500.000,- pertahun dan kini pada tahun 2015 omset pertahun menjadi Rp. 1.758.386.500,-

Keuntungan yang didapatkan oleh petani yaitu peningkatan pendapatan dari hasil jual panen yang lebih tinggi dan pasti, ilmu pengetahuan yang didapat dari bincang tani yang mengundang pihak universitas dan juga produktivitas lahan yang meningkat seiring pemakaian organik. Banyaknya mitra yang kini mendapatkan dampak penjualan sudah ada 36 mitra penjualan di seluruh Indonesia. Program ini merupakan program jangka panjang yang memiliki masa depan yang sangat menjanjikan. Produk organik sekarang sudah bukan menjadi barang sekunder dimasyarakat akan tetapi sudah menjadi produk primer bagi kalangan masyarakat kelas menengah keatas. Dalam perencanaan kedepan, program ini dibagi menjadi 2 aspek, yaitu aspek produksi dan aspek pemasaran. Dari aspek produksi program ini menargetkan untuk bekerja sama dengan 300 ha lahan organik dengan masa panen yang diatur untuk mencukupi permintaan pasar pada tahun 2016. Dari segi pemasaran, program ini menargetkan untuk mendistribusikan produk beras organik keseluruh indonesia pada tahun 2016 dan menginisiasikan eksport pada pertengahan tahun 2016.

2.     Fajri Mulya Iresha
Memberdayakan Para pemulung dan Kaum Marjinal Dalam Usaha Zero Waste Indonesia

Pemikiran Fajri tentang sampah yang mempunyai  nilai ekonomis kalau bisa di kelola dengan baik sebagai latar belakang dibentuknya kegiatan Zero Waste Indonesia. Dimulai dengan mengedukasi masyarakat dalam mengumpulkan sampah organik dan non organik kemudian membina bank sampah di sekitaran wilayah Depok, serta kepedulian Fajri terhadap  pemulung dan kaum marjinal untuk turut serta dalam perberdayaan ini. Zero Waste Indonesia berhasil menanamkan kepedulian dan kesadaran warga untuk mengolah dan memilih sampah di rumah tangga.

Omzet yang didapat dari usaha CV. Zero Waste Indonesia mencapai 200 juta  perbulan dengan kapasitas produksi 1 ton setiap hari. Hasil tersebut dapat menambah peghasilan masyarakat dari kegiatan menabung sampah non organik, serta sebagian hasil tabungan bank sampah mereka di gunakan untuk membangun infrastuktur Lingkungan sekitar.

Keberadaan Zero Waste Indonesia  berhasil membina sekitar 25 bank sampah  yang masing  masing bank sampah  melibatkan sekiitar 30 kepala keluarga, total masyarakat yang turut bergabung sekitar 500 sampai 750 warga. Zero Waste Indonesia memberdayakan  7 orang sebagi pekerja, dengan latar belakang mereka ada yang pemulung, pemuda pengangguran, bahkan ada karyawan yang memiliki penyakit kulit yang di asingkan oleh masyarakat, serta ada mantan pemakai narkoba yang coba di berdayakan dengan diberikan mereka tempat tinggal, makan, serta di berikan upah yang layak.

3.     Ni Kadek Eka Citrawati
Mendirikan Usaha Lulur Bali Alus

Berawal dari hobi dan  keinginan untuk menjalani filosofi ”kembali ke alam”. Pada tahun 2000, Kadek menciptakan lulur Bali alus dengan mengembangkan kembali budaya warisan leluhur yang didukung oleh kecanggihan teknologi dan berbekal ilmu informal S1 Design and Beauty Clinic. Selain itu  banyaknya warga lokal terutama ibu-ibu rumah tangga yang sulit kerja di luar rumah karena adanya keharusan melakukan upacara yang kadang dilakukan mendadak. Kadek juga ingin mempopulerkan bahan-bahan tradisional untuk perawatan tubuh sehingga dapat membantu peningkatan ekonomi warga sekitar.

Dari modal awal 30 Juta rupiah kini  omset  pendapatan dari bali halus ini sudah mencapai 15 jt per hari  dengan Total produksi sudah mencapai 400 macam jenis produk dari 150 item yang di produksi. Saat ini  Ni Kadek telah mendirikan spa academy yaitu sekolah khusus untuk para siswa yang akan mendalami bidang spa secara gratis dan di didik secara profesional yang akan di sebar keseluruh Indonesia dan luar negeri secara berkesinambungan.

Dampak yang dirasakan langsung dapat mengurangi pengangguran masyarakat sekitar rumahnya terutama ibu-ibu rumah tangga. Sekarang Bali alus sudah mempunyai karyawan kurang lebih 100 orang dari warga sekitar pabrik dan sekitar 40 % nya adalah karyawan tetap dan 60% nya adalah karyawan lepasan karena di Bali banyak yang menganut agama Hindu dengan banyaknya upacara adat dan sembahyang cukup menggangu aktifitas produksi, sehingga karyawan lepasan yang tidak terikat mereka bisa tetap bekerja  dan mendapatkan income tambahan.

4.     Putu Gede Asnawa Dikta
Mengembangkan Agro Techno Park Salak Sebagai Media Pemberdayaan Masyarakat Petani Salak Desa Sibetan

Putu Gede Asnawa Dikta, Pemuda berusia 21 tahun ini melihat potensi yang besar menjadikan desa Sibetan sebagai desa Wisata Argo Park Salak, disamping itu keprihatinan Dikta dengan kondisi perekonomian petani yang masih tergolong miskin karena saat musim panen raya harga salak anjlok dan petani dirugikan. Terkenal dengan sentra produksi pertanian salak tidak serta merta mampu mengantarkan masyarakat petani salak di desa Sibetan dapat hidup dengan kualitas yang memadai, merujuk pada tingginya angka kemiskinan di kalangan petani salak, mencapai 24% dari total jumlah penduduk (7.425 jiwa). Data ini dapat dijadikan refleksi bahwa aktivitas ekonomi mayarakat berbasis pada pertanian salak belum memberikan trickle down effect pada hidup dan kehidupan petani salak.

Kelompok warga abian wisata yang diketuai oleh Dikta mengembangkan desa Sibetan sebagai area tujuan wisata baru dengan membangun area kebun salak yang luas sekitar kurang lebih 1 ha sebagai projek contoh dari total luas 40 ha ladang salak di kabupaten Karangasem Bali Desa wisata Sibetan yang menawarkan destinasi wisata agro wisata salak. Keberadaan desa wisata salak Sibetan dari tahun 2012 sedikitnya telah merubah taraf perekonomian masyarakat desa dengan melibatkan sepenuhnya masyarakat dalam mengolah aneka produk kreatif salak, buah dan limbah salak yang kini menjadi pemasukan masyarakat. Warga desa Sibetan terlibat di pengelolaan baik sebagai guide, pengolah produk salak dan wisata tani. Di perkirakan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar 5 sampai 7 %. Desa wisata Salak Sibetan saat ini dikunjungi oleh wisatawan asing maupun lokal dengan tingkat kunjungan 7 sampai 15 kelompok setiap minggu dengan jumlah setiap kelompoknya bervariasi antara 7 sampai 35 orang.

Harapan kedepannya dari program ini yaitu adanya penghasilan masyarakat minimal setara dengan UMR Kab. Karangasem (Rp. 800.000,-/bulan) yang sebelumnya hanya rata-rata Rp. 500.000,-/bulan (penghasilan kotor). Terwujudnya demplot kawasan agro wisata salak dengan luas 1 km2 yang meliputi bangunan / sentral / poin (kuantitas: satu) : ticketing, pusat informasi, kebun eksotis, stan kuliner inovatif, foto session, gubuk relax, stan produk kreanova, dan sentral petik salak sebagai cikal bakal lingkungan industri kreatif. Terwujudnya 2 unit demplot sistem tani terpadu sebagai upaya optimalisasi bibit salak unggul dan sistem pengolaham limbah salak berbasis zero waste. 
Adanya kesadaran masyarakat dalam upaya melaksanakan program pilotting project agro wisata menuju “Sibetan Agro Techno Park” yang ideal dan terlembaga di desa Sibetan.

5.     Yayah Muslihah
Mendirikan Kerajinan Bulu Mata

Yayah Muslihah seorang ibu rumah tangga biasa, pada tahun 2012 beliau mencoba mencari tambahan penghasilan untuk menjadi pengrajin bulu mata palsu dari  pengepul biasa ke perusahaan pengrajin bulu mata yang ada di Kabupaten Purbalingga. Disamping itu Yayah mempunyai tanggungan untuk mengobati penyakit kelainan mata yang di alami anak pertamanya,harus rutin dibawa berobat ke Rumah Sakit Spesialis Mata Cicendo di kota Bandung. Sehingga ia pun berusaha untuk mencari kerja sambilan untuk mendapatkan uang tambahan. Tak lama berselang (kurang lebih 3 bulan berjalan) berkat keseriusan Yayah serta keuletannya disaat menjadi pengepul pengrajin bulu mata tersebut, Pimpinan dari PT. Interwork Indonesia menawarkan Yayah Muslihah untuk bekerja sama menjadi Mitra dalam mengerjakan bulu mata dari awal proses pengerjaan hingga finishing.

Tawaran tersebut tidak disia-siakan oleh Yayah sehingga terbesit dalam hatinya berkeinginan untuk menciptakan lapangan kerja dan membantu perekonomian di daerah tempatnya tinggal. yaitu di desa Kedung Wuluh, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga. Saat ini perusahaan pengrajin bulu mata palsu miliknya ini yang telah diberi nama “Yayah Eyeleases”  mempunyai 6 orang karyawan tetap yang bekerja di rumahnya. 4 orang tenaga lepasan pengepul dengan setiap pengepul terdiri kurang-lebih 20 orang yang beranggotanya kebanyakan Ibu-Ibu rumah tangga dan memperdayakan janda-janda diberbagai titik lokasi di desa. Adapun untuk memasarkan produksinya itu Yayah Muslihah selama ini tidak pernah mengalami hambatan karena pihak perusahan telah mengeluarkan pesanan melalui PO (Purchase Order). Tiga tahun berselang sekarang omzet perusahaan yang telah dirintis oleh Yayah terus merambat naik. Dengan target produksi 1000/pcs per hari sehingga mendapatkan omzet pertahun mencapai Rp180.000.000,- 

Dengan berbagai cara Yayah lakukan agar seluruh karyawan-karyawannya berikut para pengepul yang bekerjasama dengannya ikut sejahtera. kedepan Yayah bercita-cita usahanya itu tidak hanya mensub atau sekedar menjadi Mitra perusahaan  saja. Tetapi berkeinginan menjadi sebuah perusahan  sendiri di Kabupaten Purbalingga dengan otomatis akan menyerap tenaga-tenaga kerja di wilayahnya itu.