Inflasi Jawa Timur; Terendah Di Jawa

Inflasi Jawa Timur; Terendah Di Jawa

Surabaya, Kabarindo-Inflasi Jawa Timur pada Juli 2015, secara tahunan (yoy) tercatat 6,81%, lebih rendah dibandingkan nasional (7,26%).
 
Tekanan inflasi di Jawa Timur didorong oleh kenaikan harga kelompok administered price yaitu tarif kereta api, angkutan udara, angkutan antar kota dan dalam kota. Namun tertahan oleh meredanya inflasi kelompok volatile food yang didorong oleh koreksi harga bawang merah dan telur ayam ras.
 
Data tersebut dipaparkan dalam High Level Meeting atau rapat pleno TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) Jawa Timur di Surabaya pada Selasa (11/8/2015) yang bertujuan mengevaluasi pencapaian inflasi Jatim selama Ramadhan dan Lebaran lalu.
 
Rapat dibuka dan dipimpin oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Benny Siswanto, dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Jawa Timur, Hadi Prasetyo, serta dihadiri TPID kabupaten/kota di Jawa Timur.
 
Berbagai langkah telah dilakukan TPID Jawa Timur bersama TPID kabupaten/kota dan instansi terkait selama Ramadhan dan Lebaran diantaranya melalui kegiatan Operasi Pasar Bantuan Ongkos Angkut, pasar murah/bazaar Ramadhan, angkutan mudik gratis, peningkatan buffer stock BBM & LPG, pangkalan siaga, SPBE dan SPBU kantong.
 
Berbagai upaya tersebut berhasil mengendalikan inflasi Jawa Timur selama Ramadhan dan Lebaran sehingga angka inflasi bulanan (mtm) pada periode Juni-Juli 2015 mencatat angka inflasi terendah di Jawa yaitu 0,96% (Juni 2015 sebesar 0,45% dan Juli 2015 sebesar 0,51%).
 
Pertemuan tersebut juga membahas langkah konkrit TPID Jawa Timur menghadapi potensi tekanan inflasi ke depan, terutama terkait potensi risiko anomali iklim El Nino dan dampak erupsi Gunung Raung, yang menghadirkan narasumber Kepala BMKG Juanda Surabaya, H. Doloksaribu dan Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Wibowo Eko Putro.
 
El Nino dan erupsi Raung diyakini oleh TPID Jawa Timur tidak terlalu berdampak terhadap produksi dan ketersediaan pasokan pangan di Jawa Timur. Namun demikian tetap dilakukan berbagai upaya oleh dinas/instansi terkait untuk mengantisipasi kekeringan dampak anomali El Nino, diantaranya merehabilitasi jaringan irigasi tersier, penyaluran 260 pompa air dan pemberian traktor di sentra-sentra produksi.
 
Sementara dampak kekeringan yang patut diwaspadai lebih lanjut adalah munculnya organisme pengganggu tanaman (OPT). Sedangkan untuk meminimalisir dampak erupsi Raung, Dinas Pertanian JawaTimur telah menyalurkan bantuan sprayer di sekitar area bencana. Jika kondisi ini dapat diatasi, TPID Jawa Timur yakin inflasi Jawa Timur pada 2015 masih searah dengan perkiraan awal tahun yaitu 4% + 1%.