Indonesia Sambut Film Soegija; Gelar Diskusi Di Kota Pahlawan

Indonesia Sambut Film Soegija; Gelar Diskusi Di Kota Pahlawan

Surabaya, Kabarindo- Masyarakat bakal mendapat suguhan film yang layak tonton yaitu Soegija.

Sebuah persembahan anak bangsa untuk bangsa dalam rangka Hari Kebangkitan Nasinal (Harkitnas). Film berdurasi 118 menit ini bisa disaksikan di bioskop mulai 7 Juni.

Sebelum diputar, diadakan bedah film di Surabaya yang diadakan Universitas Katolik Darma Cendika dan Puskat pada Minggu (20/5). Acara berlangsung semarak karena dihadiri banyak peserta termasuk para mahasiswa. Pada kesempatan tersebut, diputar potongan film Soegija.

Bedah film menghadirkan Nirwan Dewanto, pemeran Soegija, Romo Budi Subanar SJ, dosen pascasarjana Universitas Sanata Darma Jogjakarta dan penulis buku tentang Soegija, serta Romo Iswarahadi SJ, Direktur Studio Audio Visual (SAV) Puskat Picture Jogjakarta.

Soegija mengisahkan tentang pahlawan nasional Monsigneur Albertus Soegijapranata SJ, putra asli pertama Indonesia yang menjadi uskup pada masa perang kemerdekaan Indonesia. Ia lahir di Semarang pada 25 November 1896 sebagai anak kelima dari 9 bersaudara. Ia meninggal saat berada di Belanda pada 22 Juli 1963. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang. Pemerintah menganugerahinya gelar pahlawan nasional.

Film Sogeija disutradari Garin Nugroho yang tak diragukan lagi kepiawaiannya dan ditangani penata musik Djaduk Ferianto serta dibintangi sederet nama terkenal. Tokoh Soegija diperankan Nirwan Dewanto. Ada pula Butet Kartaredjasa sebagai koster dan Olga Lydia.

Soegija ingin melukiskan cerita kemanusiaan pada masa perang kemerdekaan (1940 – 1949). Film ini ingin menyatukan kembali kisah – kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.

Perang adalah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942, Mariyem yang diperankan Annisa Hertami, terpisah dari Maryono (Abe) dan kakaknya Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).

Keterpisahan ini dialami juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Buddha tak pernah tega terhadap anak – anak karena ia juga punya anak di Jepang. Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang merasa dirinya sebagai mesin perang yang hebat, akhirnya tersentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, rindu pada ibunya. Di tengah perang, Hendrick (Wouter Braaf) juga menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang.

Menurut Romo Iswara, Soegija layak diangkat ke dalam film karena ia pahlawan nasional. Ia juga sosok yang mencintai kemanusiaan. Baginya, kemanusiaan itu satu meski berbeda agama, bangsa dan asal usul.

Sebagai pemimpin agama Katolik, Soegija tak mungkin hadir dalam perang fisik. Namun diplomasi dan keterlibatannya dalam peristiwa – peristiwa kemanusiaan di negeri ini, membuatnya mampu hadir di setiap peristiwa penting bangsa ini.

Iswara mengatakan, film tersebut dibikin berdasarkan buku karya Romo Banar, buku – buku lain, majalah dan melalui riset panjang pada awal 2008 serta dari sumber saksi – saksi hidup. Syuting mengambil lokasi di Semarang, Ambarawa, Magelang dan Klaten.

Ia menjelaskan, tokoh nyata di film tersebut hanya Soegija, sedangkan tokoh lain – lainnya fiktif yang diciptakan sesuai dengan situasi pada masa perang.

Nirwan, pemeran utama di film tersebut, mengaku dirinya adalah penulis dan editor buku. Ia berteman dengan orang – orang perfilman, namun tak pernah berurusan dengan film. Ia juga tak ingin bermain film. Namun ia terus dibujuk Garin dan lain – lainnya untuk bermain di Soegija sehingga akhirnya menerima tawaran tersebut.

Nirwan seorang Muslim, namun ia mampu memerankan Soegija dengan apik. Baginya, bukan halangan untuk memerankan Soegija. Ia justru menganggapnya sebagai tantangan menjadi aktor.

“Religiusitas lebih penting dari sekedar agama formal. Saya sudah sejak lama membaca banyak buah pemikiran Kristiani. Jadi cepat memahami dan menghayati peran itu,” tuturnya.

Nirwan juga mendapat pengalaman batin yang berharga selama syuting. Ia menikmati proses syuting dan bekerja sama dengan tim. Menurut ia, syuting disebut berhasil jika mampu membuat seluruh tim ‘terperangkap dan terharu’ dalam prosesnya.


Dont Miss It...........