Indonesia Punya Festival Krakatau 2014; Lahirkan Kreativitas

Indonesia Punya Festival Krakatau 2014; Lahirkan Kreativitas

Jakarta, Kabarindo- Meletusnya gunung Krakatau ditangkap berbeda oleh Diro Aritonang, seorang seniman dan budayawan kategori perupa sekaligus sastrawan.

Ia menilai terkandung hikmah didalamnya dan terdapat melodi, nilai-nilai puitis, dan goresan estetis yang dapat menginspirasi menjadi sebuah karya artistik.

Dua karyanya dalam bentuk buku kumpulan puisi bertajuk The Song of Krakatoa (Dendang Krakatau), dan puluhan lukisan bertema Color Motion Claimed the Wrath Krakato dipersembahkan. Menjadi bagian dari hajat gelaran Festival Krakatau 2014, yang berlangsung di Sheraton Hotel, kota Bandar Lampung, akhir pekan lalu.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, DR. H. Sapta Nirwandar, SE mengatakan, sejak meletus dengan dahsyatnya, Gunung Krakatau (1883), hanya penyair Muhammad Saleh yang memberi kesaksian dalam “Syair Lampung Karam” (1884). Sejak itu belum ada lagi penyair Indonesia tertarik melukiskan fenomena Krakatau ke dalam puisinya.

“Kini muncul salah seorang putra daerah dari Kalianda (Lampung Selatan), saudara Diro Aritonang. Ia tak hanya menulis puisi, melainkan juga menorehkannya dalam bentuk visual,” ujar Sapta dalam siaran tertulisnya Senin (1/9).

Puisi-puisinya seperti lukisan-lukisannya yakni kekayaan warna, dengan dua karya ini menjadi cara dia menangkap ketakjuban Krakatau. Karya lukis, adalah bagian dari industri kreatif yakni produk yang berbasis kreativitas.

Potensi pasar industri kreatif, lanjutnya, sangat besar. Hampir 50 persen belanja masyarakat di negara-negara maju merupakan produk dan jasa kreatif. Dampak sosial utama dari industri kreatif adalah kontribusinya pada penciptaan lapangan kerja.

“Coba lukisan-lukisan ini kan bisa direproduksi lagi dalam bentuk foto, post card, dan media lainnya. Ini kan luar biasa. Sebuah karya original anak asli Kalianda. Berbedakan dengan lainnya, lukisan ini menggunakan abu vulkanik Krakatau dengan perekat getah pohon Jarak. Belum potensi pariwisata lainnya, seperti alam, seni pertunjukan, kuliner, dan lain sebagianya. Lampung tentu layak tampil di dunia internasional,” papar Sapta.

Belum Merdeka
Selain wisata alam dan seni, menurut Sapta, Lampung berpotensi besar dalam wisata makanan (food tourism), karena memiliki kekayaan etnis, budaya, dan kuliner khas tersendiri.

Diakui, ia merasa prihatin karena potensi tersebut tak tergarap secara maksimal. Sejak zaman kakeknya, kopi Lampung itu sudah dikenal seperti kopi Luak Lampung Barat, pisang Lampung, dan makanan khas Lampung lainnya.

”Tapi kuliner kita kalah populer dengan; sushi, spaghetti, pizza, dan lainnya. Kopi kita masih kalah populer dengan kopi yang dijual dengan franchise branded Starbucks. Kita Indonesia belum merdeka dari sisi kuliner,” kata Sapta.

Sektor pariwisata secara nasional, siap memasuki pertumbuhan tinggi. Bila dalam lima tahun terakhir rata-rata mencapai 8% per tahun, lima tahun ke depan akan meningkat hingga 12-14 persen per tahun.

Pengembangan pariwisata dalam lima tahun ke depan, sebagaimana program Presiden terpilih Jokowi-JK 2015-2019, yang menargetkan kunjungan wisman sebesar 20 juta, merupakan tantangan untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai tumpuan perekonomian nasional.

“Dengan 20 juta kunjungan wisman, devisa yang akan kita peroleh sebesar US$ 24 miliar atau setara Rp 240 triliun. Ini akan menempatkan sektor pariwisata sebagai tumpuan perekonomian nasional,” ujarnya.

Festival Krakatau 2014 berlangsung selama dua pekan dan berakhir pada (31/8). Kegiatan budaya ini dimeriahkan dengan berbagai acara bertema kekayaan wisata dan budaya Lampung. Dikemas dengan berbagai macam acara menarik seperti diskusi budaya, pameran, bazar, pertunjukan musik, dan acara lainnya.

Sebagai kegiatan pamungkas, Festival Krakatau 2014, ditutup dengan acara Carnaval The Legends and Glories of Lampung Culture. Acaranya ini menyuguhkan parade kekayaan budaya Lampung dan Kreasi Tapis Fantasi seperti dilansir dari laman beritasatu.