Indonesia Ikut TSP II Uni Eropa; Awesome

Indonesia Ikut TSP II Uni Eropa; Awesome

Jakarta, Kabarindo– Kementerian Perdagangan fokus melakukan peningkatan kualitas produk ekspor sesuai standar mutu dunia guna memperluas akses ekspor produk Indonesia.

Produk unggulan Indonesia harus dapat memenuhi standar dan persyaratan teknis yang diterima dan diakui di semua negara tujuan ekspor. Upaya tersebut diwujudkan Kemendag dengan berpartisipasi, sekaligus menjadi koordinator teknis, dalam pelaksanaan Trade Support Programme (TSP) II di Indonesia.

TSP II adalah program Uni Eropa yang ditujukan untuk mempercepat integrasi Indonesia dalam perdagangan internasional. Program senilai sekitar EUR 15 juta ini sudah dimulai sejak ditandatanganinya financial agreement oleh kedua pihak pada 30 Oktober 2009 dan akan berakhir pada 30 Oktober 2015. “Sama seperti TSP I, program ini juga dititikberatkan pada pemenuhan produk ekspor Indonesia terhadap standar dan persyaratan teknis lainnya, termasuk traceability produk yang diterapkan Uni Eropa. Kita ingin produk Indonesia meraih standar mutu dunia,” ujar Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kemendag Widodo, dalam pembukaan Pameran Pencapaian dan Penutupan EU-Indonesia TSP II, di Jakarta, Selasa (6/10).

Berdasarkan studi yang dilakukan TSP II pada 2010, program difokuskan pada lima sektor potensial Indonesia yang masih mempunyai pangsa impor relatif kecil di Uni Eropa. Sektor tersebut adalah produk pangan hasil pertanian, perikanan, elektronika, furnitur, dan kosmetik berbahan alami. Widodo menyatakan, hasil utama yang dapat dicatat dari TSP II adalah tersusunnya Export Quality Infrastructure (EQI) Roadmap and Guidelines. Roadmap ini merupakan rencana pengembangan infrastruktur mutu ekspor menjadi world class EQI yang harus diwujudkan bersama-sama oleh kementerian dan lembaga, serta stakeholders terkait lainnya. “Dengan memiliki world class EQI, sertifikat mutu yang diterbitkan lembaga penilaian kesesuaian Indonesia akan selalu diterima (accepted) dan diakui (recognized) oleh notified bodies, dan tidak ada lagi penolakan dari negara tujuan ekspor. Dengan demikian akses produk ekspor Indonesia semakin mudah dan lancar,” lanjut Widodo. Laboratorium BPOM Sementara itu, laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sangat kompeten menguji keamanan produk pangan. BPOM juga berkomitmen melakukan berbagai upaya meningkatkan ekspor produk Indonesia. “Sejalan dengan hasil pengkajian tim pakar TSP II, beberapa laboratorium BPOM sudah strategis dan kompeten melaksanakan pengujian keamanan pangan, khususnya pengujian cemaran aflatoksin pada pala. Badan POM siap memfasilitasi pengujian pangan terutama pala untuk diekspor ke Uni Eropa,” tegas Kepala BPOM, Roy Sparringa. Selain itu, National Quality Assurance (NQA) sebagai bagian penerapan EQI Roadmap harus ditindaklanjuti dengan komitmen yang sama. Karena melibatkan berbagai sektor, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan menjadi motor penggerak, dengan BPOM dan Kemendag sebagai koordinator teknis, masing-masing untuk bidang pangan dan nonpangan. “Saya optimistis penerapan NQA akan meningkatkan mutu produk Indonesia, baik yang ditujukan untuk pasar domestik maupun ekspor,” lanjut Kepala BPOM. INATRIMS Standar mutu produk ekspor harus terus dibenahi. Konsumen kini memiliki kesadaran terhadap produk berkualitas yang diproduksi dengan memperhatikan kesehatan, keamanan, keselamatan, lingkungan, maupun sosial. Jumlahnya kini meningkat setiap tahun. Tuntutan terhadap produsen dan eksportir dalam meningkatkan kualitas produknya juga semakin tinggi.
TSP II merespons hal ini dengan membangun Indonesia Technical Requirement Information System (INATRIMS/inatrims.kemendag.go.id) yang berisi informasi standar dan persyaratan teknis negara tujuan ekspor. Informasi difokuskan pada 10 produk ekspor utama Indonesia, yaitu tekstil, elektronik, karet dan produk karet, sawit, hasil hutan, alas kaki, otomotif, udang, kakao, dan kopi; serta 10 produk ekspor potensial, yaitu kulit dan
produk kulit, peralatan medis, tanaman obat, makanan olahan, minyak atsiri, ikan, kerajinan, perhiasan, rempah-rempah, dan produk alat tulis nonkertas. Saat ini INATRIMS sudah mencakup informasi pasar Uni Eropa, Tiongkok, dan Korea Selatan, serta menyusul untuk Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan negara lainnya. TSP II difokuskan pada tujuh kementerian/lembaga terkait, yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan Standardisasi Nasional, dan Komite Akreditasi Nasional, serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pada Pameran Pencapaian dan Penutupan EU-Indonesia TSP II yang digelar pada 6-7 Oktober 2015 tersebut juga diisi paparan capaian TSP II oleh beneficiaries. Salah satu capaian yang ditampilkan adalah National Data Sharing System (DSS) yang dikelola Kementerian Kelautan dan Perikanan. DSS menyediakan data secara terpusat, konsisten, dan transparan untuk mencegah dan memerangi Illegal Unrepoted Unregulated (IUU) Fishing. Sistem ini mudah diakses otoritas kompeten terkait, di tingkat pusat maupun provinsi. Bangga Capaian TSP II Ambassador-designate Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guérend, menyatakan kebanggaannya pada capaian TSP II, terutama pada hal terkait EQI. Vincent bangga TSP II mampu mendukung prioritas kerja Pemerintah mengatasi beberapa hambatan perdagangan Indonesia-Uni Eropa. Misalnya di sektor perikanan, TSP II membantu penguatan DSS untuk implementasi sertifikasi ikan tangkap di 32 pelabuhan, sehingga dapat mengimbangi ketatnya regulasi Uni Eropa terkait IUU. Pengembangan sektor kelautan dan perikanan adalah salah satu prioritas utama Pemerintah. “Kisah sukses juga dapat dilihat pada komoditas pala Siau, Sulawesi Utara, dimana TSP II tak hanya mendukung sistem legal dan pengawasan kualitas pala, namun juga melaksanakan proyek percontohan pada tahap produksi dan penanganan pascapanen pala,” jelas Vincent. Beberapa kisah sukses keberhasilan TSP II lainnya juga dipamerkan dalam acara tersebut, yaitu mengenai:
1. EQI Roadmap and Guidelines for Strategic Improvement of Indonesian Export
2. National Quality Assurance to Enhance Export Quality Products
3. Strengthened Policy Framework Ensures Compliance with EU Requirements
4. Best Practices Lead to more Effective and more Efficient Accreditation at KAN
5. Improving Export Access through INATRIMS
6. Improved Nutmeg Quality for Better Acceptance in EU Market
7. Improved Quality of Cocoa Beans and It’s Derivatives Expands Access to EU Market
8. Strengthened Catch Certification System by Support of Data Sharing System
9. National Residue Monitoring Plan (NRMP) to Secure Access to EU Market for Fishery Products
10. Improved KIM LIPI Capabilities Guarantees International Trust